Bingung Soal Halal-Haram, Pahami Dulu Prinsip Ini

INSPIRADATA. Dalam hukum Islam disebutkan dua jalur utama untuk menentukan kehalalan dan keharaman makanan dan minuman, yaitu dari jalur hakikat zat atau bendanya (min haitsu dzatihi) dan  dari jalur cara mendapatkannya (min haitsu kasbihi).

Namun, masih saja ada orang yang kebingungan dalam menentukan halal atau haramnya suatu produk. Apalagi jika tidak ada lebel halal MUI pada produk tersebut. Sehingga yang menjadi pertanyaan bersama adalah bagaimana menetapkan prinsip-prinsip lebih detail tentang kehalal-haraman suatu produk?

Dilansir dari gomuslim, dalam bukunya yang berjudul Halal dan Haram, Prof Dr Yusuf Qardhawi menjelaskan beberapa prinsip-prinsip Islam tentang halal dan haram yang perlu kita ketahui bersama. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut.

  1. Segala sesuatu pada asalnya mubah. Salah satu dasar prinsip ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Al-Bazzar dimana Rasulullah saw bersabda: “Apa yang dihalalkan Allah didalam kitab-Nya adalah halal, dan apa yang diharamkan-Nya adalah haram; sedang apa yang didiamkan-Nya adalah dimaafkan (diperkenankan). Oleh karena itu terimalah perkenan dari Allah itu, karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah lupa sama sekali.”
  2. Menghalalkan dan mengharamkan adalah hak Allah semata. Didalam Al Qur’an secara jelas Allah menetapkan hal ini. “Katakanlah:Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. Katakanlah: Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (Yunus: 59). Demikian juga dengan firman Allah dalam QS An-Nahl: 116.
  3. Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram sama dengan syirik. Dasar yang digunakan adalah firman Allah didalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim: “Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dengan sikap yang lurus. Lalu datanglah syetan kepada mereka, lantas membelokkan mereka dari agama mereka, dan mengharamkan atas mereka apa yang telah Kuhalalkan buat mereka, serta menyuruh mereka mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan keterangan padanya.”
  4. Mengharamkan yang halal akan mengakibatkan timbulnya keburukan dan bahaya. Sesuatu yang semata-mata menimbulkan bahaya adalah haram. Sesuatu yang menimbulkan manfaat adalah halal. Sesuatu yang bahayanya lebih besar daripada manfaatnya adalah haram. Sesuatu yang manfaatnya lebih besar adalah halal.
  5. Yang halal tidak memerlukan yang haram. Islam tidak mengharamkan sesuatu atas mereka kecuali digantinya dengan yang lebih baik dan mengatasi kebutuhannya. Seperti digantikannya riba dengan perniagaan yang menguntungkan.
  6. Apa yang membawa kepada yang haram adalah haram. Itulah sebabnya maka para fuqaha menetapkan prinsip “Apa saja yang membawa kepada yang haram, maka ia adalah haram.” Misalnya dalam masalah khamar, Rasulullah saw melaknat peminumnya, pemerahnya, penghidangnya, yang diberi hidangan, yang memakan hasil usaha khamar, dll.
  7. Bersiasat terhadap hal yang haram adalah haram. Ini sama saja dengan membawa kepada yang haram. Jadi, tidak diperbolehkan.
  8. Niat yang baik tidak dapat menghalalkan yang haram. Contoh Islam tidak memperkenankan keuntungan penjualan khamar untuk pembangunan masjid. Tujuan yang mulia harus dicapai dengan cara yang benar.
  9. Menjauhkan diri dari syubhat karena takut terjatuh dalam haram. “Yang halal itu sudah jelas dan yang haram itu juga sudah jelas. Akan tetapi diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang belum jelas (syubhat), yang tidak dimengerti oleh banyak orang, apakah dia itu halal ataukah haram? Barangsiapa yang menjauhinya karena hendak membersihkan agama dan kehormatannya, maka dia akan selamat; dan barangsiapa yang melakukan sesuatu darinya hampir-hampir ia terjatuh kedalam yang haram, sebagaimana orang yang menggembala kambing disekitar daerah larangan, dia hampir-hampir akan jatuh kepadanya. Ingatlah, bahwa setiap raja mempunyai daerah larangan. Ingatlah, bahwa daerah larangan Allah ialah semua yang diharamkan.” (Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan lain-lainnya dari An-Nu’man bin Basyir. Lafal ini adalah riwayat Tirmidzi).
  10. Sesuatu yang haram berlaku untuk semua orang.
  11. Keadaan yang terpaksa membolehkan yang terlarang. Didalam surat Al-Baqarah ayat 173 Allah berfirman: “Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya), sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah maka pengampun lagi maha penyayang.”[]

Artikel Terkait :

About Susanti

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *