Unik, Informatif , Inspiratif

Berpoligami, Wajib Adil pada 4 Perkara Ini

0

Poligami dalam pernikahan termasuk syariat Islam yang mulia. Dan tidaklah Allah mensyariatkan sesuatu kecuali besar maslahatnya untuk kehidupan manusia. Jika ada praktik poligami yang tidak sesuai dengan indahnya teori poligami itu sendiri, maka bisa dipastikan orang yang menjalaninya belum memiliki ilmu poligami.

Poligami tidaklah mendatangkan problematika rumah tangga dan fitnah, tidak sama sekali, bahkan untuk mendatangkan cinta serta kasih sayang, jadilah masing-masing dari para istri yang akan saling menghormati dan memuliakan karena bagusnya muamalah kepada semua istri dan semua anak-anak.

Suami tidak boleh pilih kasih antara anak-anak dari istri yang ini dan anak-anak dari istri yang itu dan anak-anak dari istri yang ketiga dan anak-anak dari istri yang keempat, seluruhnya adalah anak-anakmu, engkau muliakan seluruh dari mereka, dan begitu juga para istri, seluruh dari mereka adalah istri-istrimu, masing-masing dari mereka memiliki hak-hak.

Apa yang terjadi dari para istri berupa sikap jengkel dan marah (terhadap perkara poligami) adalah disebabkan karena mereka (sering) mendengar cerita bahwa fulan telah berbuat zalim kepada istrinya dan fulan telah mentalak istrinya dan fulan bertindak semena-mena dan fulan tidak sportif dan fulan condong kepada salah satu istri, cerita-cerita seperti itulah yang menjadikan para wanita merasa khawatir.

BACA JUGA: Poligami Termasuk Ujian, Baik Istri Maupun Suami

Adapun bagi seorang yang baik dalam berpoligami dan baik dalam bermuamalah dan bertakwa kepada Allah ﷻ dalam muamalahnya bersama istrinya dan masing-masing istri berada dalam kebaikan dan berada dalam kenikmatan dan berkah dan berada dalam pemuliaan / penghormatan dan merasa dihargai dan engkau menunaikan kewajiban kepada masing-masing istri dikarenakan perbuatan adil di antara para istri itu wajib pada 4 perkara :

1. Tempat tinggal, masing-masing istri memiliki tempat tinggal.

2. Nafkah, seorang suami menafkahi masing-masing istri sesuai adat kebiasaan yang berlaku di masyarakat, nahkah harian, makan pagi, makan siang, makan malam.

4. Pakaian dan yang berkaitan dengannya seperti sepatu / sandal dan yang selain daripada itu, jadilah engkau seorang lelaki yang bertanggung jawab menanggung pakaian dan nafkah serta tempat tinggal.

4. Bermalam, yakni seorang yang berpoligami itu harus membagi waktu, sehari bersama istri yang ini, sehari bersama istri yang itu,

Hendaklah seorang yang beristri empat berjalan di atas konsep yang demikian itu, masing-masing istri mendapat jatah hari yang sama, adil dan sportif, dan cukuplah bagi dia untuk menjadikan di setiap hari berupa kunjungan kepada ketiga istri atau keempat istri sesuai dengan kemampuan dia atau kedua istri, yakni misalnya jatah harian dia berlaku pada istri yang ini akan tetapi hendaknya dia berkunjung / mampir menengok seluruh istri yang lain dan begitu pula di hari kedua dia berada pada istri yang lain dan hendaknya dia berkunjung / menengok seluruh istri yang lainnya dan mengkhususkan waktu untuk mampir berkunjung ke istri kedua, ketiga, dan keempat.

BACA JUGA: Pengertian Poligami yang Jarang Diketahui

Maka, janganlah seseorang itu menjadi seorang suami yang tukang fitnah, janganlah dia menyulut fitnah di antara para istri. Karena terkadang para istri bisa saling memahami namun justru yang keliru itu adalah sang suami dialah yang malah mendatangkan problematika serta fitnah, dia mengadakan fitnah di antara para istri [seperti memuji-muji dan membanding-bandingkan istri yang satu di hadapan istri lainnya dan yang semisal itu], namun yang demikian itu hanyalah terjadi pada sebagian dari para suami tidaklah seluruhnya.

Maka apabila dia baik dalam bermuamalah masyaAllah, maka kita katakan kepadanya: “Jazaakallahu khoiron, semoga Allah mendatangkan kebaikan kepadamu.”

Yang tadinya nafkah terbatas kepada satu istri saja, engkau melapangkannya untuk kaum muslimah, engkau memiliki 4 orang istri, masing-masing istri mendapatkan nafkah, rumah dan penghormatan serta pemuliaan dan juga terpenuhi kebutuhannya, dan jika engkau pergi haji engkau mengundi di antara 4 istri, siapa yang akan terpilih untuk mendampingimu pergi haji, dan siapa yang menang dalam undian tersebut maka dia yang terpilih untuk mendampingimu pergi haji, dan begitu juga di tahun kedua, engkau adakan undian di antara 3 istri dan siapa yang menang dalam undian tersebut maka dialah yang berhak berangkat haji bersamamu, dan tahun berikutnya juga begitu engkau adakan undian antara 2 istri dan siapa yang menang dia yang berhak engkau berangkatkan haji dan begitu pula istri yang setelahnya, dan untuk umroh pun semisal itu.

Semoga Allah memberi hidayah dan taufiq. []

 

Sumber: Jawaban dari pertanyaan yang ditujukan pada Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushobi

Redaktur: Dika Nugraha


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.