Kerokan, Ini Fakta Ilmiahnya

kerokan-hermajestyINSPIRADATA. Jika pada Juni (2016) lalu media diramaikan dengan kampanye kerokan yang digagas dalam rangka promosi sebuah game buatan anak Indonesia, Si Juki. Baru-baru ini, kampanye kerokan kembali terdengar di media sosial Facebook.  Gerakan “Ayo Kerokan” itu menyampaikan beberapa fakta seputar kerokan. Sebuah kebiasaan yang dilakukan orang Indonesia saat merasakan masuk angin.

Berikut ini fakta menarik tentang kerokan dalam gerakan “Ayo Kerokan”:

Prof. Didik Gunawan Tamtomo, Seorang guru besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas MAret (UNS) pada tahun 2003-2005 melakukan penelitian tentang manfaat kerokan.

390 orang  berusia 40 tahun ke atas yang menjadi responden dalam penelitian tersebut, 90%-nya menyatakan pernah kerokan ketika masuk angin. Kerokan saat masuk angin biasanya dilakukan dengan uang koin dan minyak angin sebagai pelicin. Bagaimana hasil penelitian ini?

  1. Masuk angin sebenarnya tidak dikenal dalam istilah kedokteran. ini adalah gejala yang merujuk pada perut kembung, kepala pusing, demam ringan dan nyeri.
  2. Selama ini ada anggapan bahwa kerokan akan mengakibatkan rusaknya kulit, melebarnya pori-pori hingga pecahnya pembuluh darah. Namun, penelitian yang dilakukan di laboatorium patologi anatomi UNS itu menunjukkan hasil sebaliknya.
  3. Pemeriksaan mikroskopik pada jaringan kulit epidermis menunjukkan adanya pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah menjadi lancar dan pasokan oksigen dalam darh pun demikian. kulit ari pun terlepas seperti halnya ketika luluran.
  4. Penelitian biomolekuler pada darah orang yang kerokan pun menunjukan adanya kenaikan  kadar endorfin yang terbaca sebagai perasaan nyaman, segar dan semangat, serta hilangnya rasa sakit.

Salah satu unsur dalam kerokan yang medukung keberhasilan pengobatan adalah hubungan emosional antara orang yang mengerok dan yang dikerok. Hubungan ini disebut sebagai unsur biopsikososial yang ternyata  sedang digalakan dalam dunia pengobatan modern saat ini.

Kerokan ternyata bukan hanya sekedar kebiasaan tapi juga sebuah kearifan lokal yang menyimpan manfaat yang telah dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian di atas.[]

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.