Foto: Zhee Ay

Ane Ogah Kayak Ubi!

 

Foto: Zhee Ay

INSPIRADATA. Ane suka miris dan meringis. Pasalnya sih bukan karena hal-hal yang bengis. Tapi cenderung agak melankolis. Coba aja dipikirkan secara klinis, ada anak aktivis yang bilang secara sadis bahwa kalau dia besar nanti, dia tak mau seperti ubi manis. Maksudnya? Iyah ubi manis artinya ummi abi mantan aktivis.

Dia bilang, ummi abinya sibuk setiap hari. Dari hari ke hari jarang ada di rumah sebagai penghuni. Sebagai anak, dia sering dititipi adik-adik sendiri, atau diasuh oleh khadimah tak terperi. Bangun tidur sama sang khadimah diiringi, makan disuapi, dan kemana-mana dijagai. Abi sibuk bekerja di tempat kerja pergi pagi. Sekalinya pulang malam langsung ngaji. Sedang ummi juga punya banyak taklim untuk dikaji.

Si anak itu yang sudah mau remaja lucu, merasa kalau abi dan umminya lebih mementingkan orang lain daripada dirinya, anaknya dulu. Padahal, teringat kata buya dahulu, bahwa keluarga itu nomor satu. Jangan sampai dakwah kesini-kesitu tapi anak sampai merasa tak perlu. Sampai buat anak tak punya waktu.

Ane jadi mikir, sambil agak nyengir, betul juga, kenapa juga sibuk dakwah sampai jungkir-jungkir, kalau keluarga sendiri jadi melipir? Bukankah keluarga itu bisa jadi utama ditanyakan mungkin nanti oleh Munkar dan Nakir?

Kalau kata ustadz di mushola, berdakwah boleh saja, tapi jangan sampai lupa keluarga. Sebelum selamatkan orang lain, selamatkan dulu anak-anak tercinta dari api neraka yang bahan bakarnya manusia. Semoga Allah SWT Sang Pencinta menjaga kita dan keluarga kita dari cobaan dunia yang berdusta seperti mutiara. []


Artikel Terkait :

About Saefullah DS

Check Also

ibadah umrah di bulan ramadhan

Kalkulasi Ghaib di Sekitar Kabah

ketakjuban adalah salah satu anugrah tuhan. Karena hanya dengan ijinNYAlah, ketakjuban membuat seseorang menjadi beriman, bersyukur, dan merasakan segalanya menjadi manis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *