Unik, Informatif , Inspiratif

Inspirasi dari Anak Disleksia

0

insipasi-ibuINSPIRADATA. Inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari seorang anak kecil sekalipun. Inilah yang dialami oleh Amalia Prabowo, seorang ibu yang sukses mengantarkan buah hatinya meraih prestasi di bidang seni.

Aqil Prabowo, putra Amalia Prabowo merupakan pelukis muda  yang penuh imajinasi dan memiliki kecintaan besar terhadap seni lukis. Namun  remaja berusia 11 tahun ini mengalami kesulitan membaca dan menulis sejak kecil. Ketika berusia enam tahun, Aqil positif didiagnosa mengalami disleksia.

Disleksia adalah gangguan perkembangan untuk membaca.  Penderitanya mengalami gangguan untuk mengenal huruf, simbol, angka dan bentuk grafis lainnya. Meski demikian, Aqil mendapatkan berbagai terapi untuk membantunya. Melalui terapi-terapinya Aqil menemukan inspirasi untuk menyampaikan pesan pada kawan-kawannya lewat lukisan. Dan, tanpa disadari Ia telah menjadi seseorang yang inspiratif.

“Terapi-terapi yang didapatkan Aqil bersifat menyenangkan, dari menggambar pola, jalan kaki, menyiram bunga, dan mencuci sepeda,” ujar Amalia Prabowo, Ibunda Aqil Prabowo, kepada CNN Student, di Serpong, beberapa waktu lalu.

Aqil juga melakukan terapi dengan hiking atau naik gunung. Dari situ ia mulai menemukan inspirasi untuk mulai mengubah pola gambarnya. Aqil mulai menggambar benda-benda hidup, seperti pohon, jamur, dan bunga yang dibuat menjadi pola pada gambar-gambarnya. Tidak hanya itu, dengan terapinya ia memiliki empati terhadap lingkungan terutama dengan tambahan pengetahuannya tentang penggundulan hutan dan kerusakan lingkungan.

“Dengan gambar-gambar yang dihasilkan, Aqil ingin menyampaikan kepada teman-temannya untuk mencintai hutan dan agar lebih banyak beraktivitas di alam,” tambah Amalia, “Dengan ia sering berjalan-jalan ke hutan, Aqil menjadi lebih berempati ke banyak hal. Ia tidak manja, tidak kekanak-kanakan.”

Selain itu Aqil juga memiliki daya imajinasi yang sangat tinggi, Amalia mengaku ia sering mengalami kejadian-kejadian unik saat berjalan di alam dengan anaknya. Aqil pernah tiba-tiba berhenti dan bilang kalau sepatunya ingin berbicara dengan jamur. Lalu pernah juga kita berhenti untuk menunggu bunga mengucapkan salam perpisahan kepada kami.

Alam yang terbuka dan luas dengan cahaya dan sinar matahari dan udara segar adalah suasana yang baru untuk anak seperti Aqil yang tumbuh dan menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang kota yang tertutup dan monoton.

“Karena Aqil membuat saya menyelami imajinasi anak-anak, saya justru jadi lebih menghormati banyak hal,” tambah amalia. Perjalanan Amalia mendampingi Aqil menjalani terapi justru membuka mata Ibu 2 anak ini bahwa anak-anak disleksia juga bisa berprestasi. Amalia berpesan, bahwa dalam keterbatasan hidup tetap bisa berwarna dan bermakna, jangan takut dan tetap berdoa.[]


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Kamu Sedang Offline