Lagu Cengeng VS Pemerintah

Advertisements
-betharia sonata hati yang luka 80 an  300x225  - Lagu Cengeng VS Pemerintah - betharia-sonata-hati-yang-luka-80-an--300x225
Foto: YouTube

INSPIRADATA. Era tahun 1980-an, lagu-lagu yang mendominasi blantika pop Indonesia adalah lagu yang mendayu-dayu, bertempo lambat dan cenderung berkesan “cengeng”. Nama-nama seperti Rinto Harahap, Pance Pondaang, A. Ryanto, dan Obbie Mesakh adalah para bintangnya pop yang cukup produktif di era itu.

Dapat dikatakan bahwa lagu-lagu yang dihasilkannya telah memasuki era baru yaitu patah hati. Penyanyi-penyanyi seperti Betharia Sonata, Ratih Purwasih, Iis Sugiarto, adalah spesialis dalam mendendangkan lagu-lagu patah hati.

Beberapa lagu sempat menjadi fenomenal,diantaranya lagu Gelas-Gelas Kaca dan Hati yang Luka yang dinanyikan oleh Nia Daniati dan Betharia Sonata. Lagu yang berjudul Aku Masih Seperti yang Dulu, yang dinyanyikan Dian Piesesha bahkan terjual hingga 2 juta kopi. Angka yang sangat fenomenal untuk ukuran kaset rekaman pada masa itu.

Tapi Lagu Hati yang Luka gubahan Obbie Mesakh mendapat reaksi dari pemerintah yang dianggapnya sebagai lagu cengeng. Setidaknya, Menteri Penerangan saat itu, yaitu Harmoko, melarang lagu itu diputar di TVRI dan RRI.

Dia menyebut lagu tersebut sebagai, “Ratapan patah semangat berselera rendah dan menghimbau agar lagu kelas krupuk dan cengeng seperti itu dihentikan penayangannya.” Menteri memang tidak menyebut judul lagu maupun menunjuk contoh acara pembuat patah semangat tersebut. Tapi melihat keretakan rumah tangga yang terkesan cengeng tampil dengan kuat dari lagi Obbie Messakh dengan Hati Yang Luka. Lagu ini sering muncul di TV yang dinyanyikan oleh berbagai penyanyi.

Kemudian disusul dengan lagu sejenis yang sejenis baik dalam bangunan musik maupun liriknya. Lagu bernada cengeng dituding oleh pemerintah melalui Deperteman Penerangan sebagai lagu yang melemahkan sekaligus mematahkan semangat dan tidak berjiwa pembangunan seperti yang didengung-dengungkan dalam jargon ekonomi pembangunan pada era orde baru. Pernyatannya itu dilontarkan oleh Pak Menteri pada ulang tahun TVRI yang membuat industri lagu pop Indonesia mengalami kegoncangan sementara.

Penciutan sementara siaran lagu yang masuk kategori cengeng menurut kriteria TVRI mungkin menyebabkan hadirnya lagu-lagu rock dengan lebih leluasa.

Pemerintah beranggapan ketika itu bagaimana kita bisa membangun Indonesia dengan jiwa dan semangat yang berapi-api bersikap tegar seperti karang, kalau setiap hari di telinga kita yang terdengar hanyalah nada-nada sumbang yang cengeng yang jelas-jelas bisa melemahkan semangat dan membuat kita lemah.

Ia pun mengingatkan, semangat kerja tidak tumbuh jika mata acara TVRI banyak diwarnai ratapan, keputusasaan, dan keretakan rumah tangga. “Dalam keadaan patah semangat dan cengeng, sulit mengajak orang untuk bekerja keras,” katanya.

Advertisements

Tapi tudingan itu justru kesannya menjadi ironis karena di saat yang bersamaan lagu-lagu itu menjadi laris bak kacang goreng pada masanya. Kontan saja musisi yang tidak mau dirinya dilabeli oleh kata cengeng, Rinto harahap mantan the Mercys berkomentar bahwa alasan penghentian penayangan karena selera rendah dan kecengengan sangat bertolak belakang dengan kenyataan dan sangat gegabah, dirinya pun sangat terkejut dengan lontarannya oleh Pak Menteri yang mantan wartawan itu.

Seakan tidak mau dituding sebagai biangnya lagu cengeng, Rinto pun beranggapan bahwa lagu dangdut juga ada yang cengeng seperti lagu Gubuk Derita yang berlirik soal penderitaan. “Sekarang kita berbicara dengan sesuatu yang tidak jelas, lagu cengeng itu difinisinya apa dan saya hanya menciptakan lagu sentimentil dan tidak cengeng” kata Rinto.

Senada dengann Rinto, Titik Hamzah juga menanyakan definisi cengeng itu apa, penulis lagu dan penyanyi ini bahkan rada masygul demi mendengar banyak istilah yang tak tepat untuk menilai lagu-lagu pop Indonesia itu. Agak sedikit berbeda dengan rekannya sesama musisi dalam menaggapi hal ini, Titik Puspa memang merasa sedikit jemu dengan menjamurnya lagu-lagu semacam itu. “Ini sudah terlalu banyak,” kata dia. Tapi dia beranggapan musik semacam ini hanyalah mode yang lewat sambil lalu saja yang nanti akan hilang dengan sendirinya.

Ada yang resah ada pula yang pasrah. Betharia Sonatha adalah salah satunya yang menurutnya apabila pelarangan itu baik dan masyarakat menganggap juga demikian, dirinya merasa tidak apa-apa. “Saya kan sekadar hanya membawakannya” katanya.

Berbeda dengan Almarhum Harry Roesli yang sedikit kritis menanggapi ini, seniman yang pernah tergabung dalam Harry Roely and his Gang ini berpendapat justru ia mertasa kuatir dengan pelarangan, walaupun tidak melarang orang lain mendengarkan, lantaran nantinya banyak yang membuat lagu dengan tema lain tapi tanpa pendalaman masalah. []

Sumber: https://katakelana.wordpress.com/2012/10/24/lagu-cengeng-vs-pemerintah/comment-page-1/

Advertisements