pelajar Sragen deklarasikan anti corat-coret pada saat kelulusan sekolah (foto: timlo.net)
pelajar Sragen deklarasikan anti corat-coret pada saat kelulusan sekolah (foto: timlo.net)

Cegah Tradisi Buruk Jelang Kelulusan, 30.108 Pelajar Sragen Deklarasi Anti Corat-Coret

pelajar Sragen deklarasikan anti corat-coret pada saat kelulusan sekolah (foto: timlo.net)
pelajar Sragen deklarasikan anti corat-coret pada saat kelulusan sekolah (foto: timlo.net)

INSPIRADATA. Ujian Nasionan (UN) tingkat SMP/SMA kini sudah di depan mata. Tentu UN menjadi salah satu penentu kelulusan siswa-siswi di sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Selain itu, pelaksanaan UN pasti selalu dikaitkan dengan kelulusan. Ada berbagai macam cara siswa dalam merayakan kelulusan mereka, dari syukuran hingga corat-coret seragam sekolah.

Seolah-olah aksi corat-coret seragam sekolah untuk merayakan kelulusan sudah menjadi sebuah tradisi, padahal hal itu tidak sesuai dengan norma dan aturan yang ada.

Untuk mencegah aksi corat-coret seragam sekolah, sebanyak 30.108 pelajar di Kabupaten Sragen mendeklarasikan Anti Anarkis, Anti Narkoba dan Anti corat-coret dalam merayakan kelulusan sekolah tahun ini.

Dilansir timlo. net, Rabu (29/3/2017), pelajar di Kabupaten Sragen yang mendeklarasikan hal itu berasal dari pelajar sekolah kelas terakhir untuk tingkat SMP dan SMA/SMK sederajat yang sebentar lagi bakal mengikuti Ujian Nasional (UN).

“Deklarasi ini kita laksanakan untuk mempersiapkan sekitar 30 ribu pelajar yang akan lulus sekolah tahun ini. Mulai tahun ini di Sragen ada tradisi baru, di mana tidak ada lagi aksi corat-coret dan konvoi kendaraan dalam merayakan kelulusan sekolah,” kata Kapolres Sragen AKBP Cahyo Widiarso, Rabu (29/3).

Di sela-sela acara deklarasi yang digelar di Gedung Olah Raga (GOR) Diponegoro Sragen, Kapolres menyampaikan, pihaknya memprakarsai deklarasi tersebut lantaran banyaknya pelajar yang melakukan aksi corat-coret saat merayakan kelulusan. Polres Sragen mengajak pihak sekolah untuk memulai tradisi baru, di mana untuk merayakan kelulusan harus diisi dengan kegiatan positif bersifat keagamaan.

“Kita arahkan guru dan kepala sekolah untuk merayakan kelulusan di sekolah dengan kegiatan keagmaan. Ini untuk mengajak anak-anak agar belajar mensyukuri kelulusan dengan kegiatan yang positif,” terang Kapolres.

Untuk menjaga komitmen hingga kelulusan nanti, pihaknya bakal melakukan langkah pencegahan secara preentif dan pengawasan di setiap sekolah. Sebelum hari “H” pengumuman kelulusan, polisi bakal melakukan pemeriksaan barang-barang yang dibawa setiap siswa.

Mereka tidak diperkenankan membawa spidol ataupun kendaraan bermotor, sehingga nantinya tidak akan terjadi aksi corat-coret dan konvoi seperti yang selama ini dilakukan pelajar. Dia berharap aksi deklarasi anti anarkis ini bisa menjadi contoh untuk kabupaten/kota lain di Jawa Tengah, bahkan secara nasional.

“Mudah-mudahan dengan kegiatan ini bisa menjadi contoh bagi sekolah lain yang ada di Jawa Tengah atau di Indonesia,” ujar AKBP Cahyo Widiarso. []


Artikel Terkait :

About Irah Wati

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *