surga
Foto: ThoughtCo

Benarkah Surga Itu Fana?

Surga itu abadi, tidak pernah fana maupun musnah. Penduduknya juga abadi, tidak pernah meninggalkan surga, tidak pernah pergi, tidak pernah rusak, dan tidak pernah mati.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَايَذُوْقُوْنَ فِيْهَا الْمَوْتَ إِلاَّ الْمَوْتَةَ الْأُوْلَى وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ

“Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka.” (QS. Ad-Dukhân: 56)

Firman-Nya:

إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا. خَالِدِيْنَ فِيْهَا لَايَبْغُوْنَ عَنْهَا حِوَلًا

“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.” (QS. Al-Kahfi: 107–108)

Ketika berbicara tentang abadinya neraka, kita telah mengutip sejumlah hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang memberitahukan tentang disembelihnya maut di antara surga dan neraka.

Selanjutnya, dikatakan kepada penduduk surga dan penduduk nereka: “wahai penduduk surga, abadilah dan tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, abadilah dan tidak ada lagi kematian.”

Makna dari nash-nash ini adalah bahwa surga itu diciptakan sebagai makhluk yang tidak akan fana, termasuk juga penduduknya.

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ يُنْعَمْ لَايَبْأَسُ، لَاتَبْلَى ثِيَابُهُ وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُ

“Siapa yang masuk surga maka ia diberi nikmat. Pakaiannya tidak pernah usang dan keremajaannya tidak pernah hilang.” (HR. Muslim)

Dengarkanlah seruan mulia dari Tuhan yang digunakan untuk menyeru penduduk surga setelah mereka masuk surga:

Sesungguhnya, kalian berhak untuk sehat hingga tidak pernah sakit selama-lamanya. Kalian berhak untuk hidup hingga tidak akan mati selama-lamanya. Kalian berhak untuk menjadi remaja hingga tidak akan pernah tua untuk selama-lamanya. Kalian berhak mendapat nikmat hingga tidak pernah sial selama-lamanya.”

Ini adalah makna firman Allah:

وَنُوْدُوْا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“ltulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-A’râf: 43) (ShahîhMuslim, kitab Al-Jannah, bab “Dawam Na’im al-Jannah”, 4/2182, nomor: 2837)

Adapun orang yang mengatakan bahwa surga, demikian pula neraka, itu fana adalah Jahm ibn Shafwan, imam aliran Mu’athilah.

Ia sama sekali tidak memiliki pendahulu, baik dari kalangan sahabat maupun para tabi’in, yang mengikuti kebaikan para sahabat.

Tidak pula dari para imam kaum Muslimin maupun Ahlussunnah.

Pendapat ini pun ditolak oleh semua Ahlussunnah.

Sementara itu, Abu al-Hudzail al-‘Allaf, guru kaum Mu’tazilah, menyatakan fananya gerak penduduk neraka maupun surga sehingga mereka semua diam untuk selama-lamanya dan tak seorangpun di antara mereka yang bisa bergerak. (Lihat: Syarh ath-Thahawiyah, hlm. 480)

Semua pendapat ini adalah batil.

Pen-syarahkitab Ath-Thahawiyah mengatakan, “Adapun keabadian surga, dan bahwa ia tidak pernah fana maupun punah, adalah sesuatu yang diketahui secara otomatis bahwa Rasulullah telah memberitahukannya. Allah berfirman,

وَأَمَّا الَّذِيْنَ سُعِدُوْا فَفِى الْجَنَّةِ خَالِدِيْنَ فِيْهَا مَادَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلاَّ مَاشَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوْذٍ

‘Adapun orang-orang yang berbahagia maka tempatnya di dalam surga; mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.’ (QS. Hûd: 108)

Artinya, tidak pernah terputus. Hal ini tidak menafikan firman Allah:

إِلاَّ مَاشَاءَ رَبُّكَ

kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain)’.” (QS. Hûd: 108)

Wallahu a’lam bishawab. []

 

Sumber: Surga dan Neraka | Karya: Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar


Artikel Terkait :

About matiar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *