Unik, Informatif , Inspiratif

5 Fakta Nenek yang Viral Selamatkan Cucu saat Banjir Gowa

0

Pada bencana longsor di sejumlah titik yang memicu dibukanya pintu air bendungan Bili-bili yang mengakibatkan air sungai Jeneberang meluap.

Meluapnya sungai Jeneberang menenggelamkan sejumlah pemukiman penduduk di Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros, Kota Makassar, Kabupaten Takalar dan Kabupaten Jeneponto pada Selasa, (22/1/2019) lalu,

Bencana banjir ini telah menelan puluhan korban jiwa. Di Kabupaten Gowa sendiri total korban jiwa akibat bencana ini telah mencapai 46 korban.

Pada insiden itu, terjadi juga drama penyelamatan cucu oleh seorang nenenk yang menjadi viral di media. Nenek yang viral saat menyelamatkan cucunya dari derasnya arus banjir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan cara berpegang pada pohon meski akhirnya meninggal dunia tetap dikenang sebagai nenek dan orangtua yang tangguh dalam menjalani hidup.

BACA JUGA: Benarkah Orang Tua di Eropa Hidup Lebih Lama?

Di mata keluarga, ia adalah orangtua tunggal selama puluhan tahun membesarkan anak-anaknya meski harus banting tulang hingga dua anaknya berhasil menjadi dokter.

Berikut sejumlah fakta nenek yang viral menyelamatkan cucunya saat banjir bandang melanda Gowa, berdasarkan keterangan anak dan menantu korban.

1. Selamat setelah memeluk pohon jati putih

Nurjannah Djalil (70), nama nenek itu, menjadi viral di media sosial saat menyelamatkan cucu semata wayangnya, Waliziab Muhammad Nur (2) saat bencana banjir . Banjir yang terjadi pada Selasa, (22/1/2019) melanda perumahan BTN Zigma Royal Part, Kelurahan Pangkabinanga, Kecamatan Pallangga.

Nurjanah Jalil sempat selamat setelah bertahan dengan berpegangan pada pohon jati putih selama tiga jam.

BACA JUGA: Bagaimana Cara Merawat Orang Tua?

2. Meninggal akibat serangan jantung dan telan air kotor

Walaupun selamat dari banjir, keesokan harinya, Rabu, (23/1/2019), Nurjannah harus kembali dilarikan ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Syech Yusuf Sungguminasa dan dinyatakan meninggal dunia dengan diagnosis serangan jantung dan terlalu banyak menelan air kotor.

“Dari hasil diagnosa dokter terkena serangan jantung dan terlalu banyak menelan air kotor” kata Muhlis, Humas RSDUD Syech Yusuf.

3. Puluhan tahun jadi orangtua tunggal

Nurjannah adalah nenek yang memiliki empat orang putri masing-masing bernama Zarah Fani Alizulhijjah (29), Indah (27) dan Adinda Afiandri (25) serta Ananda Dina Alginah (23).

Nurjannah adalah sosok orangtua tunggal pascaperceraian dengan suaminya, Rauddin (72) yang kini menetap di Malang, Jawa Timur. Nurjanah bercerai sejak putri sulungnya masih berusia 7 tahun.

Sejak saat itu Nurjannah menjadi sosok orangtua tunggal mengasuh dan banting tulang mencari nafkah demi membesarkan dan menyekolahkan keempat putrinya.

Nurfadiansyah 30 mengenang Nurjanah sebagai orang tua yang dengan segala keterbatasan tetap menyekolahkan anak-anaknya meski harus berutang kiri kanan.

4. Dua anaknya jadi dokter

Atas jerih payahnya membesarkan dan mendidik keempat putrinya, dua orang putrinya kini telah bergelar dokter.

Sementara dua anak lainnya masih berstatus mahasiswi di perguruan tinggi negeri dan swasta di Makassar.

Zarah Fani Alizulhijjah, anak sulung korban mengenang ibunya, “Saya bisa menjadi dokter karena perjuangan ibu saya yang terus memberikan semangat walau pun kami tahu bahwa biaya pendidikan yang diberikan kepada kami sebagian adalah utang.”

5. Pernah jadi reporter TVRI Ujung Pandang

Nurjannah diketahui pernah menjadi reporter TVRI Ujung Pandang sebelum akhirnya memilih untuk pulang mengabdi ke kampung halaman.

Pada usia senja, Nurjanah masih menjabat sebagai Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini (Kabid Paud) Dinas Pendidikan Kota Palopo. Jabatan ini ia pegang hingga akhir hayatnya.

Seperti diketahui, bencana longsor di sejumlah titik yang memicu dibukanya pintu air bendungan Bili-bili yang mengakibatkan air sungai Jeneberang meluap.

BACA JUGA: Sang Nenek Meninggal Setelah Selamatkan Cucu dari Banjir Bandang Gowa

Meluapnya sungai Jeneberang menenggelamkan sejumlah pemukiman penduduk di Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros, Kota Makassar, Kabupaten Takalar dan Kabupaten Jeneponto pada Selasa, (22/1/2019) lalu,

Bencana tersebut telah memakan puluhan korban jiwa. Di Kabupaten Gowa sendiri total korban jiwa akibat bencana ini telah mencapai 46 korban. []

SUMBER: KOMPAS


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Kamu Sedang Offline