canda, Boleh Bercanda, bahkan Sunah, Asal Ini Syaratnya
Unik, Informatif , Inspiratif

Boleh Bercanda, bahkan Sunah, Asal Ini Syaratnya

0

Dalam bahasa Arab, canda (gurauan) disebut dengan mizah atau mumaazahah. Dalam Syarah Al-Adabul Mufrad, Al-Jailany mendefinisikan canda adalah berbicara secara ramah dan menciptakan kegembiraan terhadap orang lain. (Ath-Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hlm. 116).

Menurut Imam An-Nawawi, canda atau bergurau hukumnya  adalah mubah (diperbolehkan syariah). (An-Nawawi, Al-Adzkarhlm. 279)

Bahkan, masih dalam kitab yang sama tersebut Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bercanda yang hukum asalnya mubah, dapat naik derajatnya menjadi sunnah juka bertujuan merealisasikan kebaikan, atau untuk menghibur lawan atau untuk mencairkan suasana.

BACA JUGA: Ketika Ali Bin Abi Thalib Bercanda dengan Rasulullah

Sejalan dengan pendapat Imam Nawawi tersebut, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan, “Candaan yang bersih dari segala yang dilarang dalam agama hukumnya mubah. Apabila bertepatan dengan suatu kemaslahatan seperti bisa menghibur lawan bicara atau mencairkan suasana, maka hukumnya mustahab (sunnah).” (Fathul Bari, X/257).

Dalil bolehnya bercanda, antara lain hadits dari Abu Hurairah r.a. bahwa para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anda telah mencandai kami.” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya, tidaklah aku berbicara, kecuali yang benar.” (HR Tirmidzi, Lihat Imam An Nawawi, al-Adzkar, hlm. 279).

Dalil lainnya, Rasulullah pernah bercanda dengan seorang nenek tua bahwa nenek tua tidak akan masuk surga karena yang masuk surga akan menjadi muda lagi.

Dari Al Hasan, bahwa pernah seorang nenek tua mendatangi Nabi shalallahu alaihi wa sallam. Nenek itu pun berkata, “Wahai Rasulullah, berdo’alah pada Allah agar Dia memasukkanku ke dalam surga.”

Nabi menjawab, “Wahai Ummu Fulan, surga tak mungkin dimasuki oleh nenek tua.”

Nenek tua itu pun pergi sambil menangis.

Nabi pun bersabda kepada para shahabat, “Kabarilah dia bahwa surga tidaklah mungkin dimasuki dia sementara ia dalam keadaan tua. Karena Allah Ta’ala berfirman (artinya), ‘Sesungguhnya, Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (QS. Al Waqi’ah: 35-37). (HR. Tirmidzi)

Artinya, orang yang masuk surga memang tidak ada yang tua karena mereka ketika itu akan kembali muda lagi.

Dalil lainnya, Rasulullah pernah menjawab pertanyaan dengan nada canda.

Dari Anas bin Malik r.a. bahwa suatu ketika ada seorang lelaki datang menghadap Rasulullah kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, tolong bawa aku (naik).”

Rasulullah pun menjawab dengan nada canda, “Kami akan menaikkanmu di atas anak unta.”

Lelaki itu bertanya, “ Apa yang bisa aku perbuat dengan seekor anak unta?”

Rasulullah menjawab, “Bukankah unta hanya melahirkan anak unta (maksudnya unta dewasa sebenarnya juga anak unta)?” (HR. Abu Dawud).

Jadi, bercanda itu hukumnya mubah berdasarkan dalil-dalil di atas.

Tetapi meski mubah secara syar’i, wajib diperhatikan beberapa rambu syariahnya, antara lain sebagai berikut.

1. Tidak mengolok-ngolok/mempermainkan ajaran Islam. (Lihat QS At Taubah : 65-66)

2. Tidak mengejek atau menyakiti perasaan orang lain. (Lihat QS Al Hujurat : 11).

3. Tidak mengandung kebohongan. (QS Al Ahzab : 70-71).

4. Tidak mengandung ghibah (menggunjing) orang lain. (QS Al Hujurat : 12).

5. Tidak mengandung kecabulan (rafats) (kisah porno). (QS Al Baqarah : 197).

6. Tidak melampaui batas, yakni tidak membuat melalaikan kewajiban dan tidak menjerumuskan pada yang haram.

BACA JUGA: 7 Candaan Rasulullah kepada Istri yang Patut Dicontoh

(Lihat: ‘Aadil bin Muhammad Al-‘Abdul ‘Aali, Pemuda dan Canda, hlm. 38-44).

Wallahu a’lam bishawab. []

 

Sumber: KonsultasiIslam


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.