Unik, Informatif , Inspiratif

Bingung Hadapi Anak Milenia?

0 15

Perkenalkan, saya adalah orang tua lahir di era 70an. Semua orang yang seangkatan saya mungkin setuju, sebagian dari kami dibesarkan pada masa indonesia membangun. Itu bahasa politiknya. Bahasa faktanya adalah, keprihatinan yang hampir merata.

Anak-anak pada era itu dididik oleh orang tua yang dibesarkan penuh perjuangan dalam masa kemerdekaan. Disiplin, dan menekankan sopan santun.

Pemandangan mengasuh adik sambil belajar di kelas itu teralami adik iparku. Dan itu, menurut dia, bukan hal aneh pada jamannya. Seperti adegan film seri Oshin. Orang tua kami sangat nyata menekankan nilai bela dan sayang saudara. Bayangkan, di rumah kami yang sempit, kami masih bisa menampung beberapa saudara, ditambah pembantu yang sudah seperti seperti saudara.

BACA JUGA: Komisi X DPR RI Tanyakan Penanganan Pendidikan Gempa Lombok

Bagian ‘pembantu seperti saudara itu’, pasti sebagian pembaca setuju keadaan ini. Jika kini kita mengenal hubungan majikan dan karyawan itu ditentukan timbal balik materi. Semacam slogan ‘dimana ada royalitas, di situ ada loyalitas’. Tapi di era 70an, kebanyakan pembantu royal pada majikannya karena majikan dan keluarganya memberi ‘kasih sayang dan perhatian’ pada pembantunya. Aiiiih…

Jadi di rumah yang penuh sesak itu, orang tua kami menjejali kami dengan kurikulum kehidupan yang luar biasa muatannya. Kami harus belajar berbagi makanan dan berkoordinasi pekerjaan rumah, padahal kami memiliki pembantu.

Mileneal

Lalu bagaimana kita menghadapi anak milenial kita? Anak milineal yang berkarakter malas, mau yang prakstis, bertindak spontan, cerdik? Percayalah, menceritakan perjuangan sekolah mbahnya yang naik turun gunung bawa obor karena pergi sebelum pagi, pulang sesudah magrib , sepertinya menjadi tidak relevan lagi.

Semacam percakapan gagal seorang bapak pada anak milenialnya:

“Nak, dulu bapak pulang sekolah langsung macul sawah lhoo.”

“Wah, aku juga bisa, tapi bapak beliin dulu ya sawahnya?”

Tentu kita tahu, maksud bicara si bapak yang melihat anaknya yang nampak kurang gerak ini.

Menjelaskan semua sejarah perjuangan hidup dalam rangka memotivasi anak memang kadang-kadang perlu juga. Tapi yang terpenting adalah mengenyahkan semua kecemasan melihat ‘kemalasan’ mereka. Kenapa? Karena mereka lahir di jaman yang berbeda dengan kita. Lihatlah sekalipun nampak malas, mereka cukup cerdik dalam menyikapi berbagai situasi.

BACA JUGA: Pahami Sounding untuk Menangani Berbagai Masalah Anak (Bagian 2 Habis)

Semacam seorang anak lupa bawa dompet di cafe, dan dia dengan santeynya memberikan handphone mutakhirnya sebagai jaminan. Simple bukan? Saya yakin, orang tua jaman dulu tak akan sepraktis ini dalam merespon situasi.
Jadi harus bagaimana kita?

Yang terpenting bagi kita sebagai muslim kita ingat selalu sunah ini, bahwa kita sebagai orangtuanya mengenalkan anak kita pada Tuhannya, Kitabnya, dan Rosulnya.

Dan beberapa hadist diantaranya:

“Adapun hak anakmu adalah, ketahuilah bahwa ia berasal darimu. Dan segala kebaikan dan keburukannya di dunia, dinisbatkan kepadamu. Engkau bertanggung jawab untuk mendidiknya, membimbingnya menuju Allah dan membantunya untuk menaati perintah-Nya.”

“Maka, perlakukanlah anakmu sebagaimana perlakuan seseorang yang mengetahui bahwa andaikan ia berbuat baik pada anaknya, niscaya ia akan mendapatkan pahala dan andaikan ia berbuat buruk niscaya ia akan memperoleh hukuman.” (Al Khislal, hal. 568)

BACA JUGA: Kini, Pendidikan Jangan Hanya Fokus pada Akademis

Demikian pesan Rasullullah terkait dengan pendidikan anak.

Percayalah, hadis itu tak mengenal kadaluarsa. Itu berlaku bagi anak milineal kita, dan bagi cucu kita, dan bagi cucunya cucu kita dan seterusnya. []

Artikel Terkait :

loading...

Kamu Sedang Offline