Perahu Pustaka, Karya Inovatif Anak Bangsa di Negara Maritim Indonesia

Advertisements
- Perahu Pustaka, Karya Inovatif Anak Bangsa di Negara Maritim Indonesia - perahu-pustaka-foto-wartakita-300x225
foto: wartakita

INSPIRADATA. Di Sulawesi Barat, ada perpustakaan terapung yang dikenal sebagai Perahu Pustaka. Orang lokal menyebutnya perpustakaan yang berjalan di sebuah perahu tradisional baqgo.

Muhammad Ridwan Alimuddin adalah sosok revolusioner yang berjasa dalam melahirkan perahu pustaka tersebut. Misinya sederhana, biar anak pelosok juga bisa membaca

Alasan dibuatnya ialah karena lebih dari 10% penduduk dewasa di Sulawesi Barat diketahui tidak bisa membaca. Sementara di banyak desa kawasan tersebut, satu-satunya buku yang tersedia adalah salinan Al-Quran.

Karena Sulawesi lebih banyak kepulauan, maka perpustakaan akan lebih berguna jika bisa bergerak di lautan dan berpindah dari satu pulau ke pulau lain. Dan karena transportasi laut ialah yang utama di sana, maka perpustakaan dalam perahu dirasa sebuah pilihan yang tepat untuk memperbaiki kualitas generasi masa kini.

Advertisements

Sejak akhir Agustus 2015, perahu ini sudah berlayar menyambangi pulau-pulau terpencil di Polewali Mandar. Lalu pada 23 April 2016, perpustakaan ini mulai misi besarnya menyeberangi 3 lautan

Perahu Pustaka ini diberi nama Pattingalloang, yang diambil dari Karaeng Pattingalloang yang merupakan tokoh intelektual dan seorang Perdana Menteri dari Kerajaan Gowa Tallo pada abad ke-17 silam.

Pada 23 April 2016 lalu, bertepatan dengan peringatan Hari Buku Internasional, perahu ini nekat berlayar melewati tiga perairan. Yaitu Selat Makassar, Laut Flores, dan Teluk Bone. Pelayaran ini sukses ditempuh selama 20 hari. Di pulau-pulau terpencil itu, Perahu Pustaka Pattingalloang berlabuh selama dua hingga tiga hari dan menggelar buku-buku bacaan di dermaga maupun di tepi pantai.

Setahun berjalan, Agustus 2016 lalu Ridwan Alimuddin kembali meluncurkan Perahu Pustaka kedua yang diberi nama Perahu Membacaku.

Sebelum menggalakkan Perahu Pustaka, sejatinya Ridwan Alimuddin telah membuat perpustakaan tetap di kampung halamannya yang terletak di Pambusuang, pesisir pantai Sulawesi Barat. Sudah ada ribuan buku yang menjadi magnet bagi banyak siswa SMA setempat dan bahkan mahasiswa.

Sepeda motor dan becak digunakan untuk mengirim buku melalui jalan darat, sementara ATV dan atau sepeda motor roda empat digunakan untuk menjangkau desa-desa pegunungan terpencil, beberapa diantaranya bahkan hanya bisa dicapai dengan menyeberangi sungai-sungai menggunakan rakit bambu.

Indonesia butuh banyak orang seperti Ridwan Alimuddin untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap dunia literasi di Indonesia.[]

Advertisements