, Adab-adab Memakan Makanan Sisa dalam Islam
Unik, Informatif , Inspiratif

Adab-adab Memakan Makanan Sisa dalam Islam

0

Memakan sisa makanan sejatinya memiliki filosofi tersendiri, yakni menghargai nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Membuang rezeki dalam islamm tidak dianjurkan (dilarang).

Oleh karena itu, sebagai umat islam kita harus menghargai pemberian Allah SWT walau sekecil apapun. Yaitu dengan cara tidak menyia-nyiakan makanan atau minuman tersebut.

Penghargaan yang kita berikan kepada makanan atau minuman sejatinya merupakan bentuk rasa syukur kita terhadap nikmat Allah.

Karena itu dalam salah satu riwayat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menjilati sisa makanan yang menempel di jari-jari tangannya. Dari Jabir bin ‘Abdillah ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah dia sapu tangannya dengan serbet sebelum dia jilati jarinya. Karena dia tidak tahu makanan mana yang membawa berkah.” (HR. Muslim)

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan: “Menjilati jari (seusai makan) adalah sesuatu yang disyari’atkan (dianjurkan). Alasannya, sebagaimana yang disebutkan di akhir hadits, yaitu karena orang yang makan tidak mengetahui di manakah barokah yang ada pada makanannya. Makanan yang disajikan pada orang yang makan benar-benar ada barokahnya. Namun tidak diketahui apakah barokahnya ada pada makanan yang dimakan atau pada makanan yang tersisa pada jari atau pada mangkoknya atau pada suapan yang terjatuh. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seseorang memperhatikan ajaran ini agar ketika makan pun bisa meraih barokah. Pengertian barokah pada asalnya adalah bertambahnya dan tetapnya kebaikan serta mendapatkan kesenangan dengannya.”

Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa dibolehkan mengusap tangan dengan serbet. Namun, yang sesuai dengan sunnah (ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) yaitu dilakukan setelah menjilati jari.

Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa teks hadits tersebut sebenarnya menyatakan “Sisa makanan orang mukmin itu menyembuhkan.” Para ulama berpendapat bahwa kualitas hadits tersebut adalah palsu.

Adapun hadits lain yang serupa dengan hadits di atas adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Daruquthni dengan sanad : Said bin Misykan – Ahmad bin Rauf – Suaid bin Nasr – Nuh bin Abu Maryam – Ibnu Juraij – Ata – Ibnu Abbas – Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadits ini menuturkan: “Di antara sikap yang santun adalah seseorang minum sisa minuman saudaranya. Dan siapa yang minum sisa sudaranya dengan mengharapkan wajah Allah, maka akan ditinggikan baginya tujuh puluh tingkatan, tujuh puluh kesalahannya akan dihapuskan, dan akan dicatat baginya tujuh puluh kebajikan.” (Ibn al-Jauzi, Jalal al-Din al-Suyuti, Ibn Araq al-Kannani, al-Syaukani).

Yang menjadi masalah adalah pada sanad tersebut terdapat rawi yang bernama Nuh bin Abu Maryam yang dikenal sebagai pendusta (Ibn al-Jauzi, Ibn Araq al-Kannani).

Oleh karena itu, hadist tersebut juga merupakan hadist palsu. Para ulama berpendapat bahwa hadist di atas memiiki substansi yang berbeda karena tidak berbicara tentang obat. Hadist tersebut hanya berbincang tentang sisa minuman dan kesantunan. Jadi, tidak ada kaitannya dengan hadist pertama.

Dari penjelasan para ulama tersebut yang dikutip dari beberapa sumber dapat disimpulkan bahwa Islam tidak mengatur makan makanan sisa orang lain.

Itu tadi penjelasan seputar memakan sisa makanan, semoga kita mendapat manfaat. Aamiin insya Allah. []


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.