, Bekal Memahami Al Quran
Unik, Informatif , Inspiratif

Bekal Memahami Al Quran

0

Al-Qur’an adalah kitab untuk manusia yang tak bisa berbicara sendiri. Ia datang dan menyapa masyarakat yang memiliki tata budaya, bahasa, prinsip dan pola hubungan sosial serta tatanan kehidupan bermasyarakat lainnya. Oleh karena itu, al-Qur’an membutuhkan juru bicara yang mampu menerjemahkan pesan yang terkandung di dalamnya kepada masyarakat. Dengan demikian al-Qur’an akan menjadi kitab inspirasi bukan hanya berisi instruksi.

Buku ini memperluas cakupan makna dua dari beberapa topik bahasan dalam Ulum al-Qur’an, yaitu Makiyyah dan-Madaniyyah dan asbab al-Nuzul. Dua topik ini dipilih karena dalam hemat penulis keduanya paling mungkin untuk dilakukan dua hal terhadapnya: Pertama, revitalisasi dan perluasan jangkauan makna, dan kedua, pengembangan wawasan dan pengayaan maka terhadap ayat atau surah makiyyah dan madaniyyah serta ayat atau surah yang memiliki asbab al-nuzul dalam konteks kekinian.

Ilmu makiyyah-madaniyyah merupakan salah satu cara terbaik dalam mengetahui perjalanan dakwan Nabi Muhammad Saw, perjalanan kedewasaan umat Islam awal dan perjalanan hukum Islam. Dua tipologi ayat yang kemudian dapat diamati dalam ayat-ayat al-Qur’an menggambarkan perjalanan-perjalanan itu.

Sedangkan ilmu asbab al-nuzul sesungguhnya menunjukkan pentingnya pembacaan teks yang berkesadaran historis. Bahwa yang kita baca bukan melulu teks secara lahiriah, melainkan banyak hal yang mengelilingi teks. Yang kita baca adalah hakikat realitas bukan bentuk sesuatu yang artifisial.

Menurut penulis buku, konsep dalam ulum al-Qur’an seperti makiyyah-madaniyyah dan asbab al-nuzul perlu didekati dengan ilmu-ilmu sosial dan ilmu lainnya agar konsep-konsep klasik tersebut tetap mampu mengikuti derap zaman dengan segala dinamika yang mengiringnya. Hanya lewat pengembangan wawasan dan pendekatan serta perluasan cakupan, jargon bahwa ajaran Islam dapat bertahan kapan pun dan dimana pun dapat diwujudkan.

Dengan kata lain, harus ada kontekstualisasi mengenai konsep makiyyah-madaniyyah dan azbab al-nuzul. Buku ini telah memberikan beberapa contoh kontekstualisasi pemahaman surat-surat makiyyah-madaniyyah. Misalnya pada halaman 162 penulis menjelaskan surat al-Fatihah dan halaman 181 yang membahas kontekstualisasi surat al-Dhuha.

Contoh kontekstualisasi pemahaman sabab al-nuzul juga dapat dijumpai pada halaman 240 yang membahas surat al-Mudatsir dan pada halaman selanjutnya membahas tentang surat abasa. Hasilnya adalah tafsir baru ayat-ayat al-Qur’an yang sesuai dengan kondisi masyarakat tanpa keluar dari nilai-nilai prinsipil yang terkandung dalam al-Qur’an.

Orang-orang yang memiliki semangat tinggi untuk kembali kepada al-Qur’an perlu untuk membaca buku ini agar tahu bahwa al-Qur’an membutuhkan penjelasan yang dapat menjawab tantangan zaman. Bukan sebaliknya, memahami al-Qur’an secara tekstual tanpa tahu latar belakang, tujuan dan semangat yang terkandung di dalamnya. Hal ini, justru akan membuat al-Qur’an menjadi kitab klasik yang sudah mati karena tergilas oleh zaman dan tidak memiliki peran apa-apa dalam membangung peradaban.

Buku ini memerlukan kajian-kajian lanjutan. Pertama, bukan hanya topik makiyyah-madaniyyah dan asbab al-nuzul saja. Kedua, kontekstualisasi beberapa surat dan ayat yang terdapat dalam buku ini masih terbilang mentah. Perlu pematangan lebih lanjut, terutama dalam hal pendekatan sosiologis-historis. Ketiga, surat dan ayat dibahas dengan pendekatan sosiologis-historis hanya beberapa contoh sederhana. Maka kajian dalam buku ini perlu dikembangkan dan dimatangkan. []

SUMBER: islami.co


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.