Pemerintah Kalimantan Selatan Kembangkan Cabai Terpedas di Indonesia

Advertisements
-bupati arifin panen cabai hiyung foto banjarmasin post 300x225  - Pemerintah Kalimantan Selatan Kembangkan Cabai Terpedas di Indonesia - bupati-arifin-panen-cabai-hiyung-foto-banjarmasin-post-300x225
foto: banjarmasin post

INSPIRADATA. Harga cabai sedang menjadi raja di pasar-pasar Indonesia. Komoditas yang menjadi kebutuhan memasak sehari-hari ini sekarang sulit dijangkau karena harganya melambung tinggi.

Berbicara mengenai cabai yang kini sedang naik daun dan jadi sorotan, Pemerintah Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, berhasil melihat celah kesempatan untuk mengembangkan varietas cabai lokal. Cabai bernama Hiyung tersebut memiliki tingkat kepedasan 17 kali lebih besar dibanding cabai rawit dan diyakini sebagai cabai terpedas di Indonesia.

Pengembangan tersebut berupa pembudidayaan cabai pada 200 hektar lahan dari total potensi pengembangan seluas tiga ribu hektar di tempat asal cabai tersebut, Desa Hiyung.

Bupati Tapin, Arifin Arpan, mengatakan cabai tersebut memiliki keunikan dibanding cabai lain di Indonesia. Rasa pedas dari cabai tersebut hanya ‘muncul’ bila ditanam di daerah Tapin.

Advertisements

“Saat cabai ditanam di tempat lain, rasanya jadi kurang pedas bahkan cenderung tidak pedas,” kata Arifin saat acara penanaman pohon di kawasan Ekowisata Bekantan, seperti dilansir dariAntara.

Keunikan tersebut menjadikan Hiyung sebagai komoditas unggulan daerah Tapin. Dan karena itu pula, cabai ini jadi incaran para pedagang baik dari dalam maupun luar daerah.

Tingginya permintaan membuat harga cabai tersebut melambung jadi Rp110 ribu per kilogram di tingkat petani, tiga kali lipat dibanding hari biasa.

Menurut pengujian pada cabai tersebut yang dipublikasikan oleh Badan Litbang Pertanian Kalsel, Hiyung memiliki tingkat kepedasan dari senyawa capcaisin hingga 94,5 ribu part per million atau ppm. Kandungan tersebut setara dengan 17 kali lipat lebih pedas dibanding cabai rawit.

Cabai Hiyung pertama kali ditanam oleh warga lokal, Subarjo, pada 1993 dengan membawa bibit dari gunung sebanyak 200. Namun, setelah ditaman, yang mampu tumbuh hanya 100 tanaman.

Menurut Subarjo, cabai jenis ini bukan hanya pedas melainkan juga memiliki daya simpan lebih lama dibanding cabai pada umumnya yaitu sepuluh hari pada suhu ruangan normal.

Subarjo juga mengatakan harga cabai saat pertama kali ditanam sebesar Rp1.500 per kilogram. Namun kini melonjak lebih dari 70 kali lipat dan mendorong penduduk setempat beramai-ramai alih profesi jadi petani cabai.[]

Advertisements