Unik, Informatif , Inspiratif

Benarkah Isa Al-Masih Belum Wafat dan Akan Turun Kembali ke Bumi Jelang Kiamat?

0

Dalam akidah Islam, kaum muslim wajib memercayai bahwa Isa alaihis salam adalah salah seorang dari 25 nabi dan rasul yang wajib diimani. Karena itu, kita wajib mengetahui dan meyakini kebenaran atas kenabian Nabi Isa alaihi sallam.

Apabila saat ini kita membicarakan tentang Nabi Isa alaihis salam pada hari yang oleh orang-orang Nasrani disebut hari wafatnya, tidaklah salah karena Islam berkepentingan meluruskan masalah ini, yakni terutama tentang penyaliban dan kamatian Nabi Isa alaihis salam dan akan turunnya ke bumi pada masa depan sebelum hari Kiamat.

Related Posts
2

Hak-Hak Binatang dalam Islam

3

Ini HAM versi Islam

Secara jelas dan tegas, Allah subhanahu wa ta’ala dalam Alquran, surah An-Nisa ayat 157, memberikan bantahan tentang penyaliban Nabi Isa alaihis salam sebagai berikut:

وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ

“Mereka tidaklah membunuh Isa dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa.” (QS. An-Nisa: 157)

Dalam doktrin Nasrani, para pemeluknya diwajibkan meyakini bahwa Isa Al-Masih meninggal dunia dalam kayu salib.

Penyaliban ini sangat penting bagi mereka karena berkaitan langsung dengan doktrin pengampunan dosa asal.

Yang mereka maksud dengan dosa asal adalah dosa warisan yang secara turun-temurun diwariskan oleh Adam dan Hawa kepada semua manusia akibat memakan buah khuldi di surga.

Dosa asal tersebut kemudian ditebus oleh Isa dengan penyaliban dirinya di kayu salib hingga meninggal dunia.

Di dalam Islam, doktrin tentang dosa warisan tidak dikenal.

Justru Islam mengajarkan bahwa setiap anak manusia lahir ke bumi dalam keadaan suci tanpa membawa dosa apa pun dan dari siapa pun termasuk dari kedua orang tuanya sendiri dan apalagi dosa Nabi Adam dan Hawa.

Hal ini sebagaimana ditegaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadisnya yang diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a.:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci).” (HR. Bukhari)

Isa Al-Masih wafat merupakan dogma yang harus diyakini oleh para pemeluk Nasrani sebagaimana mereka harus meyakini bahwa setelah wafat kemudian hidup kembali pada hari ketiga, tepatnya pada hari Minggu, yang kemudian dikenal dengan Minggu Paskah atau Hari Kebangkitan Isa Al-Masih.

Pertanyaannya kemudian, bagaimanakah pandangan Islam yang didasarkan pada Alquran dan Hadits tentang wafatnya Nabi Isa yang oleh orang-orang Nasrani diyakini hidup kembali?

Para ahli tafsir bersepakat bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam tidak pernah disalib.

Sebagaimana ditegaskan dalam Surat An-Nisa, ayat 157 tadi, orang yang meninggal dalam kayu salib tersebut sebetulnya adalah seseorang yang oleh Allah subhanahu wata’ala diserupakan dengan Nabi Isa ‘alaihis salam.

Banyak pihak meyakini ia bernama Yudas Iskariot.

Sekali lagi pada kasus penyaliban ini para ahli tafsir dalam Islam bersepakat satu pandangan.

Namun, terkait dengan pertanyaan apakah Nabi Isa benar-benar telah wafat, mereka tidak bersepakat.

Para ahli tafsir dalam Islam memang terbelah dua dalam menyikapi apakah Nabi Isa ‘alaihis salam telah wafat atau masih hidup.

Mereka memiliki argumentasi masing-masing yang pada intinya mereka berbeda dalam menafsirkan surah Ali Imran ayat 55, surah Al-Ma‘idah ayat 117 dan 144, serta surah An-Nisa’ ayat 159.

Perbedaan penafsiaran terjadi terutama dalam memaknai kata  مُتَوَفِّيكَ “mutawaffika” yang terdapat dalam Aquran surah Ali Imran, ayat 55 sebagai berikut:

إِذْ قالَ اللهُ يا عيسى‏ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَ رافِعُكَ إِلَيَّ وَ مُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذينَ كَفَرُوا

“(Ingatlah) tatkala Allah berkata: Wahai lsa,sesungguhnya Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepada-Ku, dan membersihkan engkau dari orang-orang yang kafir.” 

Beberapa ahli tafsir meyakini bahwa  kata-kata مُتَوَفِّيكَ yang artinya “mewafatkan engkau” pada ayat di atas bermakna sesuai dengan arti leksikal atau makna dhahirnya, yakni “wafat” atau “mati”.

Dengan pemahaman seperti itu mereka meyakini bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam benar-benar telah diwafatkan oleh Allah sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Para ahli tafsir yang memiliki pemahaman seperti ini antara lain adalah Buya Hamka, Syaikh Muhammad Abduh, dan Sayyid Rasyid Ridha, Prof.Dr. Mahmud Syaltut, dan sebagainya.

Selain itu, mereka dalam menafsirkan kata-kata وَ رَافِعُكَ yang artinya “Allah mengangkat engkau (Nabi Isa)” sebagaimana terdapat dalam surah Ali Imran, ayat 55, bukan dalam arti bahwa Allah mengangkat ruh dan jasmani beliau ke langit, tetapi Allah mengangkat derajat Nabi Isa ‘alaihis salam tinggi-tinggi sebagaimana Allah mengangkat derajat para nabi lainnya.

Jadi, yang diangkat oleh Allah menurut para ahli tafsir tersebut bukan fisik dan rohani Nabi Isa ‘alaihis salam, melainkan hanya derajatnya sehingga bersifat immaterial.

Demikian pula terkait dengan akan turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam ke bumi, mereka menafsirkan bahwa bukan jasad dan ruh Nabi Isa ‘alaihis salam yang akan turun ke bumi, melainkan ajarannya yang asli yang penuh rahmat, cinta, dan damai.

Ajaran itu mengambil maksud pokok dari syariat. (Lihat Syaikh Muhammad Abduh, Tafsir Al-Qur’an al-Hakim [Tafsir al-Mannar], Kairo, Dar al-Mannar, 1376 H, Juz 3,Cet. III, hal. 317).

Beberapa ahli tafsir lainnya yang meyakini bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam belum wafat atau masih hidup mendasarkan pemahamannya bahwa kata مُتَوَفِّيكَ pada surah Ali Imran ayat 55 tidak bermakna leksikal “mewafatkan engkau”, tetapi bermakna kontekstual, yakni “menidurkan engkau”, sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir bahwa yang dimaksud dengan اَلْوَفَاةُ “wafat” terkait Nabi Isa ‘alaihis salam adalah اَلنَّوْمُ yang artinya “tidur”. (Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-‘Adhim, Bairut, Dar Ibn Hazm, 2000, hal. 368).

Pemaknaan kontekstual seperti itu berimplikasi bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam belum wafat atau masih hidup baik secara fisk maupun non-fisik karena mereka meyakini Allah mengambil ruh dan jasad Nabi Isa secara bersama sama untuk diangkat ke langit dalam keadaan tidur.

Implikasi berikutnya adalah mereka memahami bahwa Nabi Isa akan turun ke bumi dengan  jasad dan ruhnya di masa depan berdasarkan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Para ahli tafsir yang memilih pemaknaan seperti ini selain Ibnu Katsir, adalah Al Baidhawi, Syaikh Thanthawi, Ibnu Taimiyah, dan lain sebagainya.

Meskipun terdapat dua kubu ahli tafsir yang berbeda pendapat tentang sudah wafatnya Nabi Isa ‘alaihis salam, namun sebagian besar umat Islam sepakat bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam masih hidup sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Athiyah dalam kitab tafsirnya Al-Muharrar Al-Wajiz sebagai berikut:

وَأَجْمَعَتِ الْأُمَّةُعَلَى مَا تَضَمَّنَهُ الْحَدِيثُ الْمُتَوَاتِرُمِنْ: «أَنَّ عِيسَى فِي السَّمَاءِ حَيٌّ،وَأَنَّهُ يَنْزِلُ فِي آخِرِالزَّمَانِ، فَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ، وَيَكْسِرُالصَّلِيبَ، وَيَقْتُلُ الدَّجَّالَ، وَيَفِيضُ الْعَدْلُ، وَتَظْهَرُ بِهِ الْمِلَّةُ، مِلَّةُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَحُجُّ الْبَيْتَ، وَيَعْتَمِرُ، وَيَبْقَى فِي الْأَرْضِ أَرْبَعًا وَعِشْرِينَ سَنَةً» وَقِيلَ: أَرْبَعِينَ سَنَةً ثُمَّ يُمِيْتُهُ اللهُ تَعَالَى

“Umat Islam sepakat untuk meyakinkan kandungan hadis yang mutawatir bahwa Nabi Isa hidup di langit. Beliau akan turun di akhir zaman, membunuh babi, mematahkan salib, membunuh Dajjal, menegakkan keadilan, agama Nabi Muhammad menjadi menang bersama beliau, Nabi Isa juga berhaji dan umrah, dan menetap di bumi selama dua puluh empat. Ada juga yang menyakan 40 tahun dan kemudian Allah mewafatkannya.” (lihat Ibnu Athiyyah, al-Muharrar al-Wajiz, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001, Juz I, hal. 444).

Menyikapi khilafiyah di bidang keyakinan sebagaimana diuraikan di atas, umat Islam tidak perlu berkecil hati ataupun mengkhawatirkan sesuatu sebab masalah ini bukanlah masalah keimanan yang bersifat fundamental, melainkan lebih merupakan perbedaan biasa karena secara umum merupakan perbedaan budaya.

Masing-masing umat Islam baik yang percaya maupun tidak percaya bahwa Nabi Isa alaihis salam masih hidup tidak berisiko menanggung apa pun sebab persoalan ini bukan masalah qath’i. Mereka tetap sama-sama mukmin dan bukan kafir.

Wallahu a’lam bishawab. []

 

Sumber: nu.or.id


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.