Ameera (Ahmad) Harouda speaks at TED2016 - Dream, February 15-19, 2016, Vancouver Convention Center, Vancouver, Canada. Photo: Bret Hartman / TED

Ameera Ahmed Harouda, Menantang Maut Demi Mengabarkan tentang Gaza Kepada Dunia

Ameera (Ahmad) Harouda speaks at TED2016 - Dream, February 15-19, 2016, Vancouver Convention Center, Vancouver, Canada. Photo: Bret Hartman / TED

INSPIRADATA. Butuh nyali yang sangat kuat untuk bisa berada di tengah-tengah kecamuk perang. Apalagi, jika dalam kondisi tersebut seseorang dituntut untuk meliput dan mengabarkan berita. Pekerjaan penuh tantangan itulah yang dijalani oleh wartawan perang.

Indonesia mengenal Abdilah Onim, seorang wartawan yang kini menetap di Jalur Gaza, Palestina. Melalui kabar yang disampaikan olehnya lah muslim Indonesia bisa mengetahui apa yang tengah terjadi pada rakyat Palestina di belahan dunia sana.

Di Palestina sendiri ada seorang wanita berusia 32 tahun yang mengemban tugas sebagai wartawan.  Namanya Ameera Ahmad Harouda. Dia adalah salah satu wanita yang bernyali besar untuk bekerja sebagai jurnalis di Gaza. Ia menjadi wanita pertama yang direkrut untuk menjadi seorang fixer (koresponden dijalur Gaza) sebuah media yang meliput peperangan yang terjadi di sana.

Gaza, memang bukan tanah kelahirannya. Ia bersama keluarganya pindah dari Libya ke Gaza sejak berusia 3 tahun dan Ia juga merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya saat itu. Namun sekarang, Ameera menjadi salah satu orang yang paling kuat di lingkungan Gaza.

Menjadi jurnalis di dalam peperangan sungguh tidak mudah. Setiap hari ia harus meninggalkan ketiga anaknya dan tidak bisa memastikan apakah dirinya akan kembali atau tidak. Karena itulah, ia selalu membawa foto ketiga anaknya.

Dalam sebuah acara, Ameera mengungkapkan alasan terbesarnya, sehingga memutuskan untuk tetap bertahan menjadi jurnalis Gaza.

“Saya melakukan pekerjaan ini, karena saya yakin jika tidak melakukannya maka sebagian besar cerita Gaza akan hilang. Ada banyak cerita yang bisa saya ceritakan tentang negara saya dan tidak semuanya buruk. Saya cinta negara saya. Meskipun kita hidup dalam pengepungan, kemiskinan, pengangguran, tapi itulah kehidupan” paparnya.

“Menjadi fixer dan jurnalis di Gaza memang sulit. Tapi ketika saya mendengar sura tembakan atau bom, saya akan berlari kesana karena saya ingin menjadi orang yang pertama yang berada di sana dan kabar ini harus diberitakan.” Pungkasnya.[]


Artikel Terkait :

About Susanti

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *