Bendera Inggris (foto: Pixabay)

Brexit, Bisa Timbulkan Resesi bagi Inggris

Dikutip dari CNN, Jumat (4/1/2019), Inggris akan meninggalkan Uni Eropa pada 29 Maret 2019. Keluar dari Uni Eropa tanpa ada kesepakatan akan mengakibatkan kekacauan, sementara mencapai kesepakatan akan meminimalisir dampak negatif pada perekonomian.

Karena itu keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa memicu kekhawatiran terbesar dalam perekonomian, yakni resesi.

Brexit dapat meyebabkan gangguan perdagangan yang disebabkan yang tidak berakhir mulus. Kekacauan perdagangan ini akan menjerumuskan Inggris ke dalam resesi. Hal ini diungkapkan oleh para ekonom UBS yang dipimpin Arend Kapteyn.

Sebaliknya, kesepakatan antara Inggris dengan Eropa akan menciptakan kepastian bagi dunia usaha.

BACA JUGA:Sampah dari Korsel, Rusia Hingga Indonesia ‘Terdampar’  di Pesisir Inggris

Perdana Menteri Theresa May telah menegosiasikan kesepakatan perpisahan dengan Uni Eropa, tetapi menghadapi proses panjang di parlemen. Anggota parlemen Inggris diharapkan untuk memberikan suara pada Januari 2019 ini.
Perusahaan – perusahaan di Inggris akan menghadapi bencana. Perusahaan perusahaan itu akan menghadapi hambatan perdagangan baru dan lingkungan hukum yang tidak pasti. Hal ini disebabkan karena Keluar dari Uni Eropa tanpa ada kesepakatan.

Perusahaan yang paling berisiko, seperti pabrikan mobil, akan memperoleh manfaat terbesar dari kesepakatan Inggris-Uni Eropa, menurut Pickering. Upah juga akan meningkat lebih cepat

BACA JUGA : Larangan Haji Warga Palestina Hoaks, Dubes Saudi: Berita Itu Buatan Israel dan Inggris

Kelompok lobi bisnis telah memperingatkan bahwa banyak perusahaan tidak siap menghadapi Brexit yang berantakan.

Biro riset Capital Economics memperkirakan bahwa Brexit yang tidak mulus akan menyebabkan ekonomi Inggris menyusut 0,2 persen pada 2019. Adapun nilai tukar poundsterling kemungkinan anjlok ke 1,12 dolar AS terhadap dollar AS, dari level saat ini 1,26 dollar AS.

Tingkat ketidakpastian yang tinggi berkontribusi terhadap perlambatan signifikan pada ekonomi Inggris pada paruh kedua tahun 2018. Sementara itu, belanja konsumen dan investasi bisnis juga terpukul sejak para pemilih memutuskan Inggris keluar dari Uni Eropa pada tahun 2016.

Kallum Pickering, ekonom senior di Berenberg menjelaskan bahwa: Sementara risiko jangka panjang terhadap potensi pertumbuhan Inggris dari Brexit tampak besar, prospek kesepakatan menyajikan potensi terbalik yang cukup besar bagi ekonomi Inggris dalam jangka menengah. [] Sumber: CNN


Artikel Terkait :

About Kesit Susilowati

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *