Foto: Angkasa

Bom Panci, Apa Itu?

Foto: Angkasa

INSPIRADATA. Densus 88 dikabarkan berhasil membongkar rencana terror yang menargetkan Istana Negara. Dalam sebuah penggerebekan di rumah kos di Bintara, Bekasi, Densus 88 menemukan “Bom Panci”. Bom Panci, apa itu?

Seperti dikutip dari Angkasa, bom panci pertama kali dikenal di Amerika. Dalam sebuah lomba lari maraton di Boston pada 15 April 2013, Tsarnaev bersaudara—imigran asal Checnya—meneror ajang olahraga itu menggunakan bom panci. Akibat insiden tersebut, 3 orang tewas sementara 264 lainnya terluka.

Kasus bom panci kedua, terjadi di Times Square pada 1 Mei 2010. Bom panci itu dipasang dan ditinggalkan di dalam mobil, namun gagal meledak.

Kasus bom panci terakhir, terjadi di Manhattan, New York, pada 17 September 2016 yang dilakukan oleh Ahmad Khan Rahami.

Masih menurut Angkasa, bom panci menjadi popular karena dua hal. Yang pertama adalah ketersediaan manual pembuatan bom panci yang pernah diunggah oleh Al Qaeda di dalam majalah propaganda “Inspire” yang beredar di kalangan pro garis keras dan tersedia secara online.

Alasan kedua, adalah bom panci dapat dibuat dengan bahan sederhana dengan efek yang sangat letal. Desain panci bertekanan, yang dirancang kedap udara, dapat meningkatkan efek ledakan ketika bagian dalamnya diisi dengan bahan peledak.

Ketika peledak dipantik, maka ada jeda dimana tekanan ledakan terkungkung sementara di dalam panci, dan ketika akhirnya mencapai titik kritis, maka tekanan ledakan yang tercipta jelas sangat besar.

Ketika di sekeliling panci diisi dengan material logam berukuran kecil seperti paku, mur, atau ball bearing, maka material tersebut saat didorong tekanan ledakan akan melesat dengan kecepatan sangat tinggi, seperti proyektil peluru. Dan panci bertekanan memiliki kapasitas besar, sehingga mampu menampung lebih banyak isian dibanding katakanlah, bom pipa/lontong yang selama ini populer.

Gelombang kejut yang dihasilkan dari ledakan bom panci mampu merambat dengan kecepatan 19.000 mil/jam atau setara 30.000 km/jam. Tidak berlebihan bila Polri menyatakan bahwa bom panci Bintara, dengan isian paku, mur, baut bisa melesat dengan kecepatan 4.000km/ jam.

Efek gelombang kejut bisa merusak organ dalam dan telinga korban yang berdiri di dekatnya, belum lagi trauma perlukaan akibat hantaman pecahan-pecahan logam tajam dan isiannya.

Dengan bentuk serpihan-serpihan logam, perlukaan yang ditimbulkan masif dan sukar bagi tim medis untuk melakukan pertolongan rekuperasi karena pecahan logam yang menancap terlalu dalam dan dalam jumlah banyak.

Bahkan tidak jarang, tindakan ekstrim seperti amputasi terpaksa dilakukan karena tingkat keparahan luka yang ditimbulkan. Demikian. []


Artikel Terkait :

About Susanti

Check Also

Rahasia Televisi, Bisa ‘Membius’ Otak

TV merupakan contoh yang sangat baik sekali bagaimana perangkat ini mempengaruhi pikiran Anda sebagai akibat pengaruh yang ditimbulkannya kepada otak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *