Unik, Informatif , Inspiratif

Ahmad Dhani

0

Oleh: Saad Saefullah

Ada nyaris 10 tahun antara 1992-2000, saya begitu nge-fan berat sama Ahmad Dhani. Kelas 1 SMA, saya masih inget, pertama kali melihat Dhani di acara “Trax” Programa 2 TVRI bersama Dewa 19 yang baru rilis “Kangen”, debut epik itu.

Waktu itu saya mikir, yang jadi vokalis Ari Lasso, tapi Dhani who did the talking. Dhani menjawab apa saja pertanyaan dari presenter dan penonton. Yang lain diem-diem bae. Sampai tahun 2010, saya baru bisa mendengar suara Andra Ramadhan yang diundang jadi komentator di RCTI Sport untuk salah satu liga sepakbola Eropa.

Saya mendengar tiga karya Dewa yang pertama lewat kaset pinjeman dari teman-teman SMA. Yang paling fenomenal buat saya adalah “Bintang Lima”. Waktu itu saya sudah agak tidak tertarik pada musik, namun “Separuh Nafas” dan “Dua Sejoli” masih sering saya bahas di Kemuning Jakarta Timur bersama Mas Turi dari Yogya, ilustrator Majalah Saksi.

Bagaimana tidak, saat itu, Dewa kehilangan Ari, dan diganti oleh Once. Tak ada band yang bisa tahan jika ganti vokalis. Gitar bisa diganti, tapi suara adalah identitas untuk sebuah band. Di waktu yang sama, Dhani juga merekrut metronome baru di sosok Tyo tapi Dhani tetap tak tergantikan. Oh ya, Dhani ingin Dewa sedikit jazzy, dapetin Aksan, Aksan terlalu nge-jazz, Dhani berhentiin dia. Dhani ingin Dewa sedikit nge-rock, dapetin Bimo, Bimo rock banget, kelar Bimo.

Yang paling nggak banget dari Dhani pada periode ini, ia mulai take vocal. Dia pasti bisa nyanyi. Tapi suaranya, ya maaf-maaf saja, jadi menurunkan kualitas karya dia sendiri. Kemudian, ia juga membentuk Ahmad Band. Buat apa coba?

“Bintang Lima” tembus 7 juta kopi penjualannya. 9 juta plus bajakannya. 250 ribu keping saja sudah cukup membuat Nike Ardilla kaya raya. Apalagi 7 juta keping. Tahun 2005, Dhani disebut Forbes sebagai musisi paling kaya di Indonesia.

Tahun 2004, seiring kecenderungan terhadap musik makin turun, ditambah dengan kasus Dhani dengan FPI, juga soal nama Kohler yang ia terakan di sampul salah satu albumnya, plus lebih banyak gosip ketimbang karya, Dhani tak lagi jadi minat saya.

Setelah usia 40 tahun, saya tiba-tiba mengerti kenapa Dhani tak pernah lagi mau membuat lagu sekelas “Pupus” atau “Cukup Siti Nurbaya”. Dhani terjun ke dunia bergetah. Di politik, dia keluar banyak duit tapi tak ada yang hilang buat dia.

Sejak awal, sama dengan salah satu dosen saya di Jatinangor, hidup dan karir Ahmad Dhani berada di tengah sikap sinis dan kekaguman banyak orang. Dhani, bukan hanya terbaik di dunia musik Indonesia, tapi paling jenius yang pernah dimiliki negeri ini. []

Hambalang, 14 Oktober 2018


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.