Az-Zahrawi, Teladan Para Dokter di Dunia

dokter-bedahINSPIRADATA. Demo dokter beberapa waktu lalu menuntut reformasi sistem pendidikan kedokteran, mengingatkan kita kepada perjuangan yang harus ditempuh untuk meraih cita-cita. Bukan hanya materi atau tenaga, tapi juga waktu yang panjang harus kita tempuh dalam proses pendidikan itu.

Materi ilmu kedokteran salah satunya diambil dari kitab Al-Tasrif li man ajaz an-il-talil, sebuah ensiklopedia kedokteran. Kitab yang dijadikan materi sekolah kedokteran di Eropa itu terdiri dari 30 volume.  Dan, penulis kitab tersebut merupakan sosok inspiratif yang mampu menjadi teladan bagi para dokter di seluruh dunia.

Namanya adalah Abu al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas Az-Zahrawi atau lebih dikenal dengan nama Az-Zahrawi atau Abulcasis. Ia terlahir pada tahun 936 M di kota Az-Zahra, sebuah kota berjarak 9,6 km dari Cordoba, Spanyol. Az-Zahrawi merupakan keturunan Arab Ansar yang menetap di Spanyol. Dia menimba ilmu di kota Cordoba , mengajarkan ilmu kedokteran, mengobati masyarakat, serta mengembangkan ilmu bedah bahkan hingga wafat.

Dilansir dari biografiku.com, Selain mengupas tentang ilmu bedah, ortopedik, farmasi dan kedokteran umum lainnya, kitab Al Tasrif yang  juga memperkenalkan 200 jenis alat bedah, termasuk jarum dan benang jahit yang digunakan untuk bedah saat ini. Di samping itu, dalam kitabnya, Az-Zahrawi juga mengupas tentang kosmetika. Jadi, produk kosmetik seperti deodorant, hand lotion, pewarna rambut yang ada sekarang ini  merupakan hasil pengembangan dari karya Az-Zahrawi.

Dia mendedikasikan separuh abad masa hidupnya untuk praktik dan mengajarkan ilmu kedokteran. Ia lebih banyak mendedikasikan hidupnya untuk merawat korban kecelakaan serta korban perang. Tidak heran dia kemudian menjadi dokter yang termansyur di  Cordoba sehingga diangkat menjadi dokter istana pada era kekhalifahan Al-Hakam II di Andalusia.

Sebagai guru ilmu kedokteran,  Az-Zahrawi  mengungkapkan kepedulian terhadap kesejahteraan siswanya. Dia mengingatkan kepada para muridnya tentang pentingnya membangun hubungan yang baik dengan pasien. Menurutnya,  seorang dokter yang baik haruslah melayani pasiennya sebaik mungkin tanpa membedakan status sosialnya. Dalam menjalankan praktik kedokterannya, Az-Zahrawi menanamkan pentingnya observasi tertutup dalam kasus-kasus individual. Hal itu dilakukan untuk tercapainya diagnosis yang akurat serta kemungkinan pelayanan yang terbaik. Az-Zahrawi pun selalu mengingatkan agar para dokter berpegang pada norma dan kode etik kedokteran, yakni tak menggunakan profesi dokter hanya untuk meraup keuntungan materi semata.

Az-Zahrawi tutup usia di kota Cordoba pada tahun 1013M. Namanya diabadikan menjadi nama jalan kehormatan yakni ‘Calle Albucasis’ di Cordoba. Rumah nomor 6 di jalan tersebut adalah rumah tempat Az-Zahrawi pernah tinggal . Kini rumah itu menjadi cagar budaya yang dilindungi Badan Kepariwisataan Spanyol. Walaupun Az-Zahrawi baru dikenal setelah 60 tahun kematiannya, namun jasa-jasanya masih bermanfaat untuk dunia kedokteran hingga saat ini.[]


Artikel Terkait :

About Susanti

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *