Cerdas Menurut Islam?

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika berbicara tentang cerdas? Hampir semua mengutarakan akan keberhasilan seseorang dalam hal kebijakan dalam keputusan (manajemen) dan kognitif (nilai angka).

Ya, memang seperti itu adanya, hanya saja menurut Islam cerdas memiliki arti luas, tak hanya masalah dunia tetapi juga menyangkut akhirat. Bahkan keseimbangan antara keduanya menjadi faktor yang menjadikan suatu kecerdasan.

Dalam surah Az Zumar ayat 42, Allah SWT berfirman yang artinya,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Az Zumar : 42)

Ayat di atas menerangkan tentang kematian. Lalu, Apa hubungannya dengan kecerdasan?

Cerdas dalam Islam ada kaitannya dengan akhirat, yakni kematian.

Islam mencirikan orang yang cerdas adalah orang yang tak hanya mengingat dunia, tetapi orang yang lebih sering mengingat kematian. Sebab orang berakal tahu bahwa ada yang harus dipersiapkan untuk kematian bil saatnya tiba.

Dikisahkan dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma, beliau berkata,

“Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ “(HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy : 419).

Jadi, atas dasar dalil di atas bahwa seberapa banyak dan besar seseorang memiliki nilai akademik, harta yang sebaik-baiknya dan apapun dalam keduniaan yang berdasar dari kecerdasannya, apabila ia tak mengingat kematian sedikitpun apalah jadinya?

Sumber: Okezone


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *