R.A Kartini
R.A Kartini (foto: mitrawacana)

Beberapa Penggal Goresan Pena R.A Kartini

Kartini
Kartini (foto: mitrawacana)

INSPIRADATA. Tokoh emansipasi wanita Indonesia Raden Ajeng Kartini, memiliki pemikiran yang dapat mengguncang sejarah. Karena goresan tinta di atas kertas, ia dinobatkan sebagai Pahlawan Indonesia.

Berikut beberapa kutipan kata dari R.A Kartini

“Duh, Tuhan, kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agama di pun di atas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad-abad telah lewat menjadi biang-keladi peparangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam.” Sumber: Surat kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902

“Kami berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih suka dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula.” Sumber: Suratnya kepada Nyonya Abendanon (12 Desember 1899)

“Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa.” Sumber: Surat kepada Stella (25 Mei 1899)

“Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa.” Sumber: Surat kepada Stella (25 Mei 1899)

“Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini.” Sumber: Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899

“Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut kuda liar.” Sumber: Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899

“Peduli apa aku dengan segala tata cara itu. Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu.” Sumber: Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899

“Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga-tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memilki buku selain buku pelajaran sekolah.” Sumber: Surat kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902

“Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata “Emansipasi” belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi dikala itu telah hidup didalam hati sanubarai saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri.” Sumber: Suratnya kepada Nona Zeehandelaar (25 Mei 1899)

“Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku.” Sumber: Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899

“Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada Yang Maha Tinggi.” Sumber: Surat kepada Nyonya Abendanon (27 Oktober 1902)

“Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih.”
Sumber: Surat kepada Ny. Ovink Soer (1900)

“Bagi saya ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan fikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya.” Sumber: Surat kepada Nona Zeehander (18 Agustus 1899)[]

Sumber: Jagokata


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

ibadah umrah di bulan ramadhan

Kalkulasi Ghaib di Sekitar Kabah

ketakjuban adalah salah satu anugrah tuhan. Karena hanya dengan ijinNYAlah, ketakjuban membuat seseorang menjadi beriman, bersyukur, dan merasakan segalanya menjadi manis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *