Foto: Klikkabar.com

Bolehkah Wanita Mengantar Jenazah ke Kuburan?

Tak banyak orang yang tahu bahwa hukum wanita mengantar jenazah ke kuburan adalah makruh. Demikianlah pendapat jumhur ulama (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, II/108).

Alangkah lebih baik bagi wanita tidak ikut mengantar jenazah ke kuburan.

Dalilnya adalah sebuah hadis yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat wanita bernama Ummu Athiyah r.a.

BACA JUGA: Geger, Beredarnya Foto Jenazah Diduga Akan Dibuang ke Semak-Semak, Ini Faktanya!

Ummu Athiyah berkata, “Kami telah dilarang untuk mengikuti jenazah, tetapi tidak dikeraskan (larangan itu) atas kami.” (Muttafaq ‘alaih, Lihat Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, II/108).

Memang, hadis tersebut bukanlah perkataan Nabi shalallahu alaihi wa sallam, melainkan perkataan Ummu Athiyah.

Dalam redaksi hadis itu hanya dikatakan, “Kami telah dilarang mengikuti jenazah…” (Arab: Nuhiina ‘an ittiba’ al-janaazah…).

Tidak disebut di sini siapa fa’il (subjek) yang melarang perbuatan tersebut.

Dalam ilmu musthalah hadits, hadis dengan redaksi semacam ini, disebut atsar atau hadis mauquf, yaitu suatu perkataan, atau perbuatan atau persetujuan (taqrir) yang berasal dari seorang sahabat (Mahmud Ath-Thahhan, Taysir Musthalah Al-Hadits, hal. 130-131; Dr. Shubhi Ash-Shalih, ‘Ulum Al-Hadits wa Musthalahuhu, hal.11 & 208).

Namun demikian, ada di antara hadis mauquf yang dihukumi sebagai hadis marfu’, yakni maksudnya berasal dari Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam.

Hal itu jika terdapat indikasi-indikasi tertentu yang menunjukkan bahwa isi hadis bukanlah berasal dari ijtihad atau pendapat (ra`yu) sahabat, melainkan dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam.

Hadis semacam ini oleh para ulama disebut sebagai al-marfu’ hukman, yakni suatu hadis yang secara redaksional (lafzhan) adalah mauquf, tetapi secara hukum adalah hadits marfu’ (Mahmud Ath-Thahhan, Taysir Musthalah Al-Hadits, hal. 131).

Hadis Ummu Athiyah di atas termasuk hadis yang secara lafazh termasuk hadis mauquf, tetapi secara hukum termasuk hadis marfu’.

Jadi, meskipun redaksinya “Kami dilarang…” tetapi jumhur ulama ushul fikih dan muhadditsin mengatakan bahwa hadis tersebut adalah hadis marfu’.

Pasalnya, sudah jelas bahwa yang melarang dan memerintah, adalah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, bukan yang lain (Subulus Salam, II/108; Taysir Musthalah Al-Hadits, hal. 132). Karena itu, hadits Ummu ‘Athiyah ini dapat dijadikan hujjah (dalil).

Perkataan Ummu Athiyah, “…tetapi tidak dikeraskan (larangan itu) atas kami.” (Arab: wa lam yu’zam ‘alaynaa), menunjukkan hukum makruh, bukan haram.

Memang ada suatu larangan (nahi), atau tuntutan untuk meninggalkan perbuatan (thalab at-tarki), tetapi tuntutan itu bukanlah tuntutan yang bersifat tegas/pasti (laa ‘ala wajh al-hatm wa al-ilzaam) (Abdul Wahhab Khallaf, ‘Ilmu Ushul Al-Fiqh, hal. 114; Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Ushul Al-Fiqh Al-Islami, I/83).

Hal ini bisa diketahui karena terdapat qarinah (indikasi/petunjuk) dari hadis lain, yaitu hadis yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah berada di [dekat] jenazah.

Lalu Umar melihat seorang perempuan, lalu ia (Umar) berteriak kepada wanita itu.

Maka Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Biarkanlah dia, wahai Umar.” (Hadis ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa`i dan Ibnu Majah dari jalur lain, dan para perawinya adalah tsiqat) (Subulus Salam, II/108).

Hadis ini mengandung makna, bahwa perempuan itu dibolehkan Nabi shalallahu alaihi wa sallam untuk turut mengantar jenazah ke kubur.

Kalau sekiranya haram, niscaya tidak ada perempuan di dekat jenazah itu dan niscaya Nabi shalallahu alihi wa sallam tidak akan melarang Umar r.a. yang berteriak memperingatkan perempuan tersebut.

Kesimpulannya, hukumnya makruh bagi wanita untuk turut mengantarkan jenazah ke kubur.

Jadi, hal ini masih boleh dikerjakan wanita.

BACA JUGA: Jenazah Menari-nari, Pemandi Mayat Pingsan

Namun, kalau tidak mengantarkan, itulah yang lebih baik dan lebih utama baginya.

Wallahu alam bishawab. []

 

 

Sumber: KonsultasiIslam


Artikel Terkait :

About matiar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *