, Begini Cara Bersihkan Najis yang Benar dalam Islam
Unik, Informatif , Inspiratif

Begini Cara Bersihkan Najis yang Benar dalam Islam

0

 

Dalam agama islam, menjaga sebuah kesucian adalah kewajiban bagi seorang muslim. Apalagi, ibadah shalat mewajibkan wudhu atau bersuci dari segala najis agar dapat dikatakan sah.

Salah satu jenis najis yang harus dibersihkan adalah darah. Namun beberapa ulama ada juga yang menyatakan bahwa darah itu tidaklah najis. Namun ini biasanya berlaku hanya pada darah yang sedikit atau berupa cipratan atau darah yang keluar akibat luka.

Allah sendiri telah mengharamkan meminum atau memakan darah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu rijsun (kotor).” (QS. Al-An’am: 145). Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari menyatakan bahwa yang dimaksud rijsun di sini adalah najis dan kotor. (Jami’ Al-Bayan, 8:93)

Dari hadist diatas, darah sebaiknya segera disucikan atau dibersihkan. Misal, darah pada haid. Adapun haid sebaiknya dibersihkan dengan cara dicuci pada bagian tubuh atau pakaian yang terkena dengan darah haid.

Dari Asma’ radhiyallahu anha, ia berkata: “Seorang perempuan datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Pakaian salah seorang dari kami terkena darah haid, apa yang harus ia lakukan?’ Beliau menjawab, ‘Keriklah darah itu terlebih dahulu, kemudian bilaslah dengan air, kemudian cucilah ia. Setelah itu engkau boleh memakainya untuk shalat.” (HR. Bukhari, no. 330 dan Muslim, no. 291)

Al Hasan Al Bashri mengatakan: “Kaum muslimin (yaitu para sahabat) biasa mengerjakan shalat dalam keadaan luka.”

Ibnu Mas’ud yang menceritakan tentang shalatnya Rasul dengan darah dan kotoran: “Ibnu Mas’ud pernah shalat dan di bawah perutnya terdapat kotoran (hewan ternak) dan terdapat darah unta yang disembelih, namun beliau tidak mengulangi wudhunya.”

Hal ini diperkuat juga dalam hadist lainnya

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di sisi Ka’bah. Sedangkan Abu Jahl dan sahabat-sahabatnya sedang duduk-duduk ketika itu. Sebagian mereka mengatakan pada yang lainnya, “Coba kalian pergi ke tempat penyembelihan si fulan”. Lalu Abu Jahl mendapati kotoran hewan, darah sembelihan dan sisa-sisa lainnya, kemudian ia perlahan-lahan meletakkannya pada pundak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sujud. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa kesulitan dalam shalatnya. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud, Abu Jahl kembali meletakkan kotoran dan darah tadi di antara pundaknya. Beliau tetap sujud, sedangkan Abu Jahl dan sahabatnya dalam keadaan tertawa.” (HR. Bukhari no. 240 dan Muslim no. 1794)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Khaulah bertanya : “Ya Rasulullah, bagaimana kalau darah itu tidak hilang? Rasulullah bersabda : “cukup bagimu mencucinya dengan air, dan tidak apa-apa bekasnya bagimu”. (HR. Tirmidzi dan sanadnya lemah).

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj: 78) “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185) []


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.