akibat shubuh kesiangan
Foto: Balkan Countries

3 Cara agar Raih Limpahan Pahala di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan yang agung sebentar lagi akan tiba, siapkah kita menyambutnya dengan sebaik-baiknya? Karena bisa jadi inilah Ramadhan terakhir yang akan kita lalui sebelum kembali kepada Allah Azza Wa Jalla.

Betapa banyak orang-orang di sekitar kita yang pada tahun kemarin masih berpuasa bersama kita, melakukan shalat tarawih dan idul fitri di samping kita. Namun ternyata siapa yang tahu jika sekarang mereka telah berbaring di peristirahatan terakhirnya di dalam tanah.

Dalam dua buah hadits, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kondisi dua golongan yang saling bertolak belakang saat mereka sedang berpuasa dan melewati bulan Ramadhan:

Golongan pertama digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan dosanya yang telah lalu akan diampuni,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Golongan kedua digambarkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش

“Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah), al-Hakim dan dia menshahihkannya. Al-Albani berkata: “Hasan Shahih.”

Lalu akan termasuk golongan manakah kita? Pastinya hal itu tergantung pada usaha kita dan taufik dari Allah ta’ala.

Ada beberapa kiat bagi kita agar bisa mengarungi bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Hal ini agar setiap Muslim tidak menyiakan limpahan pahala di bulan yang agung ini, dan supaya kita juga turut merasakan nikmatnya bulan Ramadhan. Berikut penjelasannya yang dikutip dari Muslim.or.id:

[bs_smart_list_pack_start][/bs_smart_list_pack_start]

1. Bertawakal kepada Allah Ta’ala

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Dalam menyambut kedatangan musim-musim ibadah, seorang hamba sangat membutuhkan bimbingan, bantuan dan taufik dari Allah ta’ala. Cara meraih itu semua adalah dengan bertawakal kepada-Nya.”

Salah satu teladan dari ulama salaf -sebagaimana yang dikisahkan Mu’alla bin al-Fadhl- bahwa mereka berdoa kepada Allah dan memohon pada-Nya sejak enam bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan. Mereka berdoa agar dapat menjumpai bulan mulia ini dan memudahkan mereka untuk beribadah di dalamnya. Sikap ini merupakan salah satu perwujudan tawakal kepada Allah.

2. Bertaubat Sebelum Ramadhan Tiba

Banyak sekali dalil yang memerintahkan seorang Muslim untuk bertaubat. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,” (QS. At Tahrim: 8).

Seorang Muslim diperintahkan untuk senantiasa melakukan taubat kepada Allah, karena tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak memiliki dosa. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

كل بنى آدم خطاء وخير الخطائين التوابون

Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat,” (HR. Tirmidzi dan dihasankan isnadnya oleh Syaikh Salim Al Hilal).

3. Membentengi Puasa Kita dari Faktor-Faktor yang Mengurangi Keutuhan Pahalanya

Salah satu kiat yang harus mendapatkan porsi perhatian lebih adalah bagaimana supaya kita berusaha membentengi puasa kita dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya sendiri. Seperti perbuatan menggunjing dan berdusta. Dua penyakit ini berkategori bahaya tinggi, dan sedikit sekali orang yang selamat dari ancamannya.

[bs_smart_list_pack_end][/bs_smart_list_pack_end]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

“Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, maka niscaya Allah tidak akan membutuhkan penahanan dirinya dari makanan dan minuman (tidak membutuhkan puasanya),” (HR. Bukhari). []


Artikel Terkait :

About Yudi

Check Also

ibadah hari raya idul adha

Fikih seputar Lebaran, dari Malam Takbiran hingga Shalat Ied

Fikih Lebaran di sini maksudnya adalah sejumlah hukum syara’ yang terkait dengan hari raya Idul Fitri, baik sebelum, pada saat, maupun sesudah shalat Idul Fitri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *