Bolehkah Kurban dengan Cara Transfer Uang ke Lembaga atau Panitia Kurban?

0

Berkembangnya informasi-teknologi yang begitu pesat seperti sekarang ini ternyata juga berdampak positif bagi masyarakat. Meski tak dipungkiri ada pula sisi negatifnya, tetapi selama dapat bijak dalam menggunakannya berbagai sarana dan fasilitas kemajuan teknologi saat ini akan sangat terasa manfaat positifnya.

Bahkan, termasuk dalam hal ibadah sekalipun, seperti kurban, misalnya.

Melalui lembaga atau panitia kurban yang bersedia mengadakan serta menyembelih hewan kurban, kini masyarakat yang ingin berkuban dapat dengan mudah dan praktis menunaikan ibadah kurbannya.

BACA JUGA: Bolehkah Kurban dengan Cara Iuran Massal?

Caranya, cukup dengan mentransfer uang senilai harga hewan ternak ke rekening yang dicantumkan lembaga atau panitia tersebut.

Namun, sebenarnya bagaimanakah hukum berkurban melalui lembaga atau panitia kurban dengan cara mentrasnfer sejumlah uang untuk kemudian dibelikan hewan ternak yang akan dikurbankan?

Dilansir dari nu.or.id, praktik tersebut pada dasarnya dapat dikategorikan ke dalam wakalah atau perwakilan.

Dalam kondisi tersebut kita mewakilkan keperluan kita kepada pihak masjid atau lembaga tertentu yang dapat membantu kita memenuhi keperluan dalam ibadah kurban.

Praktik wakalah secara umum diperbolehkan menurut Alquran, hadis, dan kesepakatan para sahabat.

Para sahabat sepakat bahwa praktik wakalah diperbolehkan menurut Islam.

Praktik wakalah ini cukup membantu manusia secara umum dalam memenuhi keperluannya.

وَأَجْمَعَتْ الْأُمَّةُ عَلَى جَوَازِ الْوَكَالَةِ فِي الْجُمْلَةِ وَلِأَنَّ الْحَاجَةَ دَاعِيَةٌ إلَى ذَلِكَ ؛ فَإِنَّهُ لَا يُمْكِنُ كُلَّ وَاحِدٍ فِعْلُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ، فَدَعَتْ الْحَاجَةُ إلَيْهَا

“(Ulama) umat ini sepakat atas kemubahan wakalah secara umum karena keperluan menuntut adanya wakalah karena setiap orang tidak mungkin menangani segala keperluannya sendiri sehingga ia memerlukan perwakilan untuk hajatnya,” (Lihat Ibnu Qudamah, Al-Mughni, [Riyadh, Daru Alamil Kutub: 1997 M/1417 H], cetakan ketiga, juz VII, halaman 197).

Adapun praktik mewakilkan penyembelihan hewan kurban pernah diangkat oleh para kiai dalam Forum Muktamar Ke-4 NU di Semarang pada 1929 M.

Para kiai ketika itu mendapat pertanyaan perihal kebolehan seorang ulama yang mewakilkan penyembelihan hewan kurban kepada orang fasik.

Forum Muktamar Ke-4 NU di Semarang pada 1929 M menjawab bahwa mewakilkan kepada orang fasik itu boleh dan sah sebagai kurban.

Para kiai mengutip Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam Syarah Al-Mahalli:

وَيُشْتَرَطُ أَنْ يَكُوْنَ كُلٌّ مِنْهُمْ مُمَيِّزًا مَأْمُوْنًا وَأَنْ يُظَنَّ صِدْقُهُ إِلَى أَنْ قَالَ (قَوْلُهُ وَإِيْصَالِ هَدِيَّةٍ) وَدَعْوَةِ وَلِيْمَةٍ وَذَبْحِ أُضْحِيَّةٍ وَتَفْرِقَةِ زَكَاةٍ إهـ.

“Masing-masing dari mereka itu disyaratkan sudah pandai, tepercaya, dan diduga kejujurannya. Pengertian ‘menyampaikan hadiah’ mencakup undangan untuk pengantin, menyembelih binatang kurban dan membagikan zakat,” (Lihat Jalaluddin Al-Mahalli, Syarah Mahalli ‘ala Minhajut Thalibin pada Hasyiyatul Qulyubi, [Indonesia: Al-Haramain: tanpa catatan tahun], jilid III, halaman 337).

Kami menyarankan mereka yang berniat untuk berkurban melalui transfer uang perlu memverifikasi kredibilitas lembaga atau ormas yang menerima hewan kurban masyarakat.

BACA JUGA: 6 Adab Sembelih Hewan Kurban

Kami juga menyarankan agar masyarakat yang berniat untuk berkurban dengan transfer uang untuk menghadiri penyembelihan hewan kurbannya. []

Kamu Sedang Offline