wudhu bisa sehatkan ginjal
Foto: Mirajnews

Bersentuhan Kulit dengan Lawan Jenis Batalkah? Ini Menurut Para Imam

bersentuhan kulit
bersentuhan kulit (foto: mirajnews)

INSPIRADATA. Perbedaan pendapat dalam tata cara beribadah itu lumrah ditemukan, karena memang ada ilmu yang digunakan dan dipertahankan. Pun begitu dalam berwudhu, ada sebagian ulama menyebutkan, bersentuhan kulit dengan lawan jenis itu membatalkan atau sebaliknya.

Ada tiga pendapat mengenai hal tersebut:

Pertama, tidak membatalkan wudhu sama sekali. Ini menurut Madzhab Hanafiyyah, menurutnya bersentuhan dengan lawan jenis secara disengaja atau tidak, dan dengan syahwat atau tidak, itu tidak membatalkan wudhu.

Itu sebagaimana dalam keterangan sebuah hadits, Rasulullah s.a.w tidak kembali wudhu setelah bersentuhan kulit dengan Siti Aisyah:

Aisyah berkata, “Dahulu aku tidur di depan Rasulullah s.a.w dan kedua kakik berada di arah kiblatnya, dan bila sujud beliau menyentuhku.” (HR Bukhari dan Muslim)

BACA JUGA
5 Hal Ini Membatalkan Wudhu
Baca Quran di Gawai tanpa Wudhu, Boleh?

Kedua, membatalkan wudhu. Ini menurut pendapat Madzhab Syafi’iyyah, apabila bersentuhan kulit, baik isterinya ataupun bukan, dengan syahwat atau tidak tetap membatalkan wudhu.

Dalilnya adalah tafsiran mengenai kata “Laamastumun-nisa” dalam surat Al-Maidah ayat 6 adalah bertemunya kulit dengan kulit walau pun tidak terjadi jima’.

Alasannya adalah:

1. Bahwa Allah SWT berfirman dengan kata “janabah” pada awal ayat tersebut yang kemudian disambung “laamastumun-nisa”. Dari sini menunjukkan bahwa bersentuh kulit dengan wanita sebagai hadats kecil.

2. Abdullah bin Umar RA berkata: “Seorang laki-laki mencium isterinya dan menyentuhna dengan tangannya termasuk ‘al-malaamisah’ (menyentuh), dan barang siapa mencium isterinya atau menyentuh dengan tangannya, maka wajib baginya berwudhu.” (HR Malik dalam kitab “AL-Muwaththa” dengan sanad shahih)

Ketiga, Pendapat Madzhab Malikiyyah dan Hanbaliyy, mereka menghimpun dari dua pendapat sebelumnya, menyentuh atau bersentuhan kulit dengan lawan jenis, itu membatalkan jika diiringi dengan syahwat yang berkaitan dengan ayat “Laamastumun-nisa”, dan tidak membatalkan jika tidak beriringan dengan syahwat sebagaimana dalam keterangan Siti Aisyah. []

Referensi:
El-Ghony, Eep Khunaefi. 2013. Rahasia Wudhu. Cibubur: PT. Variapop


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *