cum laude
Foto: KOMPAS.com

Anak Lulus Cum Laude, Tukang Sate Bagi-bagikan Dagangannya di Acara Wisuda

Sebagai tanda syukur, Jalaludin dan anaknya, membagi-bagikan sate ayam dan lontong gratis di arena wisuda. Dengan IPK 3,87 D3 Ekonomi Akuntansi tu Universitas Tidar Magelang, Siti menjadi salah satu wisudawati terbaik, Sabtu (14/17/2017).

Jalaludin (55), seorang penjual sate ayam keliling, tentu bahagia menyaksikan anaknya wisuda dengan nilai tertinggi di Universitas Tidar (Untidar) Kota Magelang, Jawa Tengah.

Jalal tak sanggup menahan tangis haru saat nama putrinya, Siti Marfuah (26), dipanggil ke podium untuk menerima penghargaan sebagai salah satu wisudawati terbaik dari rektor Untidar.

Lebih bangga lagi, Siti ikut mendorong gerobak sate dari rumah ke kampus pada acara wisudanya tanpa ada perasaan malu, Sabtu (14/10/2017).

Dikutip dari Kompas.com, Jalal siang itu membawa gerobak satenya ke kampus dengan sengaja, kemudian membagi-bagikan sate lontong gratis kepada tamu undangan maupun seluruh wisudawan.

Itu dilakukannya sebagai rasa syukur kepada Tuhan karena anak ketiganya itu berhasil menyelesaikan pendidikan D3 Ekonomi Akutansinya, dengan IPK 3,87 alias cum laude.

“Ini syukuran kami. Saya bawa 100 porsi sate ayam, pakai gerobak yang biasa saya pakai jualan. Saya bagikan gratis pada wisudawan, tamu atau siapapun yang mau sate, saya ikhlas,” ujar Jalal.

Jalal mengatakan bahwa dirinya bangga dengan Siti. Sejak sekolah dasar Siti memang telah berprestasi meraih peringkat 10 besar.

Ketika duduk di bangku SMP 3 Magelang dan SMA 3 Magelang, Siti langganan juara umum di sekolahnya. Saat kuliah pun, Siti kerap ikut mengikuti perlombaan akademis.

Tidak hanya berprestasi, kata Jalal, Siti juga merupakan anak yang mandiri. Dia nyaris tidak pernah meminta uang untuk biaya kuliah kepada orangtua.

Gadis ini memiliki pendapatan sendiri dari pekerjaannya sebagai guru les privat anak-anak SD di lingkungannya.

“Semua biaya kuliahnya dia bayar sendiri. Tidak pernah minta orangtua. Sambil kuliah, anak saya juga membuka les privat untuk anak-anak SD,” ujar warga Kampung Kedungsari RT 3, RW 4, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang itu.

Pendapatannya sebagai tukang sate keliling memang tidak cukup untuk membiayai kuliah Siti. Terlebih, Jalal masih harus menafkahi istri dan empat anaknya yang lain. Setiap hari dia dibantu sang istri, Satuna (55), yang juga berjualan sate di Pasar Payaman, Kabupaten Magelang.

Siti sendiri mengaku lega bisa menyelesaikan pendidikan diploma tiganya dengan nilai memuaskan. Hasil ini tak lepas dari kerja kerasnya sejak lulus SMA. Dia rela bekerja membuka les selama lima tahun sebelum kemudian mendaftar kuliah.

“Saya bekerja lima tahun, buka les matematika, dan pelajaran lainnya untuk anak-anak SD. Saya ngumpulin uang dulu buat daftar kuliah,” kata gadis kelahiran Magelang, 21 juni 1991 itu.

Saat mendaftar kuliah pun Siti tak bercerita dengan orangtuanya, karena khawatir akan membuat orangtuanya berpikir tentang biaya kuliah. Tapi mau tidak mau dia harus cerita dan meyakinkan orantuanya bahwa biaya pendidikan adalah tanggungjawabnya sendiri.

“Kalau lagi mengajar anak-anak, saya sambil mengerjakan tugas kuliah. Saya juga masih sempat membantu Bapak bikin bumbu sate kalau pagi. Pinter-pinternya bagi waktu saja, Alhamdulillah saya bisa, uangnya les buat biaya sekolah,” kata Siti yang bercita-cita jadi Akuntan ini.

Joko Widodo, Pembantu Rektor I Untidar Magelang, juga bangga dengan salah satu mahasiswanya tersebut. Menurutnya, sudah menjadi kewajiban universitasnya untuk mendidik mahasiswa tanpa melihat latar belakangnya.

“Kami mendidik tidak hanya kepada anak yang cukup (materi), siapapun berhak mendapat pendidikan. Kami punya porsi khusus untuk anak-anak kurang mampu, disemua jalur. Kami beri kesempatan bagi mahasiswa untuk berkembang, baik akademik maupun non akademik,” ujar dia.

Siti dikenal Joko sebagai salah satu mahasiswi yang aktif berkompetisi secara sehat dengan mahasiswa lainnya. Dia berharap kisah Siti dapat menjadi motivasi generasi sekarang sekaligus teladan untuk bersemangat menempuh pendidikan. []


Artikel Terkait :

About Fajar Zulfikar

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *