Cermin Sang Sufi, Pelukis Timur, dan Raja Adil Bijaksana

INSPIRADATA. Hati yang bersih, akan memancarkan sinar dan cahaya keagungan kepada sekitarnya. Ibarat cermin yang dapat memantulkan cahaya, bebas dari cacat dan noda sedikit pun.

Suatu hari, sang raja arif, adil, dan bijaksana di negeri makmur mengadakan sayembara seni dan keindahan. Sesiapa yang dapat membuat karya yang paling indah, ialah pemenang yang berhak menjadi menantunya.

Setelah sekian hari tak ada yang mendaftar di sayembara tersebut, datanglah dua orang dari penjuru timur dan Tenggara. Sang seniman terkenal dari Timur dan sufi sederhana Tenggara.

Lomba pun dipersiapkan, para pengawal raja menyiapkan arena perlombaan semacam kamar atau aula yang diberi sekat (bagi dua) antara peserta satu dan lainnya.

Sang peserta dari timur telah mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum perjalanannya menuju sang raja untuk berkarya, membuat lukisan yang indah dan tiada tara. Pintanya kepada pengawal serta panitia perlombaan,

“Siapkan untukku peralatan lukis yang baik dan super lengkap di kerajaan ini, untuk karya ku ini nanti,” congkaknya sambil tinggi hati.

Si peserta dari tenggara, dengan tenangnya sambil mengusap-ngusap kuda yang sedang terengah-engah di depan pengawal hanya mengatakan, “Tolong siapkan saja untukku cermin, lap bersih, dan sedikit cairan pembersih,” ucapnya sambil senyum dan tak nampak ketinggian dari tingkahnya.

“Baik tuan-tuan, silakan tunggu dan makan-makanlah hidangan yang telah kami siapkan,” ucap salah satu panitia.

“Tuan dari Tenggara, apakah ada barang lain yang perlu kubawa untuk mu?” sambung yang lain.

“Tak usah itu saja cukup,” kata peserta tenggara.

Hari berganti hari, tak terasa waktu untuk menyelesaikan karya telah selesai.

Betapa menakjubkannya karya seniman timur, dengan teknik dan gradasi warna menarik, menggambarkan sang raja yang arif dan bijaksana tampak di gambar tersebut.

Sufi dari tenggara hanya mengelap saja cerminnya, memang di samping itu, sang sufi Tenggara hanya berdiam diri dan termenung di kamar peserta sambil membaca lantunan dzikir bernada agamis saja.

Sang raja pun melihat-lihat hasil karya, dan tersingkaplah tirai kamar untuk memperlihatkan karya mereka berdua.

Lukisan indah menawan dari timur, dan selembar cermin sang sufi.

“Lihatlah raja lukisan ku!,” teriak seniman Timur, “Dan lihatlah karya petapa itu di samping sana!” tunjuknya kepada sufi dari Tenggara.

Anehnya sang raja takjub kepada karya sufi dari tenggara, di sambut dengan senyuman dan kebersihan ruang karya sufi.

Dan yang pasti, hasil kerja sang sufi, ya… cerminnya yang menampakkan kilauan hasil pantulan wajah raja tanpa noda dan cahaya tanpa cacat memperlihatkan sang raja.

“Ku tak akan berkata banyak kepadamu, hai raja. Memang kau hamba negara yang bijaksana, kearifan mu bukan hanya pada lukisan, tapi teladanmu yang terpancar ini,” kata sufi.

Sebenarnya memang keindahan hatilah yang raja cari dari para pesaing, bukan yang ini dan itu. Andai semuanya tahu, renungan sebelum bertindak, tenang, dan kebersihan hati sang sufi menjadikannya pemenang sayembara.

Tapi apa hal yang sufi itu lakukan? Ia pergi dan hanya memberikan tanggapan akan kepemimpinan sang raja.

“Lanjutkan dan ajarkanlah kepada cucumu kelak kepemimpinanmu di negeri yang makmur ini, rakyat amat membutuhkan kalian!” Gumam sufi itu kepada raja, sambil pamit menuju rantauannya derajat kesucian. []


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *