Unik, Informatif , Inspiratif

Banyak Negara Muslim Hancur karena Tak Cinta Tanah Air

0

Peribahasa mengatakan “Rumput Tetangga selalu lebih hijau dibandingkan rumput sendiri.” Namun tak selamanya begitu peribahasa lain menyatakan ” lebih baik hujan batu di negeri sendiri, daripada hujan emas di negeri orang.” pribahasa tersebut berarti lebih nyaman tinggal di tanah air sendiri dibandingkan di negeri orang. Cinta tanah air yang menjadikan suatu bangsa menjadi bangsa yang besar dibandingkan masyarakat yang acuh tak acuh pada bangsanya sendiri.

Nah, tahukah Anda sebaik apa pun Indonesia sekarang, sebaik itu pula usaha yang telah kita lakukan. Seburuk apa pun wajah Indonesia saat ini, memang seburuk itulah perlakuan yang telah kita tampilkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, mulai sekarang, daripada terus-terusan bersikap pasrah terhadap hujan batu, mengapa kita tidak bersama-sama berupaya membuat hujan emas di negeri sendiri, Indonesia tercinta?

Cinta tanah air yang menjadikan suatu bangsa menjadi bangsa yang besar dibandingkan masyarakat yang acuh tak acuh pada bangsanya sendiri. Islampun mengajarkan bahwa berjuang dijalan Allah, Islam adalah agama Allah yang diutuskan agar dianuti oleh setiap bangsa tanpa sebarang diskriminasi. Dalam masa yang sama Islam akui kewujudan manusia berpuak dan berbangsa. Allah Tuhan Yang Maha Pencipta telah menciptakan manusia dalam keadaan demikian dengan hikmah yang begitu banyak. Allah Berfirman:

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha mendalam pengetahuanNya.” (Surah al-Hujurat: 13).

Cendekiawan Muslim Suriah (Syiria) Dr Mahir Hasan Al-Munajjid menegaskan bahwa hubbul wathan atau cinta tanah air mempunyai peran penting. Hal itu bercermin terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi di negaranya sendiri.

Menurut pengajar qiraah di Jamiah Imam Syafii Cianjur, Jawa Barat itu, banyak Negara mayoritas beragama Islam hancur akibat ulah rakyatnya sendiri. Mereka, sebutnya, tidak mengenal hubbul wathan, cinta tanah air.

Cinta tanah air, lanjutnya, dilakukan dengan cara setiap unsur masyarakat menjaga tanah air agar jangan sampai merusak dan merobohkan tanah airnya sendiri.

Abdullah bin Umar, paparnya, merupakan sosok yang mencintai tanah air. Meski Negaranya sedang gonjang-ganjing tetapi beliau tidak berontak. Maka, ketika kita mengalami masa pemerintahan yang dzalim sekalipun, tidak boleh serta merta khuruj, memerangi pemerintah.

Dengan kudeta, Mahir meyakini akan terjadi kekacauan yang semakin besar. “Satu hakim yang fasiq akan memunculkan dharar yang besar,” jelasnya.

Jika penguasa berusaha dilengserkan, maka yang lain akan main hakim sendiri. “Kita patuh dengan aturan pemerintah saja,” tegasnya.

Itu yang diajarkan oleh Abdullah bin Umar. Di samping itu, urai Dr Mahir, cinta tanah air juga harus mengedepankan majelis ilmu. Duduk bersama saling berdiskusi untuk menuntaskan berbagai problem.

“Tentu ialah ilmu yang bersumber dari ulama. Karena konteks hubbul wathan adalah peran ilmu dan juga Ulama,” pungkas Dr Mahir dalam Nu.or.id. []


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Kamu Sedang Offline