Sebuah Surat dari Seorang Dokter di Aleppo

Advertisements
- Sebuah Surat dari Seorang Dokter di Aleppo - Dokter-di-Aleppo-300x225
Foto: Syrian Arab Red Crescent

INSPIRADATA. Aleppo, masih menangis. Hancur, porak poranda, digempur tentara rezim penguasa. Mereka membombardir siang malam, tak peduli siapa yang akan jadi korban.

Ribuan orang terlupakan. Trauma, cacat fisik, dan alami gangguan kejiwaan, jadi hal yang tak terbantahkan. Mereka menjadi sebatang kara. Menderita bersebab kedzaliman nya sendiri.

Rabu (7/12/2016), Komite Palang Merah Internasional (ICRC) bersama Bulan Sabit Merah mengevakuasi 148 warga sipil penyandang cacat dan yang membutuhkan perawatan darurat dari fasilitas yang kini dikuasai pemerintah Suriah.

Seorang dokter mengirimkan surat kepada BBC, menceritakan kengerian yang terjadi di tengah proses evakuasi.

Berikut isi surat dokter tersebut:

Bekerja sebagai dokter untuk International Committee of the Red Cross (ICRC), aku telah menyaksikan banyak hal di Suriah selama lima tahun terakhir. Namun, tak ada yang seperti ini.

Kami mencoba mencapai fasilitas itu hari sebelumnya, namun tak bisa mendapatkan jaminan keamanan yang dibutuhkan. Pertempuran berlangsung sengit. Tiga orang meninggal kala itu.

Saat ini kami mendapatkan izin ke bekas rumah jompo, yang menjadi tempat pengungsian untuk sekitar 150 orang, beberapa disabel, beberapa mengalami gangguan jiwa, dan sisanya adalah mereka yang putus asa yang tak punya tempat untuk pergi.

Kami, ICRC dan Syrian Arab Red Crescent (Bulan Sabit Merah Suriah), ada di sana untuk membawa mereka keluar dari Aleppo.

Hari sudah gelap saat kami berkendara di jalanan sempit di Kota Tua. Sebelum perang, itu adalah area yang berkembang dan ramai.

Kini, tempat itu seperti lautan puing. Aku tak lagi bisa mengenali jalanan, apalagi bangunan-bangunannya. Yang tersisa adalah kota hantu dari beton yang hancur lebur. Bak angkara murka telah menyapu apapun yang ada di sana,

Suara berondongan senjata terdengar sayup dari kejauhan. Namun, di sini senyap, tanpa suara, tak ada manusia. Mobil tak bisa mencapai lokasi yang dituju, kami harus berjalan kaki ke sana. ‘

Di tengah lanskap, berdiri dua bangunan yang babak belur. Satu untuk para pria, lainnya untuk kaum wanita.

Advertisements

Kami memasuki pekarangan. Sekelompok pasien duduk meringkuk mengelilingi api unggun. Dengan tubuh yang mengenakan pakaian seadanya, mereka mengigil. Banyak yang memasang wajah bingung. Mereka berdekatan satu sama lain, bahu mereka saling menempel, melihat sekeliling, berusaha meyakinkan satu sama lain.

Di sebuah sisi, ada sejumlah jasad manusia, mungkin sekitar 10 jumlahnya.

Aku mengenali seorang pria yang mengelola pusat tersebut. Kami menemukannya. Pria itu kehilangan seluruh keluarganya tiga hari sebelumnya: termasuk istri, putra, dan cucu laki-laki.

Awalnya, ia membawa semua keluarganya ke sini, mengira bahwa tak ada pihak manapun yang akan tega menyerang tempat ini.

Keluarganya kini terbaring kaku di antara jasad-jasad yang ada di pekarangan.

Saat kegelapan malam kian pekat dan suhu udara menurun drastis, kami harus cepat bergerak. Kami mengidentifikasi mereka yang paling membutuhkan.

Ketika sedang menjalankan tugas, seorang pria sepuh meninggal di depan kami. Ia kedinginan.

Tak ada obat-obatan. Tanpa pemanas. Tiada bahan bakar untuk memasak makanan.

Aku mengecek sejumlah bangunan terdekat, mengecek jika masih ada orang di sana. Namun, tak ada siapapun.

Yang kami temukan justru jasad manusia. Kami bisa melihatnya terjebak di antara puing bangunan. Tapi, tak ada yang bisa dilakukan.

Evakuasi sama sekali tak mudah. Beberapa dari mereka mengalami gangguan mental, mereka tak ingin pergi. Mereka bingung, tak berdaya, bahkan tak menyadari hidup di tengah zona perang.

Beberapa hidup di sana selama empat atau lima tahun. Tak tahu apapun. “Kami tak punya keluarga, kami tak punya tempat untuk pergi,” itu kata mereka. Beberapa memilih tinggal.

Lalu, tentara berdatangan. Mereka membawa enam anak kecil yang ditemukan di tengah puing, tersesat, dan tak berdaya.

Yang terbesar berusia 7 tahun, sementara termuda baru berusia 7 bulan. Mereka belum makan apa-apa selama dua hari.

Para bocah itu baru jadi yatim piatu. Baru beberapa hari lalu, orangtua mereka tewas dalam serangan bom. Mereka tak punya apapun, tak punya siapapun.

Ada 18 orang yang tak ingin pergi. Sebab, mereka tak tahu ke mana akan pergi.

Aku berharap kami bisa kembali untuk membawa sejumlah bantuan.

Ini adalah sebuah sisi lain dalam perang yang sungguh mengerikan.

Orang-orang itu harus membayar harga amat mahal untuk perang yang sama sekali tak mereka kobarkan. Mereka tak memilih untuk terlibat dalam pertempuran ini.

Mereka adalah yang paling tak berdaya di antara kelompok yang rentan. Tak ada satu pun pihak yang melindungi mereka.

Ini bukan soal siapa yang benar dan salah. Siapa menang atau kalah. Ini tentang orang-orang: darah, daging, mereka adalah manusia. Berdarah, sekarat, dipaksa jadi yatim piatu, itu yang terjadi setiap hari.

Aku merasa sangat sedih saat ini. Tolong, harus ada batasan dalam perang ini.

Advertisements