Ilustrasi kitab

Apa Isi dari Kitab al-Ajwibat Ibn Hajar al-Asqalani?

INSPIRADATA. Kitab al-Ajwibat Ibn Hajar al-Asqalani, merupakan kitab berisikan jawaban Ibn Hajar atas berbagai persoalan yang dipertanyakan oleh sejumlah muridnya, antara lain Imam as-Sakhawi.

Pertanyaan tersebut diajukan oleh murid-murid melalui tulisan tangan yang dikirim dari berbagai wilayah. Ada permintaan fatwa misalnya yang datang dari Makkah dan Baitulmaqdis. Sementara, Ibnu Hajar kala itu berdomisili di Mesir.

Berbagai pertanyaan itu dikumpulkan perkategori dan dikirimkan secara kolektif. Ada tiga pengirim utama dari kumpulan itu yaitu Syamsuddin bin Muhammad bin al-Khidir al-Mishri, Umar bin Fahad al-Hasyimi al-Makki, dan Zainuddin Ridlwan bin muhamad bin Yusuf al-Aqabi.

Namun demikian, di buku yang sama, akan didapati pula sisi kerendahan hati Ibn Hajar. Meskipun terkenal mahir menguasai ilmu agama tetapi tak membuatnya enggan bertanya kepada sang guru. Di bagian lain kitab ini disertakan pula pertanyan-pertanyaan Ibnu Hajar kepada gurunya, al-Hafidz al-Iraqi.

Berbeda dengan kategori pertama, di bagian kedua tidak didapati keterangan ihwal identitas penanya. Bagian kedua dijelaskan tentang sejumlah permasalahan meliputi misalnya, hukum dan derajat hadis tertentu atau pun meminta arahan terkait makna hadis itu sendiri.

Di antara isu yang ditanyakan kepada Ibnu Hajar adalah jumlah keseluruhan nabi, siapa sajakah nama mereka, dan berapa total yang diutus sebagai rasul dari mereka.

Menurutnya, tidak ada kesepakatan dalam hadis tentang jumlah pasti para nabi. Hadis riwayat Ibn Hibban dari Abu Dzar menyebutkan jumlah mereka yaitu 124 ribu nabi.

Dari total itu sebanyak 313 diangkat sebagai rasul. Dan nabi pertama yang diangkat sebagai rasul adalah Adam. Tetapi, derajat hadis ini kurang kuat. Ini karena salah satu rawinya yaitu Ibrahim bin Hisyam bin Yahya bin Yahya al-Ghassani dinyatakan kerap berdusta.

Soalan lainnya yang ditanyakan kepada Ibn Hajar di bagian kedua yaitu perihal surah yang kerap dibaca Rasulullah di tiap rakaat shalat Jumat. Apakah Rasulullah selalu membaca surah al-Jumu’ah, al-Munafiqun, dan surah al-A’la? Ataukah Rasululullah menggantinya dengan surah lain untuk variasi?

Menurut Ibn Hajar, dari beberapa riwayat terkait sunnah membaca surah surah tersebut, antara lain riwayat Abu Hurairah, Samarah bin Jundub, dan Ubaidillah bin Abdullah, redaksi hadis itu mengisyarakatkan surah-surah itu lah yang kerap dibaca di kala shalat Jumat.

Tentang nama yang diukir di cincin Rasulullah turut ditanyakan pula. Menurut Ibn Hajar, berdasarkan data yang diperoleh dari kitab al-Afrad karangan ad-Daruquthni, keterangan terkait nama itu bisa didapati melalui riwayat yang dinukil dari Ya’la bin Umayyah.

Di riwayat tersebut diceritakan bahwasanya Ya’la mendapat penghargaan istmewa untuk membuat cincin itu. Tidak satupun orang yang mendapatkan kehormatan serupa. Ya’la mengukir lafal Muhammad utusan Allah pada cincin Rasulullah. []

 

Sumber: Republika


Artikel Terkait :

About Ferry Ardiyanto Kurniawan

Seorang anak muda dengan cita-cita luhur yang sedang berproses secara perlahan tanpa jeda!

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *