foto: pojok jabar

Baru Awal Ramadhan, Pedagang Kulit Bedug di Cianjur Sudah Untung

INSPIRADATA. Seiring dengan masuknya bulan Ramadhan, pedagang kulit bedug banyak menjajakan bahan dagangannya di jalan protokol. Seperti di Jln. HOS Cokroaminoto, Cianjur, Jawa Barat.

Muhammad Ismail, seorang penjual kulit bedug di Jalan Hos Cokroaminoto, Cianjur, mengatakan, “Kami sudah membuka lapak sebelum Ramadan karena pengurus masjid biasanya memperbaiki bedug mereka yang suda jebol atau mulai rusak, sehingga menjelang hingga hari raya nanti, tingkat pemesanan cukup tinggi,” kata pria 41 tahun tersebut, Senin (29/5/2017) lansir okezone.

Ayah tiga anak yang sudah 24 tahun menjalani profesi sebagai pedagang kulit bedug itu mengungkapkan, berjualan kulit bedug memberikan keuntungan yang cukup lumayan, meski tidak hanya mengandalkan penjualan setiap hari besar Islam seperti puasa dan lebaran.

Namun saat puasa dan lebaran, keuntungan yang didapat setiap hari mencapai Rp. 400 ribu dengan penjualan Rp. 1,5 juta. “Keuntungannya cukup besar, makanya tahun ini, banyak yang berjualan kulit bedug di sepanjang jalan ini,” kata Ismail.

Ia menuturkan, harga kulit bedug yang dijajakan beragam tergantung jenis dan ukuran kulit yang diminati pembeli seperti kulit bedug dari kerbau perlembarnya ditawarkan dengan harga Rp1,4 juta, sedangkan kulit sapi dijual Rp1,3 juta.

“Tapi untuk kulit bedug yang sudah dibuat lingkaran atau dicetak, harganya Rp450 ribu untuk kulit kerbau dan Rp350 ribu untuk kulit sapi. Kalau yang sudah jadi bedug ukuran besar Rp1,2 juta per bedug, sedangkan yang kecil ada yang Rp150 sampai Rp450 ribu,” katanya.

Selama ini, tambahnya, kulit bedug dari Cianjur, banyak diburu warga atau penjual dari luar daerah seperti Sukabumi, Bogor sampai ke Bandung karena kualitas yang lebih bersih membuat kulit bedug asal Cianjur menjadi incaran banyak orang.

Namun penjual kulit bedug saat ini, harus bersaing dengan penjual kerupuk kulit karena kulit hasil potongan rumah potong hewan banyak dicari penjual kerupuk kulit dari luar daerah seperti Bandung dan Garut.

“Tahun lalu sampai sulit cari kulit untuk bedug karena banyak diborong penjual kerupuk kulit. Tahun ini lumayan normal karena penjual kulit bedug sudah membuat komitmen dengan rumah potong tidak akan menjual ke orang lain atau pedagang kerupuk,” tutup dia. []


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *