norman kamaru
foto: kapanlagi.com

Belajar dari Lika-Liku Hidup Norman Kamaru

INSPIRADATA. Norman Kamaru, sosok yang pernah mengisi hari-hari masyarakat Indonesia dengan tarikan kareografi ala India dalam lypsing ‘Chaiyya Chaiyya’ yang fenomenal itu, namanya seolah tergilas perputaran roda nasib. Dia pernah menjadi sosok yang dikenal dan dipuji banyak orang, namun kini entah bagaimana kabarnya.

Setelah fenomena Norman melanda Indonesia pada tahun 2010, kabar yang beredar luas di masyarakat Briptu di Brimob Polda Gorontalo ini kemudian menyatakan mundur sebagai polisi pada tahun 2011. Ia sempat mencoba peruntungan sebagai seorang selebriti. Namun, hanya sekejap. Karier keartisannya meredup begitu saja seiring berubahnya selera penggemar.

Tidak lama kemudian ia diberitakan membuka usaha Bubur Manado bersama istrinya di kawasan Kalibata City, Jakarta Selatan. Hidup terus berjalan, tiba-tiba terdengar kabar ia mengalami kebangkrutan bahkan sempat santer pemberitaan rumah tangganya mulai bermasalah, bahkan sudah berada di ambang pintu pengadilan. Daisy Pandong, istrinya sempat menggelar konferensi pers terkait issue tersebut.

Jalan hidup memang sulit ditebak. Banyak pelajaran  yang dapat kita petik dari kehidupan seorang Norman Kamaru.

“Saya pernah ngamen di lampu merah Kalibata dari sekitar setengah tujuh pagi sampai jam 12 siang. Penghasilan memang nggak banyak. Beberapa jam waktu itu cuma dapat Rp 12 ribu. Selain ngamen saya juga pernah kerja serabutan.” Ungkap Norman terus terang.

Nyaris hancur di Jakarta, Norman dan istri memutuskan pulang kampung dan berkomitmen untuk memperbaiki diri, memperbaiki rumah tangga. Ia mengabaikan pandangan miring siapapun dan berterima kasih kepada yang mendoakan kebaikannya. Pengalaman hidup yang pahit, dari seorang selebriti yang dielu-elukan di setiap kesempatan hingga mengamen di jalanan telah ia dilewati.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Norman kini rajin iktikaf dari masjid ke masjid. Mengenakan jubah, berpeci dan sedikit mulai merawat jenggot. Dalam sebuah grup WA Jemaah yang sedang menemani Norman di masjid, terkirim foto ia sedang berada di depan Jemaah membacakan kitab ‘Fadhailul Amal’, yang berisi tentang keutamaan amalan-amalan sehari-hari berdasarkan contoh 1 x 24 kehidupan Nabi.

Hijrahnya Norman Kamaru bermula di awal tahun 2016 ini ketika ia berjumpa dengan serombongan Jemaah yang sedang iktikaf di masjid di kampung halamannya. Ia pun mengikuti program iktikaf, mulai dari shalat berjamaah lima kali sehari tanpa putus, ‘qiyamullail’ atau bangun sebelum subuh untuk tahajud, shalat dluha, tilawah dan kajian tentang sunah-sunah Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika itulah ia mendapatkan tambahan kekuatan dan mulai dapat memandang semua hal dalam hidup ini dari perspektif ‘ilahiah’.  “Semua hal tidak ada yang lepas dari kehendak Allah. Yang paling penting sekarang adalah kami memperbaiki diri, memperbaiki cara hidup yang sesuai dengan ajaran Nabi agar mendapatkan keberkahan hidup,”ujarnya.

Demikianlah, perjalanan hidup siapa pun pasti bermuara ke arah tertentu dan setelah menjalani hempasan bertubi-tubi, Norman Kamaru dan keluarga kini hidup bersahaja tidak sebagai selebriti tetapi belajar menjadi seorang da’i.[]


Artikel Terkait :

About Susanti

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *