Bagaimana Sifat Malu yang Tercela?

maluINSPRADATA. Malu adalah sifat yang harus dimiliki oleh setiap Musim, karena ia adalah sebagian dari iman. Namun, ada sifat malu yang justru tercela dan tidak boleh dimiliki oleh setiap Muslim. Lantas, bagaimana sifat malu yang tercela?

Sifat malu yang tercela adalah sifat saat kita malu untuk bertanya guna mendalami suatu ilmu, terlebih ilmu agama.

Seperti dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

“Sebaik-baiknya wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidaklah menghalangi mereka untuk bertafaqquh, memahami agama ini.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mereka membutuhkan penjelasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mereka tidak malu untuk langsung bertanya, sebagaimana yang dilakukan oleh Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha.

Baca juga terkait Artikel ini: Malu Sebagian dari Iman

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau berkisah,

Ummu Sulaim datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika bermimpi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya, apabila ia melihat air (mani).” (Muttafaqun ‘alaihi)

Rasa malu yang dimiliki seseorang untuk mencari ilmu bukanlah sifat yang terpuji melainkan sifat yang tercela.

Dari Abu Waqid al-Harits bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu bahwasanya pada suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk dalam masjid beserta orang banyak. Lalu ada tiga orang yang datang.

Kedua orang itu berdiri di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun yang seorang, setelah ia melihat ada tempat yang lapang dalam majelis itu, lalu terus duduk di situ, sedang yang satu lagi duduk di belakang orang banyak, sedangkan orang ketiga terus menyingkir dan pergi.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai beliau bersabda,

“Tidakkah engkau semua suka kalau saya memberitahukan perihal tiga orang? Adapun yang seorang (yang melihat ada tempat lapang terus duduk di situ), maka ia menempatkan dirinya kepada Allah, kemudian Allah memberikan tempat padanya. Adapun yang lainnya (yang duduk di belakang orang banyak), ia adalah malu, maka Allah pun malu padanya, sedangkan yang seorang lagi (yang menyingkir dari majelis), ia memalingkan diri, maka Allah juga berpaling dari orang itu.” (Muttafaq ‘alaih). []

Sumber:: Shirotholmustaqim

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.