Inspirasi dan Data

Menara Kuala Lumpur, Ternyata Hasil Karya Anak Indonesia?

0 465

menara-kuala-lumpur -  - Menara Kuala Lumpur, Ternyata Hasil Karya Anak Indonesia? -INSPIRADATA. Malaysia dengan Menara Kuala Lumpur-nya yang merupakan salah satu dari empat menara tertinggi di dunia. Menara tersebut di desain antigempa dan angin topan. Untuk membuat Menara Kuala Lumpur, Malaysia menghabiskan uang tidak kurang dari Rp. 267,5 Miliar.

Menara Kuala Lumpur telah diusung menjadi kebanggaan Malaysia. Puncaknya yang memiliki ketinggian 421 meter itu seolah menusuk langit. Menara ini dibangun sejak 1994 dan diresmikan oleh PM Dr. Mahatir Mohamad pada September 1996.

Namun, tahukah Anda di balik kehebatan dan kemewahan Menara Kuala Lumpur tersebut, siapa yang menyangka bahwa negara mewah di negeri jiran itu adalah buah karya anak bangsa Indonesia?

Oleh karenanyalah kita pun patut bangga dengan menara yang merupakan menara keempat tertinggi dunia setelah Menara CN (Kanada,553 m), menara Ostankino (Rusia, 573 m), dan Menara Shanghai (Cina, 460 m). Karena, bagaimanapun juga yang menjadi desain rancangan menara tersebut adalah Ir. Achmad Moerdijat, putra bangsa Indonesia yang merupakan lulusan dari Institut Teknologi Bandung yang sudah lama bermukim di Malaysia.

Jika dibandingkan dengan Monas yang merupakan monumen kebanggaan bangsa Indonesia dengan ketinggian mencapai 132 meter, Menara Kuala Lumpur ini memiliki beberapa keunikan.

Pertama, konstruksi bangunan Menara Kuala Lumpur ini dirancang seperti pohon yang lentur. Maka saat terjadi gempa atau angin topan, menara ini akan bergoyang lentur mengikuti arah tiupan angin maupun goyangan gempa hingga sejauh 1,5 meter di bagian puncaknya.

Kedua, pada saat gejala alam terjadi konon orang-orang yang berada di dalam menara tersebut tidak akan merasakan gerakan apapun meskipun saat menara tersebut condong atau bergoyang-goyang. Mungkin ini dikarenakan pondasi Menara KL yang dibuat hingga kedalaman 117 meter yang membutuhkan semen sekitar 7.100 m3 yang dituangkan terus-menerus selama dua minggu.

Menara KL tersebut digarap oleh kontraktor asal Jerman yang karya-karyanya telah terkenal sejak 1875. Dengan bobot mati 100.000 ton, Menara Kl ini merupakan adikarya ke-11 perusahaan kontraktor tersebut. Pada dasarnya, menara tersebut terdiri dari tiga bagian utama yaitu pondasi, badan, dan kepala menara dengan luas lantai 7.700 m2. Menara tersebut terdiri dari tujuh tingkat yang memiliki fungsi berbeda-beda.

Batu marmer yang dipesan khusus menjadi bahan untuk pintu utama menara tersebut. Sehingga, mirip dengan pemandangan luar Taj Mahal di India. Beberapa tempat di sekeliling menara dipasang kaca berkimia yang berfungsi untuk mencegah masuknya polusi udara agar tidak masuk ke dalam menara. Kemungkinan lainnya agar mencegah masuknya debu atau asap yang mungkin datang akibat kebakaran hutan di Indonesia yang sudah sering terjadi.

Bentuk puncak menara tersebut menyerupai bentuk nenas. Konon, hal tersebut terinspirasi dari nama kawasan Bukit Nenas yang menjadi tempat didirikannya menara tersebut. Bagian luar dan dalam puncak menara tersebut diberikan ukiran-ukiran bercorak islami yang dibuat oleh para seniman Timur Tengah. menara tersebut dikelilingi oleh dua belas lampu yang masing-masing berharga RM 1.500. Lampu-lampu tersebut menyala selama 24 jam sehingga memberikan keindahan tersendiri khususnya pada malam hari.

Ir. Achmad Moerdijat pernah mengatakan pada harian Kompas, 4 September 1995: “Saya bangga menjadi bangsa Indonesia. karenanya, walaupun saya sudah 14 tahun tinggal dan bekerja di Malaysia, kewarganegaraan saya masih tetap Indonesia. Saya tidak mau mengubahnya.” []

loading...
loading...
Comments
Loading...