Bolehkah Khitbah Lewat SMS dan Berapa Lama Batas Waktunya?

Pada dasarnya, mengkhitbah (melamar) lewat SMS hukumnya adalah boleh. Hal ini termasuk mengkhitbah lewat tulisan (kitabah) yang secara syar’i sama dengan khitbah lewat ucapan.

Kaidah fikih menyatakan: al-kitabah ka al-khithab (tulisan itu kedudukannya sama dengan ucapan/lisan). (Wahbah Az-Zuhaili, Ushul Al-Fiqh Al-Islami, 2/860).

Kaidah itu berarti bahwa suatu pernyataan, akad, perjanjian, dan semisalnya, yang berbentuk tulisan (kitabah) kekuatan hukumnya sama dengan apa yang diucapkan dengan lisan (khithab).

BACA JUGA: Setelah Khitbah Bolehkah Berdua-duaan?

Penerapan kaidah fikih tersebut pada masa modern ini banyak sekali.

Misalnya, surat kwitansi, cek, dokumen akad, surat perjanjian, dan sebagainya.

Termasuk juga “bukti/dokumen tertulis” (al-bayyinah al-khaththiyah) yang dibicarakan dalam Hukum Acara Islam, sebagai bukti yang sah dalam peradilan. (Ahmad Ad-Da’ur, Ahkam Al-Bayyinat, hal. 71; Asymuni Abdurrahman, Qawa’id Fiqhiyyah, hal. 52).

Dalil kaidah fikih tersebut, antara lain adanya irsyad (petunjuk) Allah subhanahu wa ta’la agar melakukan pencatatan dalam muamalah yang tidak tunai (dalam utang piutang) (QS Al-Baqarah : 282).

Demikian pula dalam dakwahnya, selain menggunakan lisan, Rasulullah juga terbukti telah menggunakan surat. (Kholid Sayyid Ali, Surat-Surat Nabi Muhammad, Jakarta : GIP, 2000).

Ini menunjukkan bahwa tulisan mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan lisan.

Jadi, seorang ikhwan (pria) boleh hukumnya mengkhitbah seorang akhwat (wanita) lewat SMS, berdasarkan kaidah fikih tersebut.

Meski demikian, disyaratkan akhwat yang dikhitbah itu secara syar’i memang boleh dikhitbah, yaitu perempuan tersebut haruslah: (1) bukan perempuan yang haram untuk dinikahi; (2) bukan perempuan yang sedang menjalani masa ‘iddah; dan (3) bukan perempuan yang sudah dikhitbah oleh laki-laki lain. (Nida Abu Ahmad, Al-Khitbah Ahkam wa Adab, hal. 5).

Adapun mengenai batas waktu khitbah, yaitu jarak waktu khitbah dan nikah, sejauh pengetahuan kami, tidak ada satu nash pun baik dalam Alquran maupun As-Sunnah yang menetapkannya. Baik tempo minimal maupun maksimal. (Yahya Abdurrahman, Risalah Khitbah, hal. 77).

Dengan demikian, boleh saja jarak waktu antara khitbah dan nikah hanya beberapa saat, katakanlah beberapa menit saja.

Boleh pula jarak waktunya sampai hitungan bulan atau tahun.

Semuanya dibolehkan, selama jarak waktu tersebut disepakati pihak laki-laki dan perempuan.

Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Kaum muslimin [bermu’amalah] sesuai syarat-syarat di antara mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau yang menghalalkan yang haram.” (HR Abu Dawud & Tirmidzi). (Ash-Shan’ani, Subulus Salam, 3/59).

Walaupun demikian, kami cenderung menyatakan semakin cepat menikah adalah semakin baik.

Pasalnya, jarak yang lama antara khitbah dan nikah dapat menimbulkan keraguan mengenai keseriusan kedua pihak yang akan menikah, juga keraguan apakah keduanya dapat terus menjaga diri dari kemaksiatan seperti khalwat dan sebagainya.

BACA JUGA: Mengapa Ada yang Miskin setelah Menikah?

Keraguan semacam ini sudah sepatutnya dihilangkan, sesuai sabda Rasulullah: “Tinggalkan apa yang meragukanmu, menuju apa yang tidak meragukanmu.” (HR Tirmidzi & Ahmad)

Wallahu a’lam bishawab. []

 

Sumber: KonsultasiIslam 


Artikel Terkait :

About matiar

Check Also

alasan suami selingkuh

Perhatikan, 5 Hal Sepele Ini Bisa Jadi Tanda Pasangan Anda tengah Berselingkuh

Meski demikian, ada juga orang yang tetap biasa saja dengan HP. Kemana-mana dia tidak perlu terlalu sering memegang handphone. Membuka handphone kalau ada notifikasi saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *