Foto: Robin Wyatt Vision

Seorang Ibu, Sampai Akhir Perjuangannya

Foto: Robin Wyatt Vision

INSPIRADATA. Aku datang, ibu menerima dengan tangan terbuka. Kian hari kian dekat. Ibu adalah ibu, meski secara lahiriah ibu bukan ibu kandungku.

Ibu, dalam kedekatan bersamamu, aku tahu ibu adalah seorang ibu yang kesepian. Beranak banyak tapi tak satupun yang memilih tinggal bersamamu. Ibu, dalam setiap ceritamu, ibu selalu menyisipkan harapan bahwa ibu bisa merasa lebih semarak dengan kehadiranku.

Ibu, luar biasa ibu. Tak pernah mengeluh dengan keadaan. Tak pernah meminta hak ibu, untuk membuat anak ibu pulang. Padahal aku tahu, dari lubuk hati ibu yang paling dalam ibu butuh mereka.

“Menikahlah dengan orang yang bisa bertanggung jawab terhadapmu, membawamu menjadi lebih baik, jangan mengecewakan orang tuamu yang telah berusaha bertanggung jawab dengan membahagiakanmu,” ibu meratap nasib seorang anak ibu.

“Turuti suamimu, suami adalah imammu. Tinggalah bersama suamimu tinggal, jangan membawa suamimu untuk meninggalkan ibunya,” ibu meratap kesepian ibu.

“Jadilah menantu yang baik, yang ketika melihatmu, mertuamu tenang karena menantunya bisa menjaga anaknya dan rumahnya,” kata ibu seolah aku sudah akan menikah besok saja.

“Tapi jangan juga karena suamimu, kamu jadi enggan berkunjung ke rumah ibumu,” lanjut ibu penuh kesedihan.

Ibu, ibu adalah ibu yang luar biasa. Aku belajar banyak darimu. Belajar menyayangi, belajar mengasihi, juga belajar ikhlas jika kita tak mendapatkan apa yang kita inginkan.

Ibu, dari tatapan matamu. Ketegaran selalu terpancar. Semagat hidup ibu selalu terpatri. Bahkan, tak perduli berapa banyak obat yang harus ibu konsumsi, berapa kali dalam sehari jarum suntik harus menghujam kulit-kulit ibu.

Beberapa kali anakmu membuat kesalahan. Ibu selalu jadi orang pertama yang bereaksi untuk menjaga mereka. Bahkan, ketika kesalahan itu telah membuat hati ibu ngilu. Menghujam pikiran ibu. Tapi ibu selalu meyakinkanku. Bagaimanapun itu adalah anak ibu.

Ibu tak pernah menyerah. Ibu tak pernah mau kalah dengan keadaan. Ibu selalu kuat dan luar biasa. Bahkan ketika sesekali aku menemukan ibu kesakitan menyentuh dada ibu.

Hingga akhirnya, saat itu tiba. Ketika darah tak lagi bisa diambil dari tubuhmu ibu, ketika oksigen telah terpasang di wajahmu ibu dan ketika selang-selang itu menempel di beberapa bagian tubuhmu, ibu masih tetap terlihat tegar. Hanya saja saat itu ibu tak berbicara, mungkin ibu lelah meratap saat itu.

Anak-anakmu masih belum lengkap berada di samping ibu. Mereka lebih memilih pekerjaannya daripada ibu. Sungguh, aku kesal sekesal-kesalnya saat itu. Bahkan di saat kondisi terlemah dalam diri ibu.

Tapi ibu selalu mengerti. Ibu mencoba ikhlas. Ibu adalah ibu, yang selalu mengerti bagaimana keadaan anaknya saat ini. Bahkan hingga akhir perjuangan ibu. Hingga akhir hembusan napas ibu. []


Artikel Terkait :

About Saefullah DS

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *