Unik, Informatif , Inspiratif

Bagaimana Cara Menyikapi Diri Saat Doa Tak Kunjung Terkabul?

0

 

Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Tuhan umat muslim. Semua do’a yang dipanjatkan selalu kepadaNya. Namun, bagaimana jika do’a itu tak kunjung terkabul? Bagaimana cara menyikapinya? Yuk simka penjelasannya.

Dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi memberi peringatan untuk para pendoa, bahwa mereka harus menguatkan pengharapan mereka kepada Allah (an yuqawiyya rajâ’ahu fi maulâhu) dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya (lâ yaqnathu min rahmatillah), apalagi jika doanya dirasa tak kunjung dikabulkan. Ia mengatakan, “Andai doa tak kunjung dikabulkan, janganlah kau menangguhkan (mengendurkan) apa yang yang kau minta. Karena sesungguhnya di setiap hal ada waktunya, dan doa tidak (bisa) menyelisihi apa yang telah ditentukan sebelumnya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 20)

Artinya, setiap doa memiliki waktunya sendiri-sendiri. Kita hanya bisa meminta. Soal kapan dan bagaimana bentuk pengabulannya, kita harus berpasrah diri kepada Allah. Karena Dialah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita. Yang perlu kita lakukan adalah melapangkan hati kita, menyerahkan segalanya, tidak terburu-buru menuntut pengabulannya, tidak berputus asa dari rahmat-Nya, dan tetap yakin Allah pasti mengabulkannya (husnudhan).

Dalam kitab yang sama, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mengutip beberapa riwayat tentang pentingnya keyakinan penuh dalam berdoa, dan jangan terburu-buru menyimpulkan ketika doa tak kungjung dikabulkan. Riwayat yang pertama dikutip dari Imam Malik bin Anas dalam al-Muwaththâ.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah orang yang berdoa mengatakan dalam doanya: Ya Allah rahmatilah aku jika Engkau berkenan. Hendaklah ia memohon dengan penuh harap, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa memaksa-Nya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 20)

Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menjelaskan riwayat di atas dengan mengatakan, “Yakni sesungguhnya Allah tidak benci untuk memberi. Jika Dia menghendaki, Dia memberi. Jika Dia menghendaki, Dia mencegah (tidak memberi).” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 20) Inilah maksud tidak ada yang bisa memaksa-Nya. Karena Allah berhak mengabulkan doa makhluk-Nya dengan cara-Nya sendiri.

Riwayat yang kedua dikutip dari Imam al-Bukhari dan Imam Abu Dawud, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan dikabulkan (doa) salah seorang di antara kalian selama ia tidak tergesa-gesa (menuntut pengabulannya), sampai ia berkata: ‘Sungguh aku telah berdoa, namun belum juga dikabulkan untukku.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 20)

Hadits di atas menunjukkan pentingnya bersabar dalam berdoa. Sebab, dengan mengatakan, “aku telah berdoa, namun belum juga dikabulkan untukku”, secara tidak langsung telah berprasangka buruk kepada Allah, dan menunjukkan ketidak-yakinan bahwa doanya akan terkabul. Jadi, sikap yang harus ditunjukkan adalah bersabar, berprasangka baik kepada Allah dan berkeyakinan penuh Allah akan mengabulkannya.

Allahu ‘alam. []

SUMBER: islam.nu.or.id


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.