abbad bin bisyr
abbad bin bisyr (foto: abiummi)

Abbad bin Bisyr, Tak Putus Munajat, Meski Panah Menghujam (1)

abbad bin bisyr (foto: abiummi)

INSPIRADATA. Abbad bin Bisyr, sahabat yang bisa disebut tak asing lagi terdengar dalam dunia dakwah Islam, ahli Madinah yang masuk Islam dengan dikenal sebagai imam dan pejuang Islam.

Ketika Islam mulai tersebar di Madinah, ia masih muda, berperangai baik dan teladan muda umur 20 an saat itu. Dengan mendekatkan diri kepada da’i atau sahabat penyiar Islam utusan Rosulullah, Mush’ab bin Umair -hatinya terpikat dalam ikatan iman yang kokoh.

Ia mulai belajar Al-Qur’an kepada Mush’ab, hingga mahir disandingnya dengan dsertai suara merdu menjadi kesehariannya, diulangnya kalamulah siang malam, yang karena itulah ia disebut sebagai imam dan pembaca Al-Qur’an.

Pada suatu malam, Rasulullah s.a.w sedang melaksanakan shalat tahajjud di rumah Aisyah yang berdempetan dengan masjid. Terdengarnya suara merdu sedang melantunkan Al-Qur’an, laksana Jibril ketika menurunkan wahyu ke dalam hati.

“Hai Aisyah, suara Abbad bin Bisyr kah itu?” Tanya Rasul.

“Betul, ya Rasulullah!” Jawab Aisyah.

Kemudian Rasulullah berdo’a, “Ya Allah, ampunilah dia!”

Beberapa waktu berlalu, Abbad selalu ikut berperang bersama Rasulullah. Dalam peperangan ia bertugas sebagi pembawa Al-Qur’an.

Baca Juga: Mimpi Abbad bin Bisyr Jelang Ajalnya, Pemecah Dua Pasukan

Dalam perang Dzatur Riqa’ dikisahkan bahwa ketika sekembalinya perang tersebut, Abbad sedang beristirahat dengan seluruh pasukan Muslimin di lereng bukit.

Di perang tersebut, seorang prajurit menawan seorang wanita musyrik yang ditinggal oleh suaminya. Namun ketika sang suami wanita tersebut kembali, ditemuinya si istri telah tiada.

Membara lah hati dan dendamnya kepada Islam, sehingga ia bersumpah akan menyusul Rasulullah dan Muslimin serta tak akan kembali sebelum menumpahkan darah mereka.

Pada malam tersebut, di tempat peristirahatan, yang berjaga adalah Ammar bin Yasir dan Abbad bin Bisyr, yang disebut Rasulullah sebagai bersaudara.

Di heningnya malam, Abbad mendapat bagian jaga terlebih dahulu sebelum di teruskan Amar kelak. Betapa sedapnya Abbad tenggelam dalam munajat kepada Allah sholat malam disertai tilawahnya yang indah didengar.

Sementara Abbad shalat sambil berjaga, datanglah seorang pria dengan ketergesaan –adalah si suami musyrik yang dendam sebelumnya– dilihatnya dari kejauhan ada seorang pria (Abbad) yang sedang beribadah di mulut jalan, ia meyakini bahwa Rasulullah beserta rombongan berada di sana juga, sedangkan orang yang berdiri itu adalah penjaganya.

Si pria yang tergesa tadi menyiapkan panah, dipanahnya Abbad yang sedang larut dalam ibadah. Bukannya berhenti, Abbad mencabut anak panah yang bersarang di tubuhnya. Sampai tiga kali.

Giliran Amar berjaga pun tiba, sholat Abbad telah selesai.

Sambil bersimpuh darah yang mengucur di tubuhnya, dengan merangkak mendekati Amar, ia berkata, “Bangun! Aku terluka parah dan lemas”

Sementara itu, etika melihat mereka berdua, si pria dengan panah tadi buru-buru kabur. Amar melihat darah mengucur di tiga lubang luka badan Abbad.

“Subhanallaah, mengapa kau tak membangunkanku ketika panah mengenaimu?” Tanya Amar.

“Aku sedng membaca Al-Qur’an dalam shalat. Aku tak ingin memutuskan bacaanku sebelum selesai. Demi Allah, kalaulah tidak karena takut akan menyiakan tugas yang dibebankan
Rasulullah, mejaga mulut jalan tempat kemah kau muslimin, biarlah tubuhku putus daripada memutuskan bacaan dalam shalat.” Jawab Abbad. []

Referensi:
Bastoni, Hepi Andi. 2004. 101 Sahabat Nabi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *