foto: merdeka

Belum Tuntas Qadha` Puasa, Ramadhan sudah Datang Lagi, Apa yang Harus Dilakukan?

Marhaban ya Ramadhan. Akhirnya bulan yang dinanti-nati umat Islam di seluruh penjuru dunia telah tiba. Semua orang menyambut gembira penuh sukacita.

Pasalnya, pada bulan suci yang penuh berkah ini setiap amal dilipatgandakan pahalanya, pintu rahmat tercurah, dan ampunan Allah terbuka seluas-luasnya.

Namun, barangkali masih ada sebagian orang yang khawatir dan cemas dengan datangnya bulan suci Ramadhan ini.

Biasanya, mereka adalah orang yang masih memiliki utang puasa tahun lalu, tetapi belum sempat tuntas dibayarkan (qadha) hingga tiba kembali Ramadhan tahun ini.

Nah, dalam kasus yang demikian bagaimana hukumnya orang yang belum bayar utang puasa tahun kemarin, tetapi sudah berjumpa lagi dengan Ramadhan?

Jawab:

Siapa yang belum mengqadha puasa Ramadhan yang lalu kemudian sudah datang lagi Ramadhan berikutnya maka harus dilihat dulu alasan penundaan (ta`khir) qadha tersebut.

Jika penundaan itu karena ada udzur (alasan syar’i), seperti sakit, nifas, menyusui, atau hamil, tidak mengapa.

Demikian menurut seluruh mazhab tanpa ada perbedaan pendapat sebab yang bersangkutan dimaafkan karena ada udzur dalam penundaan qadha`-nya.

Namun jika penundaan qadha` itu tanpa ada udzur, para ulama berbeda pendapat dalam dua pendapat:

Pendapat Pertama, pendapat jumhur, yaitu Imam Malik, Ats-Tsauri, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan lain-lain berpendapat orang tersebut di samping tetap wajib mengqadha`, dia wajib juga membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin untuk setiap hari dia tidak berpuasa.

Fidyah ini adalah sebagai kaffarah (penebus) dari penundaan qadha`-nya.

Demikian penuturan Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni Ma’a Asy-Syarh Al-Kabir, II/81 (Dikutip oleh Yusuf al-Qaradhawi, Fiqhush Shiyam, [Kairo : Darush Shahwah], 1992, hal. 64).

Pendapat pertama ini terbagi lagi menjadi dua:

(1) Menurut ulama Syafi’iyah, fidyah tersebut berulang dengan berulangnya Ramadhan (Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh Ala al-Mazahib Al-Arba’ah Kitabush Shiyam (terj), hal. 109).

(2) Sedangkan menurut ulama Malikiyah dan Hanabilah, fidyah hanya sekali, yakni tidak berulang dengan berulangnya Ramadhan (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, II/680).

Dalil pendapat pertama ini, yakni yang mewajibkan fidyah di samping qadhakarena adanya penundaan qadha hingga masuk Ramadhan berikutnya, adalah perkataan sejumlah sahabat, seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah (Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm], 2000, hal. 872).

Ath-Thahawi dalam masalah ini meriwayatkan dari Yahya bin Aktsam, “Aku mendapati pendapat ini dari enam sahabat yang tidak aku ketahui dalam masalah ini ada yang berbeda pendapat dengan mereka.” (wajadtuhu ‘an sittin min ash-shahabati laa a‘lamu lahum fiihi mukhalifan). (Mahmud Abdul Latif Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shiyam, [Beirut : Mu`assasah Ar-Risalah], 2002, hal. 210).

Imam Syaukani menjelaskan dalil lain bagi pendapat pertama ini, yaitu sebuah riwayat dengan isnad dhaif dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang sakit pada bulan Ramadhan lalu dia tidak berpuasa, kemudian dia sehat, tetapi tidak mengqadha` hingga datang Ramadhan berikutnya.

Nabi shalallahu alaihi wa sallam pun bersabda, ”Dia berpuasa untuk bulan Ramadhan yang menyusulnya itu, kemudian dia berpuasa untuk bulan Ramadhan yang dia berbuka padanya dan dia memberi makan seorang miskin untuk setiap hari (dia tidak berpuasa).” (yashuumu alladziy adrakahu tsumma yashuumu asy-syahra alladziy afthara fiihi wa yuth’imu kulla yaumin miskiinan). (HR. Ad-Daruquthni, II/197). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 871; Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, II/689).

Pendapat Kedua, pendapat Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya, Imam Ibrahim An-Nakha`i, Imam al-Hasan Al-Bashri, Imam Al-Muzani (murid Asy-Syafi’i), dan Imam Dawud bin Ali.

Mereka mengatakan bahwa orang yang menunda qadhahingga datang Ramadhan berikutnya, tidak ada kewajiban atasnya selain qadha. Tidak ada kewajiban membayar kaffarah (fidyah) (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, I/240; Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, II/240; Mahmud Abdul Latif Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shiyam, hal. 210).

Dalil ulama Hanafiyah ini sebagaimana dijelaskan Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu (II/240) adalah kemutlakan nash Alquran yang berbunyi “fa-‘iddatun min ayyamin ukhar” yang berarti “maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS Al-Baqarah [2]: 183)

Masalah Fidyah

Mengenai wajib tidaknya fidyah atas orang yang menunda qadhaRamadhan hingga datang Ramadhan berikutnya, pendapat yang <em>rajih</em> adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Ibrahim An-Nakhai, dan lain-lain.

Pendapat ini menyatakan bahwa orang yang menunda qadhahingga masuk Ramadhan, hanya berkewajiban qadhatidak wajib membayar fidyah.

Hal itu dikarenakan kewajiban membayar fidyah bagi orang yang menunda qadha` Ramadhan hingga masuk Ramadhan berikutnya, membutuhkan adanya dalil khusus dari nash-nash syara’. Padahal, tidak ditemukan nash yang layak menjadi dalil untuk kewajiban fidyah itu. (Mahmud Abdul Latif Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shiyamhal.210).

Adapun dalil hadits Abu Hurairah yang dikemukakan, adalah hadits dhaif yang tidak layak menjadi hujjah (dalil). Imam Syaukani berkata, “…telah kami jelaskan bahwa tidak terbukti dalam masalah itu satu pun [hadis shahih] dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam.” (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 872).

Yusuf al-Qaradhawi meriwayatkan tarjih serupa dari Shiddiq Hasan Khan dalam kitabnya Ar-Raudatun An-Nadiyah (I/232), “…tidak terbukti dalam masalah itu sesuatu pun [hadits sahih] dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam.” (Yusuf Al-Qaradhawi, Fiqhush Shiyam, hal. 64).

Pendapat beberapa sahabat yang mendasari kewajiban fidyah itu adalah dasar yang lemah.

Sebab pendapat sahabat –yang dalam ushul fiqih disebut dengan mazhab ash-shahabi atau qaul ash-shahabi— bukanlah hujjah (dalil syar’i) yang layak menjadi sumber hukum Islam.

Imam Syaukani berkata, “Pendapat yang benar bahwa qaul ash-shahabi bukanlah hujjah [dalil syar’i].” (Imam Syaukani, Irsyadul Fuhul, hal. 243).

Imam Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan, “…mazhab sahabat tidak termasuk dalil syar’i.” (Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah, III/411).

Mengenai periwayatan ath-Thahawi dari Yahya bin Aktsam bahwa dia berkata, “Aku mendapati pendapat ini dari enam sahabat yang tidak aku ketahui dalam masalah ini ada yang berbeda pendapat dengan mereka,” tidaklah dapat diterima.

Mahmud Abdul Latif Uwaidhah dalam Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shiyam hal.210 mengatakan, “Sesungguhnya, riwayat-riwayat dari sahabat ini tidaklah terbukti sebab riwayat-riwayat itu berasal dari jalur-jalur riwayat yang lemah [dhaif]. Maka ia wajib ditolak dan tidak boleh ditaqlidi atau diikuti.”

Wallahu a’lam bishawab. []

 

 

Sumber: K.H. Muhammad Shiddiq Al-Jawi, Mudir Ma’had Hamfara Yogyakarta/Konsultasi Islam


Artikel Terkait :

About matiar

Check Also

setan

Kulit Membiru karena Dicubit Setan, Benarkah?

Hal ini disebabkan karna penggumpalan darah akibat pecahnya dinding pembuluh darah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *