kedokteran, Baru, Artificial Intelligence Akurat Kenali Penyakit (Bagian 2-Habis)
Unik, Informatif , Inspiratif

Baru, Artificial Intelligence Akurat Kenali Penyakit (Bagian 2-Habis)

0

Sejak tahun 1950, AI sudah digunakan menjadi bagian penting dari video game. Dalam video games, AI berfungsi untuk menciptakan lingkungan dinamis dengan menghadirkan non-player character (NPC) yang responsif, adaptif, dan intelijen.

Kini sebuah kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di China bisa berperan sebagai dokter. AI didukung lebih dari 1,4 juta data rekam jejak kesehatan. Diagnosa yang dihasilkan dokter AI ini diklaim lebih akurat dalam mengenali gejala berbagai penyakit anak dibandingkan seorang dokter manusia. Diagnosanya akurat mulai dari flu dan gastroenteritis hingga meningitis bakteria.

Saat diuji coba, sistem kecerdasan buatan itu mampu mendiagnosa hingga 90%.

Menurut Dr Jörg Goldhahn dari ETH Zurich, AI hampir memiliki kapasitas tak terbatas dalam mendiagnosa penyakit dan melakukan operasi secara lebih akurat. Dr Jorg berpendapat robot mungkin akan mampu membantu memangkas pengeluaran di bidang kesehatan karena lebih murah ketimbang manusia.

BACA JUGA: Menkeu Khawatir dengan Teknologi Pembayaran QR Code

Sementara itu Dr Vanessa Rampton dari Universitas McGill setuju dengan mengatakan bahwa AI akan berguna sebagai peralatan pendukung tenaga medis. Namun, Dr Vanesa yakin AI tidak akan mampu menyingkirkan eksistensi dokter. Masalahnya dunia kesehatan bukan hanya tentang pemeriksaan dan perawatan, tapi juga pertukaran emosi dan motivasi hidup. Hal inilah yang tidak akan mampu dilakukan oleh sebuah AI.

Di sisi lain, Kemunculan AI dipandang skeptis sebagian pemikir. Penerapan AI menyisakan keprihatinan terhadap sejumlah pemikir besar di dunia, mulai dari Bill Gates hingga Elon Musk. CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk menggambarkan AI sebagai ancaman terbesar eksistensi manusia. Profesor (Alm.) Stephen Hawking juga mengatakan AI hampir pasti menjadi musibah besar.

Dilaporkan bahwa berdasarkan survery YouGov pada 2016, lebih dari 60% responden mengaku khawatir robot akan mencuri profesi manusia dalam berbagai bidang. Sebanyak 27% memprediksi pekerjaan yang paling pertama dan terdampak terburuk ialah di bagian administrasi dan pelayanan. Mereka juga takut AI tidak terkendali.

BACA JUGA: Jack Ma Khawatir Perkembangan Teknologi Picu Perang Dunia III

Profesor Michael Wooldridge mengatakan AI dapat menjadi sangat rumit hingga tidak dapat dipahami seutuhnya.

Sayangnya, Jika fungsi algoritma tidak dapat dibaca, para insinyur tidak akan mampu memprediksi kegagalannya. Artinya, penerapan AI di berbagai peralatan dapat membuat alat itu bertindak di luar dugaan.

Kini AI tidak hanya diterapkan di dunia medis, tapi juga di bidang lainnya, mulai dari automotif hingga militer. Pengembangan mobil self-driving telah dilakukan di berbagai negara. Sampai 2016, sebanyak 30 perusahaan telah menggunakan AI dalam pembuatan mobil driverless. Hanya sayangnya, sejauh ini, tidak ada yang dipasarkan.

BACA JUGA : Benarkah Nabi Idris Pelopor Teknologi?

Belum dipasarkannya produk AI karena banyak komponen yang dibutuhkan untuk membuat mobil self-driving. Dimana semua komponen diintegrasikan dengan sistem komputer yang rumit, terutama dalam sistem rem, pergantian lajur, pencegahan penabrakan, navigasi, serta pemetaan. []

HABIS | SUMBER: SINDONEWS


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.