Mendengar hal ini, Sultan Salahudin pun marah dan mengacungkan pedangnya kelangit, seraya berkata, “Demi Allah! Lehernya akan jatuh ke pedang ku”.
Foto: logo

Belajar dari Fir’aun

Al-Qur’an telah Allah SWT turunkan kepada Rasulullah SAW sebagai mukjizat terbesarnya dan menjadi pedoman hidup umat muslim hingga hari ini.

Dalam al-Qur’an, terdapat banyak fakta ilmiah, aturan-aturan, larangan kehidupan beragama hingga kisah-kisah umat terdahulu. Kisah-kisah dari umat terdahulu ini bisa kita teladani apabila datang dari orang yang saleh, dan bisa kita jadikan pelajaran apabila datang dari mereka yang berbuat dosa dan dikutuk oleh Allah, agar kita tidak terjerumus pada kesalahan yang sama dengan mereka.

“Maka mereka mengakui dosanya. Tetapi jauhlah (dari rahmat Allah) bagi penghuni neraka yang menyala-nyala itu,”(QS. Al-Mulk: 11).

Ada banyak pelajaran penting yang Allah SWT gambarkan dalam al-Qur’an. Salah satunya terdapat dalam surah al-Mulk ayat 11 ini. Yang mewakili beberapa contoh orang non muslim yang mengakui kesalahan mereka setelah berhadapan dengan kenyataan bahwa Allah SWT-lah sebenar-benar Pencipta alam semesta, dan kepada-Nya tempat kembali segala sesuatu.

BACA JUGA: Panti Jompo, Bagaimana Menurut Islam? (1)

Kisah Fir’aun juga merupakan contoh yang jelas. Dia mengaku dirinya sebagai tuhan bangsa Mesir, tetapi Allah SWT menenggelamkannya di Laut Merah. Ketika hampir mati tenggelam, dia baru mengakui kesalahannya dan beriman.

“Dan Kami selamatkan bani Israil melintasi laut, kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir’aun hampir tenggelam dia berkata, ‘Aku percaya bahwa tiada ilah melainkan Ilah yang dipercayai bani Israil, dan aku termasuk orang-orag muslim (berserah diri)’,”(QS. Yunus: 90).

Menganalisa susunan kalimat pengakuan Fir’aun pada ayat itu, Syihabuddin as-Sayyid Mahmud Afandi al-Alusi al-Baghdadi, dalam kitab Tafsir Ruuhul Ma’aani memberikan komentar, “Kalimat pengakuan Fir’aun tidak sama dengan yang diucapkan oleh para tukang sihirnya yang lebih dulu beriman. Para tukang sihirnya berkata, ‘Kami beriman kepada Rabb alam semesta,

Rabbnya Musa dan Harun,'(QS. Asy-Syu’ara: 47-48). Kalimat ini mendahulukan penyebutan Rabb alam semesta sebelum Rabbnya Musa dan Harun. Sementara pengakuan Fir’aun mendahulukan Ilah yang diimani oleh Bani Israil dan tidak langsung menyebut Ilah alam semesta. Susunan kalimat Fir’aun itu mengindikasikan pengakuan setengah hati dan menunjukkan masih adanya sedikit keraguan dalam dirinya akan kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi Musa AS.

Para mufasir menyatakan keimanan Fir’aun itu telah terlambat, berdasarkan firman Allah SWT pada ayat berikutnya,

“Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan,”(QS. Yunus: 91).

BACA JUGA: Bagaimana Bangsa Mesir Kuno Bangun Piramida?

Fir’aun termasuk salah satu contoh orang-orang yang terlambat beriman meski telah nyata baginya tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Keimanannya yang terlambat tidak bisa mengubah apa pun untuk kehidupan mereka di akhirat,

“Maka iman mereka ketika mereka telah melihat adzab Kami adzab Kami tidak berguna lagi bagi mereka, itulah (ketentuan) Allah SWT yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan ketika itu rugilah orang-orang kafir,” (QS. Al-Mu’min: 85).

Beriman setelah melihat siksa neraka secara nyata; beriman setelah melihat tanda-tanda nyata akan terjadinya Kiamat besar, seperti terbitnya matahari di ufuk barat; beriman di saat ajal menjemput dan napas telah sampai di kerongkongan; itu semua termsuk dalam katagori keimanan yang terlambat dan tidak diterima oleh Allah SWT.

Sebab, hakikat keimanan adalah keyakinan terhadap semua perkara gaib (seperti keberadaan Allah SWT, malaikat, alam barzakh, surga, neraka, dan lain sebagainya), sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 3, “Dan orang-orang yang beriman dengan perkara yang gaib.”

Ketika semua perkara gaib itu telah tampak, maka dia sudah tidak termasuk perkara gaib dan telah berubah menjadi perkara yang nyata.

BACA JUGA: Kurang Tidur, Bagaimana Cara Menggantinya?

Fir’aun adalah simbol kesombongan manusia yang Allah SWT jadikan sebagai pelajaran bagi semua manusia. Sifat sombong akan mengunci mati hati dalam kekufuran dan maksiat, sehingga sangat jarang orang sombong yang bertaubat, sampai semua ancaman siksa neraka dan azab kubur benar-benar tampak nyata bagi mereka.

Ada banyak bukti kekuasaan Allah di alam semesta, serta berbagai hasil penelitian ilmiah modern yang membuktikan kebenaran ayat-ayat al-Qur’an. Apakah semua itu belum cukup untuk “membunuh” kesombongan orang-orang yang non muslim dan menjadikan mereka beriman. []

 

Sumber: Kerajaan Al-Qur’an/Hudzaifah Ismail/Penerbit: Penerbit Almahira/2012


Artikel Terkait :

About Mila Munawwaroh

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *