Unik, Informatif , Inspiratif

Bolehkah Menggunakan Orang Normal Sebagai Media Ruqyah?

0 6

Dalam dunia ruqyah, terdapat beberapa diantaranya yang menggunakan metode yang mereka sebut istihdharul jinn (mengundang jin). Mereka mengundang jin yang diklaim sebagai penyebab penyakit yang seseorang derita tanpa mesti menghadirkan orang sakitnya.

Jin ini dimasukkan kepada diri orang lain yang sehat lalu disembuhkan. Kemudian metode ini ditutup dengan pembacaan surat Al -Baqarah ayat 148. Salah seorang peruqyah mengaku bahwa para ulama kibar dan mufti saudi di Saudi Arabia memfatwakan metode itu tak apa dilakukan dan termasuk ruqyah syar’iyyah. Apakah benar demikian?

Metode ruqyah seperti ini tidak syar’i, karena beberapa poin:

Pertama:

Metode ini menyimpang dari ruqyah syar’iyyah. Karena ruqyah syar’iyyah harus dilakukan secara langsung kepada orang yang sakit, yaitu orang yang meruqyah membacakan ayat-ayat kepada orang yang sakit sehingga ia mendapatkan manfaat dari bacaan tersebut.

Disebutkan dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah jilid ke dua (1/92):

” الرقية لا بد أن تكون على المريض مباشرة ، ولا تكون بواسطة مكبر الصوت ، ولا بواسطة الهاتف ؛ لأن هذا يخالف ما فعله رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم وأتباعهم بإحسان في الرقية ، وقد قال صلى الله عليه وسلم : ( من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ) ” انتهى .

“Ruqyah harus dilakukan secara langsung kepada orang yang sakit, tidak dilakukan dengan perantara pengeras suara, atau telepon. Karena ini bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya radhiallahu’anhum serta para tabi’in dalam meruqyah. Sedangkan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ‘barangsiapa yang membuat perkara baru dalam perkara kami (perkara agama), yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia tertolak.‘”

Juga disebutkan dalam Fatawa Al- Lajnah Ad-Da`imah jilid ke dua (1/88-89):

” قد دل على جواز التداوي بالرقى فعل النبي صلى الله عليه وسلم وقوله وتقريره صلى الله عليه وسلم ، وقد أجمع على جوازها المسلمون بثلاثة شروط :
الشرط الأول : أن تكون الرقية بكلام الله تعالى أو كلام رسوله أو الأدعية المشروعة .
الشرط الثاني : أن تكون بلسان عربي أو بما يعرف معناه في الأدعية والأذكار .
الشرط الثالث : أن يعتقد الراقي والمريض أن هذا سبب لا تأثير له إلا بتقدير الله سبحانه وتعالى .
وهي تكون بالقراءة والنفث على المريض ، سواء كان يرقي نفسه أو يرقيه غيره … تكون على المريض مباشرة ، أو تكون بماء قليل يسقاه المريض ” انتهى .

“Dalil-dalil menunjukkan bolehnya berobat dengan ruqyah. Ini dilakukan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, disabdakan oleh beliau dan disetujui oleh beliau. Para ulama juga sepakat bolehnya berobat dengan ruqyah dengan tiga syarat:

Pertama, ruqyah harus dengan kalamullah (Al-Qur’an) atau dengan kalam Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan doa-doa yang disyariatkan.

Kedua, harus dengan bahasa Arab atau doa-doa dan dzikir yang dipahami maksudnya

Ketiga, peruqyah dan orang yang sakit meyakini bahwa ruqyah hanyalah sebab yang tidak bisa memberi pengaruh kecuali atas takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala

Caranya yaitu dengan membacakan ayat-ayat dan doa, serta meniupkannya kepada orang yang sakit. Baik ia meruqyah diri sendiri atau meruqyah orang lain… dilakukan kepada orang yang sakit secara langsung, atau dengan sedikit air yang diminumkan kepada orang yang sakit.”

Kedua:

Bagi kita, jin itu samar keadaannya. Ia termasuk bagian dari alam gaib. Jadi bagaimana seorang peruqyah bisa yakin bahwa jin yang ia hadirkan adalah jin penyebab sakitnya orang tersebut? Dari mana ia tahu jika orang sakit yang tidak ada di hadapannya itu sakit sebab diganggu jin bukan karena alasan lain?

Perbuatan seperti ini adalah perkara para dukun, wajib untuk dijauhi. Barangsiapa yang ingin meruqyah, maka baginya wajib melakukan ruqyah syar’iyyah sesuai sunnah Nabawiyyah.

Memasukkan jin pada orang normal sama dengan memberi bahaya, penyakit dan juga was-was pada dirinya. Maka ini menjadi hal yang menambah terlarangnya ruqyah dengan metode tersebut.

Adapun klaim bahwa kibarul ulama Saudi membolehkan hal tersebut, maka telah dibahas di atas fatwa kibarul ulama bahwa ruqyah syar’iyyah harus dilakukan secara langsung kepada orang yang sakit. Allahu a’lam. []

Sumber: muslim.or.id

Artikel Terkait :

loading...

Kamu Sedang Offline