Unik, Informatif , Inspiratif

Bidadari Surga dan Kecantikannya yang Tiada Tara

0 15

Bidadari adalah makhluk Allah di surga yang Dia ciptakan dan Dia jadikan selalu perawan dengan penuh cinta dan umurnya sebaya. Allah berfirman,

(إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً. فَجَعْلَنَاهُنَّ أَبْكَارًا. عُرَبًا أَتْرَابًا. (الواقعة: 35-37

“Sesungguhnya, Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 35-37)

Di surga nanti, Allah subhanahu wa ta’ala menikahkan para penduduk surga dengan istri-istri yang cantik, selain istri mereka di dunia, sebagaimana firman-Nya:

(كَذَلِكَ زَوَّجْنَاهُمْ بِحُوْرٍ عِيْنٍ. (الدخان: 54

Demikianlah Kami nikahkan mereka dengan bidadari.” (QS. Ad-Dukhan: 54)

BACA JUGA: Nyanyian Bidadari di Surga

الحور adalah bentuk jamak dari الحوراء, yaitu perempuan yang bagian putih matanya sangat putih dan bagian yang hitam sangat hitam. العين adalah bentuk jamak dari العيناء, dan العيناء adalah perempuan yang lebar matanya.

Adapun bahwa para bidadari itu adalah perawan, berarti bahwa sebelumnya mereka belum dinikahi oleh siapa pun.

Allah berfirman,

(لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ. (الرحمن: 56

“Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar-Rahmân: 56)

Hal ini menafikan pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan istri yang diciptakan oleh Allah di surga, adalah istri mereka sendiri ketika di dunia, karena Allah mengembalikan mereka menjadi remaja setelah menjadi tua dan renta.

Makna ini adalah benar, karena Allah memasukkan para perempuan beriman ke dalam surga, tetapi mereka bukanlah bidadari yang diciptakan langsung oleh Allah.

Yang dimaksud dengan العرب adalah para perempuan yang sangat mencintai suaminya.

Alquran telah menceritakan tentang kecantikan para perempuan surga.

Allah berfirman,

وَحُوْرٌ عِيْنٌ. كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُوْنِ. (الواقعة: 22-23)3

“Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli. Laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al-Waqi’ah: 22-23)

Yang dimaksud dengan المكنون adalah yang tersimpan dan terjaga, yang kejernihan warnanya tidak berubah oleh sinar matahari maupun tangan-tangan jahil.

Di tempat lain, Allah menyerupakan para perempuan surga itu dengan yakut dan marjan.

Dia berfirman,

(فِيْهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلاَ جاَن.ٌّ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ. كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوْتُ وَالْمَرْجَانُ. (الرحمن: 56-58

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar-Rahmân: 56-58)

Yakut dan marjan adalah jenis batu mulia yang sangat indah dan sangat indah dipandang mata.

Bidadari digambarkan sebagai yang sopan dan menundukkan kepala.

Mereka adalah para perempuan yang membatasi pandangan hanya kepada suami saja dan tidak pernah ingin memandang kepada selain suaminya.

Allah sendiri menjadi saksi akan kecantikan dan keelokan para bidadari.

Cukuplah jika Allah menjadi saksi bahwa bidadari itu sangat cantik dan elok.

Allah berfirman,

(فِيْهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ. حُوْرٌ مَّقْصُوْرَاتٌ فِى الْخِيَامِ. (الرحمن: 72

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.” (QS. Ar-Rahmân: 72)

Para perempuan surga itu tidaklah seperti perempuan dunia karena mereka suci dari haidh dan nifas, ludah, ingus, kencing maupun tinja.

Inilah makna dari firman Allah:

(وَّلَهُمْ فِيْهَا أَزْوَاجٌ مَّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ. (البقرة: 25

“Bagi mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 25)

Rasulullah telah menceritakan tentang kecantikan para istri penduduk surga.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a., ia menceritakan bahwa Rasulullah bersabda,

أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَلِجُ الْجَنَّةَ صُوْرَتُهُمْ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، لَايَبْصُقُوْنَ فِيْهَا وَلَا يَمْتَخِطُوْنَ وَلَا يَتَغَوَّطوْنَ. آنِيَتُهُمْ فِيْهَا الذَّهَبُ، أَمْشَاطُهُمْ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَمَجَامِرُهُمُ الْأُلُوَّةُ وَرَشَحُهُمُ الْمِسْكُ، وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ يُرَى مُخُّ سُوْقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ مِنَ الْحَسَنِ

“Rombongan pertama yang masuk surga memiliki rupa seperti bulan di malam purnama. Mereka tidak pernah meludah, membuang ingus maupun buang air besar di dalam surga. Wadah mereka di surga adalah emas. Sisir mereka terbuat dari emas dan perak. Perapian mereka adalah kayu gaharu dan keringat mereka adalah misik. Masing-masing memiliki dua istri yang sumsum betisnya tampak dari balik kulit karena cantiknya.” (HR. Bukhari dalam Shahîh-nya, Kitab Bad` al-Khalq, Bab Ma Ja`a fi Shifat al-Jannah, Fathul Bari, [6/318])

Renungkanlah kecantikan yang digambarkan oleh Rasulullah ini, apakah engkau bisa menemukan bandingan yang engkau kenal?

Andaikan satu orang perempuan surga muncul di atas bumi, pastilah ia dapat menerangi antara keduanya dan memenuhi bumi dengan aromanya.

Kerudung yang ada di kepalanya adalah lebih baik daripada dunia dengan seluruh isinya. (HR. Bukhari dalam Shahîh-nya, Kitab al-Jihad, Bab wa Zawwajnâhum bi Hurin ‘In, Fathul Bari, 6/15. An-Nashif berarti kerudung.)

Pembatasan jumlah istri untuk masing-masing laki-laki di surga dengan dua orang, tampaknya adalah jumlah minimal.

Jika tidak demikian, disebutkan bahwa seorang yang mati syahid akan dinikahkan dengan tujuh puluh dua istri dari kalangan bidadari.

BACA JUGA: Kecemburuan para Bidadari terhadap Suami Mereka di Dunia

Dalam Sunan Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah, dengan sanad Shahih, diriwayatkan dari al-Miqdam ibn Ma’dikariba, ia menceritakan bahwa Rasulullah bersabda,

لِلشَّهِيْدِ عِنْدَ اللهِ ثَلَاثُ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِى أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيُأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ، وَيُوْضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، الْيَاقُوْتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ زَوْجَةً مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ، وَيُشَفَّعُ فِى سَبْعِيْنَ مِنْ أَقْرِبَائِهِ

Untuk orang yang mati syahid, ada tiga hal di sisi Allah: Diampuni dosanya sejak tetes pertama darahnya. Melihat tempat duduknya di surga. Diselamatkan dari azab kubur. Diamankan dari ketakutan terbesar. Dan diletakkan mahkota kewibaan di kepalanya. Satu butir yakut darinya adalah lebih baik daripada dunia beserta isinya. Dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari. Diberi hak memberi syafaat kepada tujuh puluh kerabatnya.” (Misykat al-Mashabih, 3/358, nomor: 3834)

Wallahu a’lam bishawab. []

 

 

Sumber: Surga da Neraka, Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar

Artikel Terkait :

loading...

Kamu Sedang Offline