Foto: Friends of the River

2 Ketentuan Jika Mau Lakukan Azl

INSPIRADATA. Salah satu yang terus menjadi perbincangan dalam hubungan suami istri adalah azl (atau mengeluarkan air mani di luar kemaluan istri). Menjadi perbincangan terus-menerus karena ada beberapa pendapat yang berbeda dari para ulama dengan fatwa-fatwanya.

Pengertian azl

Pengertian azl sendiri secara bahasa menurut Ibnu Mandzur adalah A’zlu Asy-Syai’u artinya, “Menyingkirkan sesuatu kesamping, maka ia menjadi tersingkir.” Atau Az’lu Anil Mar’ah berarti “Ia tidak menginginkan anak darinya.”

Adapun secara Syar’i, azl menurut Ibnu Qudamah adalah: “seorang laki-laki mencabut kemaluannya dari farji istrinya, ketika telah dekat keluarnya mani (ejakulasi), kemudian ia mengeluarkan maninya di luar farji istrinya.” Imam An-Nawawi berkata : “Azl adalah seorang laki-laki meyetubuhi istrinya, dan apabila air mani (telah dekat) untuk keluar (ejakulasi), maka ia mencabut kemaluannya dari farji istrinya, dan menumpahkan maninya di luar rahim.”

 

Pendapat para ulama tentang hukum Azl

Imam Al-Baghawi berkata : “Para Ahlul Ilmi berbeda pendapat tentang makruhnya hukum Azl, dimana dibolehkannya seseorang melakukan Azl oleh lebih dari seorang Shahabat maupun para Tabi’in.” Jabir bin Abdullah berkata : “Kami melakukan Azl, padahal ayat Al-Qur’an masih turun.” Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan, bahwa Jabir berkata : “Andaikan Azl itu dilarang, tentulah ada ayat Al-Qur’an yang turun untuk melarangnya”. Begitu pula Zaid bin Tsabit membolehkan seseorang melakukan Azl. Dan diriwayatkan dari Abu Ayyub, Saad bin Abi Waqqas, dan Ibnu Abbas bahwa mereka melakukan Azl.

Namun sabahagian Shahabat dan Tabi’in, membenci perbuatan Azl tersebut, pernah ditanya tentang dimana telah diriwayatkan bahwasanya Rosulullah Azl, maka beliau bersabda: “Ia adalah pembunuhan tersembunyi.”

Imam An-Nawawi menyebutkan sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Said Al-Khudry, ia berkata : “Azl disebut-sebut disisi Rosulullah maka belia bersabda : “Apa yang terjadi dengan kalian?” Maka para Shahabat menjawab: Ada seorang laki-laki memiliki istri yang sedang menyusui,lalu ia menyetubuhinya, dan ia tidak ingin istrinya hamil dari persetubuhan tersebut, maka Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak apa-apa kalian untuk melakukannya, karena ia adalah merupakan urusan taqdir”.

Lalu Imam An-Nawawi berkata: “Dalam hadits ini menunjukkan bahwa sebab dilakukannya Azl  adalah tidak menginginkan lahirnya seorang anak dari istri yang sedang hamil, karena membahayakan anak yang disusui.”

Maka jika maksud melakukan Azl tersebut adalah karena takut lahirnya seorang anak, maka hal itu tidak ada manfaatnya, karena bila Allah telah mentaqdirkan penciptaan anak tersebut, maka sekali-kali Azl tersebut tidak akan mampu menghalanginya. Bisa jadi air mani tersebut telah masuk tanpa disadari oleh orang yang melakukan Azl tersebut, lalu ia menjadi segumpal darah, kemudian ia menjadi seorang anak, dan tidak ada yang bisa menolak apa-apa yang telah ditaqdirkan oleh Allah.

Ibnu Abdill Barr berkata: “Tidak ada khilaf dikalangan ulama bahwasanya tidaklah Azl dilakukan terhadap istri yang merdeka melainkan seizin darinya, karena jima’ adalah haknya dan baginya apa yang dihasilkan dari jima’ tersebut”. Namun di kalangan Syafi’iyyah terjadi perbadaan yang sangat masyhur. Al-Ghozali berkata: “Dibolehkannya Azl”, dan yang lainnya berkata : “Jika istri tidak menginginkannya, maka hal itu (Azl) tidak boleh dilakukan, adapun bila ia ridho, maka ada dua pendapat, dan pendapat yang rojih adalah yang membolehkannya.”

Kesimpulan

Imam An-Nawawi berkata: “Melakukan Azl diluar farj ketika bersetubuh adalah makruh, berdasarkan hadits yang bersumber dari Judzamah binti Wahb : “itu adalah pembunuhan tersembunyi”.

Ibnu Qudamah berkata: “Adapun ‘Azl maka hukumnya adalah makruh, maksudnya yaitu seseorang mencabut kemaluannya dari farji istrinya ketika telah dekat keluar air mani, lalu ia mengeluarkannya di luar farji istrinya. Wallahu A’lam Bishshowab. []


Artikel Terkait :

About Saefullah DS

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *