Baca Surat Apa Saja saat Shalat Istikharah?

0

Shalat Istikharah, satu di antara sekian banyak shalat yang disunnahkan syari’at Islam. Baik memang dalam keadaan bimbang ataupun tenang, shalat satu ini tetap dianjurkan oleh Rasulullah saw. dalam pelaksanaannya.

Shalat istikharah, secara makna merupakan bentuk permohonan akan pilihan. Bentuk penguatan “pangkat” kehambaan kita kepada Allah swt. karena kita membutuhkan penguatan akan sesuatu, membutuhkan pilihan dan tekad. Hanya kepada-Nya.

BACA JUGA: Lalu, Untuk Apa Shalat Istikharah?

Shalat istikharah berlaku hanya untuk pilihan yang hukumnya mubah atau boleh. Sebab perkara wajib dan haram tidak perlu diistikharahkan, karena sudah ada dalil yang menjelaskan keharusannya (mengerjakan/meninggalkannya).

Dalam pelaksanaannya, shalat Istikharah dua rakaat, seperti shalat pada umumnya tiap rakaat.

Para ulama menganjurkan membaca surat-surat tertentu pada saat shalat istikharah. Setidaknya ada beberapa surat yang dianjurkan dibaca saat shalat istikharah:

Pertama, dianjurkan saat mengerjakan shalat istikharah membaca surat al-Kafirun pada rakaat pertama setelah membaca surat al-Fatihah.

Kemudian disunnahkan membaca surat al-Ikhlas pada rakaat kedua. Maksud membaca kedua surat ini sebagai bentuk keikhlasan dan menyerakan segala urusan pada Allah, serta bukti bahwa manusia tidak ada apa-apanya di hadapan Allah.

BACA JUGA: Bagaimana Cara Kita Tahu Jawaban Shalat Istikharah?

Kedua, ada juga ulama yang berpendapat bahwa disunnahkan pada rakaat pertama shalat istikharah membaca surat al-Qashash ayat 68-69:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ ۝ وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُون

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan.”

Kemudian pada rakaat kedua membaca surat al-Ahdzab ayat 36:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

BACA JUGA: Ini Tanda Shalat Istikharah Kita Berhasil

Kedua pendapat tersebut memiliki makna dan ada keterkaitan dengan esensi Istikharah itu sendiri. Keikhlasan dan memohon jalan petunjuk kepada Allah. []

SUMBER: ISLAMI

Kamu Sedang Offline