Foto: VIVA

Bermanfaat Itu Sederhana, Berbagi Makan Gratis ala Warung Sedekah

Setiap Rabu, sebuah spanduk bertuliskan “Warung Sedekah” berkibar dengan anggunnya di depan sebuah ruko di Bilangan Dramaga, Bogor. Dari sana, puluhan kaum dhuafa berjejer dengan rapi dan disiplin. Menunggu giliran untuk dilayani satu persatu, mendapat satu porsi makanan. Dan itu gratis, tanpa dipungut biaya sama sekali.

“Ada yang jalan kaki 3 kilo mbak, buat dapetin nasi kesini. Itu pun udah motong jalan,” demikian pengakuan bu Lik—salah seorang pelayan di Warung Sedekah itu.

“Dibelakang tuh mas, ibu 6 anak, kasian, sering ga makan,” dan berbagai komentar lainnya yang muncul berkenaan dengan keberadan Warung Sedekah yang ternyata mendapatkan respon positif.

April 2016 lalu, Warung Sedekah mulai beroperasi. Adalah Prakoso Bayu Adhi Widyanto—seorang wirausaha— bersama istri menggagas ide tersebut. Pengusaha yang juga aktif di dunia dakwah itu, menuturkan tadinya porsi yang disiapkan hanya untuk 100 orang saja.

“Tiap pelaksanaan warung sedekah, kami awalnya menyiapkan 100 porsi. Tapi dulu lama abisnya. Dari jam 11, abisnya jam 3 atau jam 4,” tutur Bayu kepada Inspiradata melalui pesan tertulis.

Makanan yang diperuntukan tak hanya untuk kaum dhuafa saja—tapi untuk siapa saja yang membutuhkan—lanjut Bayu, kini porsinya sudah bertambah menjadi 150 porsi sejak awal November lalu.

Ketika ditanya soal motivasi berbagi lewat Warung Sedekah ini, Bayu menuturkan dahulunya—sang Istri—berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun sang ibu mertua tetap berbagi makanan kepada sesama, meski dalam tanda kutip bernasib kurang beruntung.

“Pengalaman ketika istri kecil, keluarga sebetulnya gak mampu, tapi ibu (mertua saya*) tetap berbagi makanan ke tetangga yang sama-sama ga mampu, bahkan lebih ga mampu,” jelas Bayu.

Selain itu, Bayu menjelaskan dahulu bisnisnya pernah kolaps. “Untuk sekedar makan saja, harus numpang lagi ke rumah orang tua dan mertua atau puasa,” terang Bayu.

“Dari situ, kami tau rasanya nikmat bisa makan atau punya makanan ketika Allah menguji kami melalui kondisi bisnis kami.”

Kejadian itu sedikit banyak menginspirasi Bayu bersama istri untuk berbagi dengan sesama, dengan cara yang sederhana. Berbagi satu bungkus makanan.

“Kami terinspirasi oleh aktivitas serupa yang dilakukan oleh orang-orang lain di tempat lain. Kok keliatannya bisa liat orang senyum bahagia dapat makan gratis itu, rasanya gimana gitu. Lalu dimulai dengan sedekah sebungkus nasi pada siapa saja disekitar, atau yang kami temui di jalan, jelas Bayu.

Upaya Bayu untuk berbagi terhadap sesama, tak hanya sampai sini saja. Bahkan ia bercita-cita membeli kendaran pick up agar Warung Sedekahnya bisa mobile dan menjangkau daerah lainnya.

“Next #lifegoals, menabung untuk mobil pick up agar manfaat warung ini bisa mobile. Bismillah… semoga Allah mampukan kita semua keringanan dan kelapangan hati dan rezeki untuk berbagi. Ayo berbagi,” tutup Bayu. Subhanallah. []


Artikel Terkait :

About Susanti

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

One comment

  1. Semoga Allah berikan keberkahan dalam hidup anda dan keluarga… dan mudah2an sy bisa mengikuti jejak anda… aamiin ya Allah..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *