Belajar Menjaga Perasaan, dari Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib

237

menikah cinta-  - Belajar Menjaga Perasaan, dari Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib -INSPIRADATA. Rasa cinta yang ada di dalam setiap diri manusia adalah anugrah yang Allah SWT berikan untuk setiap yang bernyawa.

Jangankan pada manusia, jika kita melihat seorang induk singa yang buas saja takkan mungkin memakan anaknya. Sang induk akan berusaha menjaga anaknya. Apalagi manusia yang dibekali hati dan akal.

Lalu bagaimana dengan perasaan cinta itu sendiri?

Mari kita mulai dengan salah satu kisah cinta yang diabadikan sejarah dunia, yang menggugah setiap hati, agar menjaga dari apa yang Allah SWT haramkan, dan menjaga setiap kesucian lahir dan batin. Merekalah Fatimah Azzahradan Ali Bin Abi Thalib.

Dua pasangan ini mengajarkan kita tentang bagaimana menjaga perasaan dengan cara yang baik. Mengutamakan ketaatan kepada Allah diatas segalanya, termasuk perasaan terhadap sesema manusia yang kian berkecamuk dalam dadanya. Namun sayang, fenomenanya saat ini. Sudah jarang sekali muda-mudi yang memiliki rasa malu seperti Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib. Sudah terlalu sering kita menyaksikan mereka yang dengan mudahnya mengumbar kemesraan haram di depan umum ataupun secara sembunyi-sembunyi.

Tahukah sahabat, jika seorang Ali pernah menyembunyikan dan menutup rapat-rapat perasaan yang ia miliki kepada seorang gadis mulia, Fatimah Azzahra, putri Baginda Rasulullah SAW yang juga adalah teman karib Ali sejak kecil.
Ali menyimpan rasa kagum pada putri Rasulullah karena ia melihat Fatimah adalah sosok wanita yang mengagumkan. Fatimah tak hanya memiliki paras yang cantik, tetapi juga memiliki akhlak yang baik. Kesalehan dan rasa bakti yang tinggi kepada Rasulullah. Semua itu benar-benar mampu memesona Ali.

Suatu ketika, Rasulullah menghampiri Fatimah dengan luka yang memercik darah dan kepala yang dilumuri isi perut unta. Fatimah geram, ia bersihkan luka-luka itu dengan hati yang teriris. Setelah ia mengetahui bahwa itu adalah perbuatan kaum Quraisy, ia tak lantas takut, tetapi dengan berani ia pergi menuju Kabah dan menghardik para kaum Quraisy. Ini adalah bentuk keberanian yang ada dalam diri Fatimah yang membuat Ali bin Abi Thalib kagum.

Namun dalam kisah ini dikisahkan jika Ali sendiri tidak menyadari dan mengetahui jika perasaan itulah yang dinamakan Cinta…

Ketika itu Ali hanya seorang pemuda biasa yang hanya memiliki harta baju besi yang sedang ia gadaikan. Ia mencintai Fatimah, namun dirinya merasa tidak pantas jika harus mendatangi Rasulullah untuk menikahi Fatimah tanpa kemapanan harta yang cukup. Dalam perjalanan ikhtiarnya memantaskan diri untuk Fatimah, selalu saja ada cerita yang ia dengar dan hampir mematahkan semangatnya. Seperti ketika ia mendengar cerita Abu Bakar dengan kesalihan dan kemapanan yang dimilikinya mendatangi Rasulullah bermaksud untuk menjadikan Fatimah sebagai Istrinya. Mendengar itu Ali kecewa namun dia lebih mendahulukan kebahagiaan Fatimah dibandingkan dirinya, ia berusaha menata hati untuk mengikhlaskan. Karena dia yakin Fatimah akan lebih bahagia dengan Abu Bakar jika dibandingkan dengan dirinya yang tidak punya apa-apa. Namun kemudian Rasulullah tidak menerima lamaran Abu Bakar, dengan alasan Fatimah masih terlalu muda. Begitupun dengan Umar dan Utsman, kedua sahabat Ali yang juga tidak kalah salih dan kaya itu pun ditolak oleh Rasulullah. Betapa kejadian itu kian menimbulkan keresahannya timbul tenggelam.

Suatu hari datanglah Ali menemui Rasulullah dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Ia memberanikan diri menghadap rasulullah dan menyampaikan maksud hatinya untuk meminta Fatimah menjadi istrinya, singkat cerita, Rasulullah menerimanya.
Lalu keromantisan Fatimah dan Ali berlanjut terus hingga mereka menjadi pasangan suami dan istri. Suatu hari pernah Fatimah Az Zahra mengatakan sesuatu tanpa disengaja dan perkataan itu membuat hati Ali terusik. Menyadari bahwa ia bersalah, Fatimah segera meminta maaf berulang-ulang kali kepada Ali.

Melihat wajah Ali tak juga berubah, maka Fatimah Az-Zahra berlalri-lari kecil di sekitar Ali. Sebanyak 7 kali ia ‘tawaf’ sambil merayu-rayu mohon untuk dimaafkan. Melihat tingkah Fatimah di hadapannya, Ali tak dapat menahan senyum. Kemudian ia tersenyum dan memaafkan kesalahan isterinya. Selain memiliki sifat yang romantis terhdap suami, ia juga anak yang memiliki sisi romantisme terhadap ayahnya. Mendengar kejadian itu, Rasulullah berkata pada putrinya. “Wahai Fatimah, kalaulah dikala itu engkau mati sedangkan suamimu tidak memaafkanmu, niscaya aku tidak akan menyolatkan jenazahmu.”

Dalam hal ini, Rasulullah sedang mengajarkan pada putrinya (juga pada kita para isteri salihah) tentang bagaimana kedudukan seorang suami sebagai di keluarga. Agar para isteri mampu menghargai suaminya dan mau menjaga perasaan suami. Kepatuhan seorang Fatimah juga ia lakukan karena Ali adalah suami yang memang pantas untuk diapatuhi dan dituruti kata-katanya. Hadits dianjurkannya seorang istri patuh kepada suami ada pula dalam hadits berikut. “Wanita mana saja yang meninggal dunia, kemudian suaminya merasa ridho terhadapnya, maka ia akan masuk surga.” (HR Ibnu Majah, dan dihasankan oleh Imam Tarmidzi).

Hadits lainnya juga dikatakan. “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya).

Dalam kisah di atas juga bisa kita simpulkan jika seorang Ali mencintai Fatimah karena kecintaan dan ketaatannya kepada Rasulullah SAW. Mencintai Rasulullah berarti kita mencintai Allah SWT.
Itulah secarik kisah Fatimah dan Ali yang sedikit diutarakan, namun banyak makna yang bisa kita serap dalam diri.
Begitu indah cinta yang dilandasi penjagaan karena-Nya. Tidak menyakiti dan saling menjaga.

Bila kita masih ada di posisi sulit untuk mengahalalkan perasaan, maka berPuasalah sebagaimana hadist:

Abdullah Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata: Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berPuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” [Muttafaq Alaihi]

Sumber: Abiummi.com

 

(Visited 283 times, 1 visits today)
loading...
loading...